We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

CHAPTER 1

17 4 1
                                        

Hujan turun sejak satu jam yang lalu.

Jalanan kota yang biasanya ramai kini mulai lengang, hanya beberapa kendaraan yang masih terlihat melintas di tengah guyuran air. Seorang gadis berusia dua puluh satu tahun baru saja tiba di sebuah hotel di pusat kota setelah menempuh perjalanan hampir lima jam. Rasa lelah jelas terlihat dari wajahnya. Bahunya pegal, kepalanya sedikit pening, ditambah hujan yang membuat tubuhnya semakin ingin segera beristirahat.

Ia menyeret koper berwarna hitam menyusuri koridor lantai tujuh sambil sesekali melihat nomor kamar yang berjajar di sepanjang dinding. Langkahnya pelan, tidak terburu-buru. Lagipula sudah hampir pukul sepuluh malam. Rasanya tidak ada lagi yang perlu dikejar selain kasur empuk dan selimut hangat.

"1708..."

Gadis itu berhenti di depan sebuah pintu.

Setelah memastikan nomor kamarnya sudah benar, ia mengeluarkan kartu akses dari dalam dompet, lalu menempelkannya pada mesin pemindai. Bunyi pelan terdengar beberapa detik kemudian sebelum pintu akhirnya terbuka.

Ukuran kamar itu tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman untuk ditempati semalam. Ia langsung meletakkan koper di dekat lemari, melepas hoodie yang sejak tadi membuat tubuhnya gerah, lalu berjalan menuju jendela. Hujan di luar masih belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Lampu-lampu gedung yang terlihat dari kejauhan tampak sedikit buram karena tertutup butiran air yang menempel di kaca.

"Semoga besok ga hujan."

Gumamnya pelan sebelum menutup kembali gorden.

Perutnya mulai terasa lapar. Ia mengambil ponsel dari dalam tas, memesan makanan melalui aplikasi, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Air hangat yang membasahi tubuhnya sedikit banyak berhasil menghilangkan rasa pegal setelah duduk terlalu lama di dalam mobil.

Sekitar dua puluh menit kemudian, suara bel kamar terdengar.

Pesanan makanannya akhirnya datang.

Ia mengucapkan terima kasih kepada petugas hotel, lalu membawa kantong kertas itu masuk. Aroma ayam goreng langsung memenuhi ruangan begitu bungkusnya dibuka. Tanpa pikir panjang, ia segera mulai makan. Tidak butuh waktu lama sampai semua makanan di depannya habis tanpa sisa.

"Akhirnya..."

Perut kenyang.

Badan bersih.

Kasur empuk.

Kurang nikmat apa lagi hidup malam ini?

Ia merebahkan tubuhnya perlahan sambil menarik selimut hingga sebatas dada.

Matanya baru saja terpejam ketika suara petikan gitar terdengar dari balik dinding sebelah.

Jreng...

Ia membuka sebelah matanya.

Masih diam.

Mungkin cuma satu lagu.

Lagian hotel juga bukan tempat yang selalu sepi.

Petikan gitar itu kembali terdengar.

Kali ini disusul beberapa nada lain yang dimainkan tanpa jeda.

Gadis itu menghela napas pelan. Ia masih mencoba berpikir positif. Mungkin orang di sebelah hanya sedang berlatih satu lagu sebelum akhirnya berhenti.

Lima menit berlalu, petikan gitar itu masih terdengar dari balik dinding. Ia kembali mencoba memejamkan mata, tapi sia-sia. Bahkan setelah hampir sepuluh menit, orang di sebelah sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Ia bangun dari tempat tidur, mengambil earphone dari dalam tas, lalu memasangnya sambil memutar playlist favoritnya. Volume ponsel bahkan hampir penuh. Sayangnya petikan gitar itu masih tetap terdengar, walaupun sedikit tertutup oleh musik yang sedang diputar.

Things I Never SaidStories to obsess over. Discover now