We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prolog

12 3 0
                                        

"Lampu tidak memiliki suara, Detektif. Tapi jika kamu terus melihat berkas kasus di kegelapan seperti itu, aku bersumpah otakmu yang akan meledak duluan."

Jiangcheng adalah kota yang dibangun di atas ilusi cahaya neon dan kabut hujan yang abadi. Di lantai teratas gedung kepolisian, ruangan Kepala Detektif Altair selalu menyerupai malam yang sunyi-gelap, dingin, dan tertutup rapat dari bisingnya dunia luar. Altair adalah malam itu sendiri; dia bergerak dalam bayangan, membaca apa yang dilewatkan orang lain, dan mengunci emosinya di balik tatapan mata yang sekeras es.

Namun, malam yang sempurna selalu memiliki batasnya.

Ketika pintu ruangan itu digebrak terbuka tanpa mengetuk, dan lampu LED putih yang menyilaukan dinyalakan dalam satu sentikan sakelar, simfoni itu dimulai. Lucian masuk dengan langkah sepatu boot yang sengaja dihentakkan keras, bersiul mengikuti lagu pop yang berputar di headphone-nya, sambil menjinjing kotak otopsi dan segelas kopi panas.

Di bawah pendaran lampu yang kini terang benderang, berdirilah dua poros utama yang menahan kewarasan distrik terkutuk ini.

Altair Vance-sang Elang Pemburu yang namanya diambil dari bintang paling terang di rasi Aquila. Sesuai namanya, ia dirancang untuk mengawasi dari ketinggian, membedah konspirasi dengan ketajaman instingnya yang tak kenal ampun. Karakter Altair adalah perwujudan dari ketegasan, kesunyian, dan kedisiplinan mutlak. Dia adalah manifestasi dari malam Jiangcheng yang dingin; tidak tersentuh, tidak terbaca, dan selalu menyembunyikan badai di balik ketenangannya.

Sebaliknya, sang pengganggu kesunyian adalah Lucian Avery. Nama 'Lucian' yang berarti sang pembawa cahaya, berpadu sempurna dengan 'Avery' sang penasihat peri yang penuh dengan kecerdikan tak terduga. Sifat Lucian adalah antitesis dari Altair. Ia adalah dokter forensik jenius yang berisik, teatrikal, gemar melontarkan omong kosong sarkas, dan menolak tunduk pada formalitas kepolisian. Lucian adalah kilatan cahaya neon yang menolak padam di tengah keputusasaan kota; ia bising, ia hidup, dan ia membawa kehangatan yang asing bagi sang detektif.

Arti nama mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah guratan takdir. Ketika kesunyian Altair yang pekat bertemu dengan keberisikan cahaya milik Lucian, mereka tidak saling berbenturan, melainkan melebur. Nama dan eksistensi mereka jika digabungkan membentuk sebuah simfoni indah tentang ikatan yang mereka jalin-sebuah harmoni di mana cahaya tidak akan membiarkan malam menjadi terlalu sunyi, dan malam akan selalu menjadi tempat teraman bagi cahaya untuk bersinar tanpa takut meredup.

Bagi dunia, mereka adalah dua tombak terbaik kepolisian: sang elang pemburu dan sang ilmuwan forensik jenius. Namun bagi satu sama lain, mereka adalah harmoni yang tak terduga. Di tempat di mana sains terlarang mengaburkan batas antara manusia dan mesin, kegelapan malam yang sunyi milik Altair akhirnya menemukan melodi penuntunnya dalam keberisikan cahaya milik Lucian.

Kasus telah dimulai, dan simfoni tengah malam baru saja memainkan nada pertamanya.

The Symphony of MidnightStories to obsess over. Discover now