What If Osamu Is Your Boyfriend
"Pagi yang cerah, hembusan angin yang segar, dan secangkir kopi hangat..."
Dazai Osamu bersandar di sofa cokelat kantor Agensi, merentangkan kedua tangannya lebar lebar dengan dramatis. Matanya yang cokelat jernih berbinar penuh harap saat menatapmu yang baru saja duduk di meja kerja.
"Dan yang paling sempurna... seulas senyuman manis dari kekasih tercintaku untuk memulai hari! Bagaimana, [Y/N] chan? Apakah kau merindukanku semalam?" Dazai mengerutkan bibirnya, memasang wajah memelas yang biasanya membuat para wanita luluh.
Kamu menoleh perlahan. Wajahmu datar tanpa ekspresi. Matamu menatapnya kosong, persis seperti robot yang kehabisan baterai.
"Tidak," jawabmu pendek, datar, dan sedingin es kutub.
Gubrak!!!
Dazai hampir terjungkal dari sofa. Ia memegangi dadanya, berpura pura terluka parah. "Aduhh! Panah kejujuranmu langsung menusuk jantungku yang rapuh ini! Tapi tidak apa apa, aku tahu kau hanya malu malu-"
"Osamu," potongmu, suara tanpa intonasi. "Tolong ambilkan batu es di kulkas."
Dazai berkedip bingung. Reaksimu yang melompati bagian rayuannya dan langsung meminta es batu membuatnya heran. "Eh? Es batu? Untuk apa? Apa kau mau membuat es kopi? Atau... kau mau mengompres hatimu yang membeku itu agar mencair untukku?" godanya sambil mencolek dagumu.
Kamu tidak menjauh, tidak juga merona. Kamu hanya menatap jarinya yang menyentuh dagumu dengan pandangan mati.
"Kakiku terantuk meja tadi pagi. Jempolku bengkak," katamu datar.
Dazai langsung panik dengan gaya berlebihannya yang khas. "Apa?! Luka parah dong?! Mengapa kau tidak bilang dari tadi! Biarkan aku melihatnya, apakah kita harus ke dokter? Atau haruskah kita melakukan bunuh diri ganda agar rasa sakitmu hilang?!"
"Tidak perlu. Cukup es batu," sahutmu, masih dengan wajah yang sama sekali tidak berubah sejak awal percakapan.
Sambil menghela napas pasrah karena gagal memprediksi reaksimu, Dazai akhirnya bangkit dan berjalan ke dapur Agensi. Sesaat kemudian, ia kembali membawa beberapa bongkah es batu yang dibalut kain sapu tangan bersih.
Ia berlutut di hadapanmu, lalu dengan perlahan mengangkat kakimu yang terluka untuk diletakkan di atas paha kakinya. Tangannya yang terbalut perban terasa hangat saat menyentuh pergelangan kakimu.
"Dingin..." gumammu saat kain berisi es itu menyentuh jempol kakimu yang sedikit memerah.
Dazai mendongak, mencoba mencari celah ekspresi di wajahmu. Biasanya, seorang gadis akan merona hebat jika pacarnya berlutut dan memperlakukan mereka seperti putri. Namun, kamu justru menatap langit langit kantor dengan pandangan kosong.
"Hanya 'dingin'?" Dazai menghela napas, merasa tertantang. Ia sengaja menekan es batu itu sedikit lebih lama, lalu berbisik dengan nada rendah yang seksi, tepat di dekat lututmu. "Bagaimana kalau aku memberikan kehangatan yang lain? Seperti... kecupan di dahi?"
Kamu menunduk, menatap langsung ke manik matanya. Jarak wajah kalian sangat dekat. Dazai sudah bersiap melihat pipimu memerah atau minimal matamu membelalak terkejut.
"Osamu," panggilmu flat.
"Ya, Sayang?"sahutnya penuh percaya diri.
"Esnya mencair ke celanamu."
(Gw kerjain malem malem udah nahan ketawa gara gara [y/n])
Dazai tersentak dan langsung melihat ke bawah. Benar saja, air es yang meleleh sudah membasahi bagian lutut celana krem kesayangannya.
"Astaga!" Pekik Dazai sebal sambil refleks menjauhkan es tersebut. Ia menatap celananya yang basah, lalu menatapmu yang masih memasang wajah tanpa dosa. "Kau ini benar-benar tidak romantis, ya! Padahal aku sedang mencoba membangun suasana yang manis!"
Kamu mengerutkan alismu-satu-satunya perubahan ekspresi mikro yang bisa Dazai tangkap sejak tadi. "Suasana manis tidak bisa mengeringkan celana basah."
Dazai tertegun, lalu sedetik kemudian ia tertawa lepas. Tawanya renyah, memenuhi sudut ruangan Agensi yang sepi. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, benar-benar gemas sekaligus pusing menghadapi kepribadianmu yang di luar prediksi ini.
"Kau benar-benar unik, [Y/n]," ujar Dazai lembut. Ia menaruh sisa es di meja, lalu tiba-tiba memajukan tubuhnya dan mengecup kilat ujung hidungmu.
Kamu mengerjap sekali. Tetap datar.
Dazai tersenyum lebar, merasa menang karena berhasil mengejutkanmu walau sedikit. Ia menarik tubuhmu ke dalam dekapannya, memelukmu erat-erat hingga wajahmu terbenam di dada bidangnya yang beraroma maskulin.
"Tapi tidak apa-apa," bisik Dazai di sela rambutmu, suaranya melembut, penuh rasa sayang yang tulus. "Mau kau berwajah sedingin es batu atau sekeras batu karang sekalipun, aku tidak peduli. Karena tugas akulah yang akan terus berada di sisimu, mencari cara untuk membuat batu es ini mencair setiap harinya."
Kamu diam di dalam pelukannya, mendengarkan detak jantungnya yang berdegup tenang. Perlahan, kedua tanganmu yang semula kaku terangkat, membalas pelukannya dengan remasan pelan di punggung kemejanya.
"Terima kasih, Osamu," bisikmu pelan. Masih tanpa ekspresi, tapi detak jantungmu yang mendadak berpacu cepat di dalam dada tidak bisa membohongi kehangatan yang mulai menjalar di hatimu.
YOU ARE READING
What If Osamu Is Your Boyfriend?
RomancePenyuka perban pacaran sama orang yang datar nya minta ampun. Yahh mumi hidup ini adalah pacar kalian. Silahkan dibaca, ini oneshot keseharian kalian jadi pacarnya Perban mumi hidup ini. by: Rayshi_ray_
