PROLOG; Hujan Dan Kenangan.

7 3 1
                                        

Rintik hujan yang semula kecil kini berubah menjadi hujan deras.

Untungnya, hari ini aku tidak lupa membawa payung untuk melindungi tubuhku dari dingin yang mengguyur kota. Tidak seperti di tahun itu.

Aku mengulurkan tangan kananku, membiarkan butiran hujan jatuh di telapak tanganku sambil menunggu bus datang. Angin berembus semakin dingin, membuatku tanpa sadar merapatkan jaket yang kupakai.

Setelah turun dari bus, aku berjalan kaki menuju rumah. Sesampainya di sana, hal pertama yang kulakukan adalah membuat secangkir hot chocolate-minuman favoritku setiap kali hujan datang.

Cangkir hangat itu kubawa ke lantai dua, menuju kamar. Aku duduk di depan pintu kaca yang menghadap ke balkon, memandangi hujan yang terus turun membasahi malam yang terasa begitu sunyi.

Hujan selalu punya cara untuk mengembalikan kenangan. Kenangan yang sudah berkali-kali kucoba kubuang.

Namaku Naya Isabelle.

Aku lahir di Jakarta pada tanggal 3 Januari. Sekarang aku tinggal di Bogor. Namun malam ini, rasanya pikiranku tertinggal di kota yang pernah menjadi rumah bagi banyak cerita.

Jakarta.

Malam ini, bulan Juni 2026.

Di pangkuanku ada sebuah laptop yang menyala. Kursor berkedip di layar kosong, seolah menungguku memulai sesuatu yang selama bertahun-tahun sengaja kuhindari.

Aku ingin menulis. Bukan tentang hujan. Bukan tentang kota. Dan mungkin... bukan hanya tentang cinta.

Karena kalau dipikir-pikir, luka paling dalam yang pernah kuterima bukan datang dari seseorang yang kucintai. Melainkan dari seseorang yang pernah kupanggil sahabat.

Lucu, ya.

Dulu aku percaya persahabatan akan bertahan lebih lama daripada cinta. Ternyata aku salah. Aku kehilangan keduanya.

Sebenarnya aku sempat ragu untuk membuka kembali semua kenangan itu. Sudah lama aku berhenti menuliskan nama-nama mereka. Sudah lama juga aku berhenti menuliskan nama dia. Berhenti mengingat hari-hari yang dulu terasa begitu berarti.

Namun malam ini... Aku ingin menceritakan semuanya. Tentang persahabatan yang perlahan retak. Tentang kepercayaan yang hilang. Tentang seseorang yang datang tanpa sengaja, lalu mengubah begitu banyak hal.

Tidak semua akan kuceritakan secara utuh. Beberapa nama dan kejadian akan kusamarkan. Bukan untuk menyembunyikan kebenaran. Melainkan karena tidak semua orang ingin masa lalunya kembali dibuka.

Dan tidak semua luka harus diperlihatkan agar terasa nyata.

Aku hanya berharap... Setelah cerita ini selesai kutulis, aku akhirnya benar-benar bisa mengucapkan selamat tinggal kepada masa lalu.

Karena semuanya... Berawal dari satu musim hujan di Jakarta.

🍀☘️🍀

Bersambung...

We Were Almost UsStories to obsess over. Discover now