Nandiswara Siwaputra

1 1 0
                                        

Kekacauan bukan selalu hal buruk. Di dalamnya sering tersembunyi sesuatu yang indah?

Nandiswara Siwaputra..

Suasana mimpi itu terasa nyata, lebih jelas dari kenyataan sendiri. Di tengah kabut putih yang perlahan bergerak, Siwa melihat sosok ayah dan ibunya berdiri di kejauhan, senyum mereka tetap hangat seperti yang dia ingat. Tapi ada satu hal yang salah: di sekeliling tubuh mereka, melilit asap hitam yang berputar kacau, dan di wajah mereka seolah ada selaput kabut tebal yang menutupi bagian mata dan dada.

"Siwa..." suara ibunya terdengar lembut tapi terputus-putus, seperti dibawa angin. "Anakku..."

Siwa melangkah ingin mendekat, matanya yang terbiasa membaca energi dan melihat hal tersembunyi berusaha menangkap jejak apa pun. Dia bisa merasakan jejak racun halus, niat jahat yang tertinggal, dan bentuk kekacauan yang dibuat oleh tangan manusia. Tapi saat dia mencoba melihat siapa di balik semua itu-sesuatu menghalangi.

Seolah ada tangan tak terlihat yang menutup matanya, memutar pandangannya, dan menyembunyikan jejak itu. Kepalanya terasa berdenyut, perih, dan pandangannya jadi kabur.

"Ayah... Bunda... " gumam Siwa, suaranya bergetar.

Ayahnya menggeleng pelan, matanya terlihat sedih. "Jaga diri ya nak.. maaf, ayah sudah tidak bisa mendampingi lagi.. "

Sebelum Siwa bisa bertanya tentang apa yang terjadi, kabut makin tebal menelan kedua orang tuanya.

"AYAH!! BUNDA!!"

Siwa terbangun dengan keringat dingin membasahi dahi, napasnya terengah. Cahaya lampu kamar temaram, dan dari luar pintu dia mendengar suara kakek yang sedang membaca doa pelan setelah sholat tahajjud.

Dia mengusap matanya, merasakan denyut sakit yang masih tersisa di pelipis.

"Siwa.. kamu kenapa toh le? Mimpi bapak sama ibumu lagi?" Tanya nenek sambil mengelus punggung Siwa yang sedikit bergetar. Siwa menggelengkan kepalanya lalu tersenyum tipis.

"Mbah.. Siwa tahajjud dulu.." Siwa turun dari ranjang lalu berjalan ke luar rumah, berjalan ke sumur yang tidak jauh dari rumah kakek.

Siwa hanya berwudhu dengan santai, walaupun dia bisa melihat mahluk yang tidak bisa dilihat orang lain, setelah Siwa selesai berwudu, ia segera masuk ke dalam rumah kakeknya.

.....

Siwa melangkah kembali ke dalam rumah yang sunyi.

Lantai papan yang diinjaknya terasa dingin, kontras dengan kehangatan sisa air wudu yang membasahi wajah dan lengannya. Di ruang tengah, suara kakeknya sudah tidak terdengar lagi, berganti dengan keheningan malam yang pekat, hanya diiringi suara jangkrik dari arah kebun belakang.

Dia membuka pintu kamarnya yang sederhana, sebuah ruangan berukuran tiga kali tiga meter dengan kasur kapuk dan lemari kayu tua. Di sudut ruangan, selembar sajadah usang sudah tergelar menghadap kiblat.

Siwa berdiri di atas sajadah, merapatkan kedua telapak tangannya di dada, lalu mengangkatnya setinggi telinga sembari berbisik lamat-lamat, "Allahu Akbar."
Pada rakaat pertama, segalanya berjalan normal. Keheningan malam membantu Siwa untuk fokus, mencoba menenggelamkan diri dalam setiap bacaan ayat suci.

Namun, tepat ketika dia bangkit dari sujud pertama di rakaat kedua, atmosfer di dalam kamar mendadak berubah. Suhu udara turun drastis secara tidak wajar, hingga embusan napas Siwa mengeluarkan uap tipis.
Bulu kuduk di tengkuknya berdiri tegak. Sebagai seseorang yang terlahir dengan indra keenam, Siwa tahu ini bukan sekadar angin malam biasa. Ada sesuatu yang datang.

