We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

bab 1 TSTL

1.3K 158 9
                                        

Happy reading~

.

.

.

Malam baru saja dimulai. Jam menunjukkan pukul tujuh tepat ketika udara dingin perlahan memenuhi setiap sudut asrama. Suasana masih cukup ramai, sesekali terdengar suara tawa para penghuni dari balik pintu kamar.

Namun terdapat satu kamar yang tampak sunyi, sedikit gelap dan dingin. Di dalam kamar itu ada seorang gadis yang tengah duduk di ujung kasur dengan tangan yang memegang selembar foto seorang perempuan.

"Eum... Ini foto orang yang mau sekamar sama gue?" Gumamnya pelan sambil memerhatikan foto perempuan itu. Wajahnya datar, tak ada senyum bahkan matanya seperti orang yang mengantuk.

"Menarik juga.. dia tinggi, mata ngantuk, sama gigi gingsul.." gumam nya lagi, namun kali ini ujung bibirnya naik sedikit.

"...idaman"

tak lama saat gadis itu sedang mengelus wajah orang di foto itu tiba-tiba pintu di ketuk dengan kencang.

Tok! Tok! Tok!

Gadis itu menoleh cepat, ia langsung berdiri dan menyembunyikan foto tadi di bawah bantal. Ia berjalan membuka pintu, saat pintu terbuka memperlihatkan seorang gadis yang menggunakan almet dan tas yang tergantung di bahu nya.

"Lo Catherine, kan?" Tanya perempuan itu, suaranya datar dan dingin. Catherine mengangguk pelan, lalu membuka lebar pintu kamar agar perempuan itu bisa masuk. Perempuan itu masuk dengan langkah tegap dan sopan. Catherine menutup pintu pelan lalu menoleh ke arah perempuan jakung itu.

"Nama lo siapa?" Tanya Catherine sambil berjalan mendekat ke arah perempuan itu dengan langkah yang percaya diri. Perempuan itu menoleh dan sedikit menunduk agar bisa melihat Catherine, ia menatap mata Catherine dalam.

"Zioline." Jawab Zioline singkat. Sangat singkat. Setelahnya ia pergi melangkah menuju kasur yang berada tepat di samping kasur Catherine.
Catherine mengangguk dengan ujung bibir yang terangkat sedikit.

"Fakulitas apa? Keliatan misterius banget.." Tanya Catherine lagi dan lagi. Kali ini gadis bermata kucing itu mendekat ke arah oline dengan langkah santai. Zioline menoleh dan menghembuskan napas nya malas sambil menaruh tas besarnya itu di samping kasur.

"Psikologi kriminal." Zioline menjawab dengan suara pelan, lalu mendudukkan badannya di tepi kasur. Catherine melihat itu, namun rasa canggung dan sunyi kini menyelimuti diri mereka berdua.

"Pantes.. emang sesibuk itu? Btw udah makan?" Tanya Catherine membuka pembicaraan, Zioline menggeleng lalu meraih tasnya yang tadi ia simpan di samping kasur dan membuka tas itu pelan. Tas terbuka, tangan oline masuk kedalamnya mencoba mengambil sesuatu.

"Lo mau ngapain?" Ujar Catherine sedikit penasaran apa yang di ambil oleh Zioline di dalam tas. Zioline menarik tangannya keluar yang memegang dua botol minuman teh. Dahi Catherine mengkerut melihat dua botol teh dingin yang di keluarkan Zioline.

"Teh? Lo bawa teh?"

Zioline menggeleng, lalu melempar satu botol teh itu pada gadis yang cerewet. Catherine spontan mengambil botol teh yang di lempar, "buat lo." Celetuk Zioline singkat. Catherine semakin bingung, namun karena tenggorokan nya yang terasa kering, Catherine membuka tutup botol itu dan meneguk teh didalam nya hingga tersisa setengah.

"Enak juga, makasih ya, Zioline" ucapnya dengan senyuman manis yang menunjukan satu lesung pipi. Zioline terdiam namun ada rasa yang aneh di dada nya, pikiran, dan caranya memandang Catherine setelah anak itu tersenyum.

The Smile That Lied.Stories to obsess over. Discover now