Prolog

143 38 7
                                        

Kaki-kaki kecilnya terus berlari menembus dinginnya air hujan yang turun malam itu, ia mengabaikan rasa sakit yang mulai menjalar pada kedua kakinya akibat berlari tanpa mengenakan alas.

Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat kedua telinganya menangkap sebuah teriakan yang terdengar tidak jauh dibelakangnya, dan itu tidak berasal dari satu orang, mungkin dua atau tiga orang.

Perasaan takut dan cemas bercampur menjadi satu, entah kesalahan apa yang sudah ia perbuat beberapa hari belakangan ini, sampai Tuhan memberikan hukuman seberat ini padanya.

Ingatannya kemudian berputar pada kejadian dua hari yang lalu, dimana saat anjing milik tetangganya, tidak sengaja menyenggol pot bunga mawar milik Ibunya, yang menyebabkan pot bunga berwarna coklat tua itu pecah menjadi beberapa bagian.

Karena kesal, bocah perempuan yang masih berusia tujuh tahun itu pun memarahi anjing tersebut. Tapi, apakah Tuhan benar-benar semarah itu sampai mengambil apa yang selama ini ia miliki?

Jika memang benar begitu, kenapa Tuhan tidak memberitahunya terlebih dulu jika ia akan mengambil semua sumber kebahagiannya, bukan kah hal itu termasuk dalam kategori kejahatan juga?

Langkah kakinya terhenti saat ia tidak lagi melihat jalan untuk pelariannya. Tepat lima langkah didepan adalah sebuah jurang yang menganga lebar, seolah siap menelannya jika saja salah melangkah.

Tubuhnya bergetar hebat akibat terus menerus diterpa air hujan dan dinginnya angin malam, bibir yang biasa berwarna seperti buah cherry itu pun kini terlihat membiru.

Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap menemukan petunjuk jalan mana yang harus ia tempuh. Namun sayang, ia tidak menemukan petunjuk apapun, sekelilingnya hanya ada pepohonan yang menjulang tinggi dan semak belukar.

"Tuhan! Apa yang harus aku lakukan?" Tanyanya dalam hati.

Meskipun ia tahu jika Tuhan tengah marah padanya, tetapi ia tidak salah bukan? Jika ia masih berharap bantuan dari penciptanya? Karena jika ia harus kembali berlari, ia sudah tidak sanggup, kedua kakinya mati rasa karena terus berlari tanpa henti.

"Sepertinya kau tidak bisa berlari lagi, heh? Haruno Sakura?" Tanya seseorang yang membuat bocah bernama Sakura itu langsung membalikkan tubuhnya dan menatap seorang pria yang kini berdiri tiga meter didepannya.

Pria itu tidak hanya sendiri, ia bersama dengan dua teman lainnya. Mereka bertiga sama-sama mengenakan pakaian serba hitam, bahkan topi yang mereka kenakan pun berwana hitam.

"Aku sudah memperingatkanmu, tidak ada gunanya kau berlari. Karena pada akhirnya kau hanya akan menemukan jalan buntu," ucap pria itu lagi.

"Ayah dan Ibumu mungkin saat ini sudah berada di surga, apakah kau tidak ingin bertemu dengan mereka?" Tanyanya.

Sakura masih ingat betul bagaimana mereka bertiga yang tiba-tiba saja masuk kedalam rumahnya, dan berteriak tidak jelas kepada kedua orang tuanya.

Mereka terlibat pertengkaran, dan Sakura tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Sampai akhirnya Sakura melihat salah seorang dari mereka mengeluarkan senjata tajam dan menusuk dada Ayahnya sebanyak lima kali, sampai tubuh Ayahnya merosot jatuh dengan darah membasahi seluruh baju tidurnya.

Sakura yang melihat hal itu hanya bisa terdiam, otaknya seperti berhenti bekerja, ia tidak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Sampai teriakan histeris Ibunya berhasil menyadarkan Sakura kembali ke dunia nyata.

Setelah itu, semuanya terasa sangat tidak nyata bagi Sakura, Ibunya berteriak padanya untuk pergi meninggalkan rumah. Dan respon pertama yang Sakura berikan tentu saja menolak perintah Ibunya, ia tidak akan pergi kemanapun tanpa ditemani wanita yang melahirkannya.

Namun, sepertinya wanita itu tidak menyukai penolakan yang Sakura berikan, karena setelahnya ia terus berteriak dan memohon agar Sakura pergi dari rumah itu.

Seperti ada dorongan yang entah berasal darimana, kedua kaki Sakura tiba-tiba saja berlari meninggalkan rumah. Padahal, Sakura tidak pernah sekali pun keluar rumah tanpa ditemani kedua orang tuanya, apalagi di malam hari.

Baru beberapa langkah Sakura meninggalkan kediamannya, tiba-tiba saja kedua telinganya mendengar suara tembakan sebanyak tiga kali yang diiringi oleh suara teriakan dari Ibunya.

Dan darisana Sakura tahu, jika malam itu adalah malam terakhir ia bersama dengan kedua orangtuanya.

"Jadi...," gantung pria itu yang kini mulai melangkah mendekati Sakura, dengan salah satu tangannya mengeluarkan sebuah pisau lipat dari kantung celananya.

Sakura yang melihat hal itu pun dengan refleks melangkah mundur. Tubuhnya bergetar semakin hebat karena menahan hawa dingin juga rasa takut yang kian memuncak.

"Ini akan terasa menyakitkan, tapi aku pastikan itu tidak akan berlangsung lama. Dam setelah itu, kau bisa kembali bersama dengan kedua orangtuamu," ucap pria itu lagi yang terus melangkah maju mendekati Sakura dengan gerakkan pelan.

"Kau terlalu lama! Cepat bunuh dia! Tubuhku hampir membeku!" Ucap salah satu pria yang ada dibelakangnya.

"Tenanglah, ini akan sangat menyenangkan," ucapnya menyeringai saat Sakura berhenti melangkah.

"Kau tidak akan bisa pergi kemana pun, Sakura," ucapnya lagi.

"Mati kau!!"













Holla...

Aku balik lagi nichhhhhhh 💃🏻💃🏻💃🏻💃🏻
Temanya masih sama yach kek kemaren, tapi yang ini aku bakal bikin lebih serem dikit 🫢 tapi gak papahkan???? Dan aku bakal usahain untuk seminggu 2-3 kali apdet okeh 👌🏻

Jadi buat yang penasaran tungguin kelanjutannya yaaaaa 😘😘😘

Buat pembukaan sengaja dibikin pendek dulu, soalnya masih prolog 🤣

Okeh see you di chapter 1 readers 😘😘😘

GrenadeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang