Malam hari yang dingin itu menjadi sarana waktu dan suasana yang mendukung Keira Mahira untuk bermimpi buruk. Perempuan itu tak diberi kesempatan untuk menikmati istirahatnya yang tenang hingga esok hari. Tubuhnya terus bergetar akibat angin yang tak memberinya ampun terus menghunus kulitnya.
Elora Mahesa, sang teman terus mengintai di mimpinya. Dengan ekspresi yang sulit diartikan. Perempuan itu tersenyum sinis, kemudian menangis. Ketika Keira menghampirinya, perempuan itu justru membanting tubuh Keira hingga tersungkur di lantai dan mencekiknya begitu kencang. Keira merasakan sakit itu bahkan di dunia nyatanya. Lehernya sakit luar biasa, Keira tak mampu bernapas dengan lega. Cairan dingin terus bercucuran melalui lubang kecil tiap bagian kulitnya. Kakinya terus meronta-ronta, berharap dapat mendapatkan kelonggaran dari Elora.
Perempuan itu tersenyum sinis dengan matanya yang membelalak tajam ke arah Keira. "Selamat tinggal, Keira. Kita nggak akan bertemu lagi."
Cairan bening mulai membasahi Keira. Ia dapat merasakan bahwa dunianya saat ini hanyalah sebuah mimpi. Namun mengapa terasa begitu nyata? Keira tak dapat bangkit dari tidurnya.
"E-El, lo kenapa? Lepasin gue. Gue mohon," lirih Keira.
"Gue juga nggak dilepasin, Kei." Elora menangis, senyum sinisnya menghilang. Tenaganya mengendur. Namun keira masih belum bisa terlepas dari cekikannya. Keira mencoba melihat ke arah sekitar dengan ekor matanya. Berharap ia menemukan ponsel yang dapat menolongnya saat ini. Ia akan menelepon nomor darurat. Ada yang tidak biasa dari temannya.
Keira menemukan benda itu, namun sangat jauh dari jangkauannya. Benda itu berada jauh dari sisi kanannya. Di sela napasnya yang sedikit lebih lega dari sebelumnya, Keira mencoba mengaturnya sejenak. Perlahan ia menggiring Elora menuju ke kanan. Keira menggerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit dengan dorongan kakinya.
"AARGH! Rasain itu!"
DUG!
Keira merintih kesakitan. Temannya itu baru saja menghentakkan kepalanya ke permukaan lantai.
"Lo mau ngapain Keira? Telfon siapa? Sini gue telfonin."
Perempuan itu melangkahkan kakinya untuk mengambil ponsel yang menjadi tujuan Keira. Perempuan itu menelepon ambulans.
"Halo? Tolong saya. Teman saya kesulitan bernapas, kepalanya berdarah."
"E-El. Lo kenapa?" tanya Keira lirih. Tenaganya sangat terkuras akibat benturan keras di kepalanya.
"Nggak kenapa-napa. Kita tunggu ambulans ya sayang," ucap Elora sembari mengelus surai Keira dengan lembut. Ekspresi yang berbeda lagi. Apa yang salah dengannya?
Iiiuuuwww! Iiiiuuuwww! Iiiiuuuwww!
Sirine kendaraan itu pertanda bahwa sudah ada kendaraan yang siap mengangkut Keira. Namun kedatangannya menambah penderitaan perempuan itu. Telinganya kesakitan begitu suara sirine itu terus menghentak pendengarannya, terasa seperti memaksa menusuk untuk menembusnya.
Keira ingin cepat keluar dari dunia yang begitu menyiksanya ini. Perempuan itu terus mengerang, berharap dapat bangun dari tidurnya.
Bzzzztt! Bzzzztt! Bzzzztt!
Akhirnya Keira dapat terlepas dari mimpi buruknya. Napasnya tersengal-sengal mengingat betapa ia berjuang untuk bertahan dalam mimpinya. Tetapi, siapa yang meneleponnya?
Keira mengambil ponselnya, ia memeriksa waktu terlebih dahulu, dibanding siapa yang meneleponnya.
Saat ini masih pukul tiga dini hari. Untuk apa Elora meneleponnya?
Sebenarnya ada terselip rasa takut bagi Keira untuk menerima panggilan itu, teringat mimpinya yang erat hubungannya dengan Elora.
Keira menarik napasnya dalam-dalam, kemudian menerima panggilan itu.
YOU ARE READING
SOMEONE ELSE WAS ME
Mystery / ThrillerSo, I joined One Day One Story by Faza, and here is an antropology of short story that I made. Hope all of you guys who read this could enjoy every part of story.
