Hak Asasi Karakter yang Terzolimi

17 2 2
                                        

Jam dinding menunjukkan pukul 06.48 WIB.

Tinggal dua belas menit lagi sebelum gerbang sekolah ditutup menggunakan gembok kapal legendaris milik Pak Satpam.

Kiran baru saja selesai memasang dasi SMP-nya yang kusutnya sudah mencapai level "habis dikunyah sapi". Dia baru mau mengambil tas ketika tiba-tiba berhenti.

Matanya mendelik ke atas.
Menatap kosong ke arah langit-langit kamar.

Atau lebih tepatnya...

...menatap ke arah baris kalimat yang baru saja Anda baca.

"EH, BENTAR! BENTAR! KAGAK BISA GINI!"

Kiran tiba-tiba menunjuk ke arah layar.

"Heh, Penulis! Sini lo maju kalau berani! Maksud lo apa nulis di prolog kalau muka gue penuh peta iler benua Afrika?! Nama gue Kiran! Pangeran kelas 8-B! Masa first impression gue di depan pembaca sejorok itu?! Hak asasi karakter fiksi gue mana, bro?!"

(Maaf Ran, kan biar komedi...)

"Komedi bapak lo botak!"

Kiran makin emosi.

"Terus ini apa lagi?! Kenapa lo tulis jarak rumah gue ke sekolah dua puluh menit, sementara waktu yang tersisa cuma dua belas menit?! Lo mau bikin gue dijemur di lapangan sambil hormat tiang bendera lagi?! Gue capek ya! Minggu lalu daster emak gue juga lo ilangin!"

(Lah itu kan novel lain, Ran. Salah server.)

"Bodo amat! Pokoknya gue protes! Minimal kasih gue kekuatan isekai kek! Mana ada tokoh utama level IShowSpeed masih jalan kaki?! Kasih gue mobil sport, jet pribadi, naga terbang, atau apapun!"

(Gak ada anggaran. Adanya cuma modal dengkul.)

Kiran terdiam, lalu meludahi lantai kamarnya.

Untungnya, ludah tersebut langsung dihapus oleh sistem editing teks.

"Sialan..."

Dia menatap jam tangan plastik hadiah dari chiki.

06.51 WIB.

Sembilan menit tersisa. Ia menarik napas panjang.

"Baiklah. Kalau begitu...
...gue terpaksa menggunakan metode terlarang."

Misi: Menembus Batas Ruang dan Waktu Ala Konoha

Kiran berdiri di depan pintu rumah. Dia memasang kuda-kuda. Badan dibungkukkan empat puluh lima derajat ke depan. Kedua tangan ditarik lurus ke belakang. Telapak tangan menghadap ke atas.

Ya.
Ini adalah...

Naruto Run Form.

Namun karena di dalam otaknya tertanam cip IShowSpeed generasi ketiga, jurus ini tentu membutuhkan sedikit modifikasi.

"Statistik Agility gue saat ini minus sepuluh," gumam Kiran dengan tatapan penuh api perjuangan.

"Tapi kalau gue gabungkan kecepatan ninja pelarian Konoha dengan kekuatan vokal sang mega bintang dunia..."

Kiran menarik napas sedalam-dalamnya.

"SUIIIIIII!!! LET'S GOOO!! WOOF! WOOF!"

BZZZZRRRRRSTTT!!

Kiran melesat keluar pagar rumah seperti peluru nyasar.

Kakinya berputar cepat menyerupai baling-baling bambu Doraemon yang korslet.

Sepanjang gang rumah, dia berlari dengan posisi tangan di belakang sambil menggonggong tanpa henti.

"MINGGIR WOI NETIZEN! GUE LAGI LIVE STREAMING DIKEJAR WAKTU!"

Tukang sayur yang dilewatinya langsung beristigfar tiga kali.

Hukum fisika dunia parodi pun mulai bekerja.

Angin berputar di sekitar tubuh Kiran. Garis-garis putih khas anime Shonen Jump bermunculan di belakangnya. Kecepatan meningkat tiga ratus persen.

"Lihat tuh, Penulis!" teriak Kiran sambil menunjuk langit. "Tanpa bantuan plot murahan lo, gue bisa bikin speed buff sendiri!"

Sayangnya...
Namanya juga Kiran.
Kadang beruntung. Kadang sial.

Dia beruntung karena kombinasi Naruto Run dan Barking Engine itu berhasil membawanya sampai di depan gerbang sekolah tepat pukul...

06.59 WIB.

Gerbang masih terbuka. Lebarnya bahkan masih sekitar dua jari.

"YESSS!! AKU ADALAH SIGMA! AKU ADALAH SPEED!"

Namun Kiran lupa satu hal penting.

Saat sedang pidato kemenangan ke langit, dia tidak melihat genangan air bekas hujan semalam yang berada tepat di depan gerbang sekolah.

Dan lebih sial lagi...
Di sebelah genangan itu berdiri Pak Jaka.

Kepala sekolah paling galak se-kecamatan. Berdiri gagah sambil memegang HT.

SLIIIIIPPPPP-BRAAAAKKKK!!

Kiran terpeleset. Tubuhnya meluncur mulus di atas aspal basah seperti penguin masuk freezer.

Dia meluncur menembus celah gerbang yang sempit...
dan berhasil mendarat dengan sempurna...
tepat di antara kedua kaki Pak Jaka.

Hening.

Suasana sekolah mendadak sunyi. Yang terdengar hanya suara HT milik Pak Jaka.

"Krosok... krosok..."

"Monitor, ada bocah jamet nyungsep di gerbang."

"Ganti."

Kiran perlahan mendongak. Pak Jaka menatapnya dari atas. Kumisnya sudah mulai berkedut menahan amarah.

Kiran menelan ludah.

Ia menoleh ke arah para pembaca. Mukanya berubah memelas.

"Bro... Author... tolong revisi ending gue. Gue gak mau mati di Bab 1."

JANGAN DI BACA... SERIUS INI BUKAN NOVEL, TAR KALIAN KECEWAStories to obsess over. Discover now