Dari sudut matanya, saat dia menatap lurus ke tempat sujud, Siwa merasakan kehadiran sebuah entitas. Rasanya seperti ada sepasang mata yang sangat besar, penuh kebencian, sedang menatapnya dari sudut plafon kamar yang gelap. Udara di sekitarnya mendadak berbau anyir, bercampur aroma tanah basah dan kain terbakar. Bau khas yang sangat dia kenali setiap kali ada kiriman energi hitam yang mendekat.

Jantung Siwa berdegup lebih kencang, tetapi dia menolak untuk membatalkan salatnya. Dia memperpanjang bacaan surat pendeknya, menguatkan hati demi menjaga kekhusyukan.

Tiba-tiba, terdengar suara bisikan parau yang sangat dekat, seolah mahluk itu sedang bergelayut tepat di atas pundaknya. "Nandiswara... mati kau..."
Bersamaan dengan bisikan itu, sebuah gelombang hawa panas yang pekat menghantam punggung Siwa seperti gada tak kasat mata. Energi itu berputar, mencoba menembus kulitnya, mencari celah untuk meracuni aliran darah dan menghentikan detak jantung pemuda itu secara paksa.

Namun, sebelum energi hitam itu berhasil melukai Siwa, sesuatu di balik baju kokonya bereaksi.

Sebuah kehangatan yang lembut dan protektif mendadak memancar dari dadanya. Itu adalah kalung jimat peninggalan ayahnya. Sebuah kalung rantai perak kusam dengan liontin batu Zamrud berwarna hijau tua yang jernih. Begitu hawa santet itu menyentuh radius tubuh Siwa, batu Zamrud itu bergetar samar di balik pakaiannya, memancarkan aura magis penolak bala yang langsung mementalkan energi jahat tersebut hingga hancur berkeping-keping di udara.
Siwa merasakan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya, menetralkan rasa dingin dan bau anyir yang sempat mengungkung kamar. Dia menarik napas dalam-dalam, menyelesaikan ruku, iktidal, hingga salam terakhir dengan saksama.

"Assalamu'alaikum warahmatullah... Assalamu'alaikum warahmatullah..."

Setelah mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, Siwa tidak langsung berdiri. Dia duduk bersila di atas sajadah, lalu merogoh ke dalam kerah bajunya untuk mengeluarkan liontin Zamrud tersebut. Batu itu masih terasa hangat di jemarinya.

Siwa menatap batu hijau itu dengan mata berkaca-kaca. Ingatannya langsung melayang ke malam tragis sepuluh tahun lalu, sesaat sebelum kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.

Saat itu, ayahnya yang bersimbah keringat dingin dan tampak sangat tertekan, memakaikan kalung ini ke leher Siwa kecil yang masih berusia tujuh tahun.
"Jangan pernah lepaskan kalung ini, Siwa. Apa pun yang terjadi," bisik ayahnya malam itu dengan napas memburu. Malam sebelum ayahnya pergi untuk selama-lamanya.

Siwa mengepalkan tangannya, menggenggam erat batu Zamrud itu. Mimpi buruk yang baru saja dialaminya, ditambah dengan serangan energi hitam yang barusan mencoba mengintainya saat salat, bukanlah sebuah kebetulan.
Sepuluh tahun telah berlalu, dan tampaknya, si pengirim santet itu mulai menyadari bahwa putra dari korbannya masih hidup.

"Siapa..." gumam Siwa memecah keheningan kamar, matanya berkilat tajam menembus kegelapan di sudut ruangan. "Siapa sebenarnya yang sudah membunuh Ayah dan Bunda?"
Malam itu, di atas sajadahnya, Siwa tahu bahwa masa tenangnya di desa ini telah berakhir. Sesuatu yang besar sedang berjalan mendekat, dan kali ini, Siwa tidak akan lagi bersembunyi.








Beautiful Chaos Geschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt