Prolog

3 0 0
                                        

Bunga Putih Untuk Seseorang yang Tidak Pernah Meminta Apa-Apa

Suara langkah kaki terdengar pelan di antara tanah basah.

Hujan baru saja berhenti.

Udara sore itu dingin, meninggalkan aroma tanah yang bercampur dengan daun-daun yang jatuh. Pemakaman itu selalu terasa sama bagi seorang pria yang datang setiap tahun ke tempat yang sama.

Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun berjalan dengan membawa sebuah buket bunga putih.

Pakaiannya rapi.

Jam mahal melingkar di tangannya.

Mobil hitam mewah terparkir tidak jauh dari pintu masuk pemakaman.

Jika seseorang melihatnya dari luar, mungkin mereka akan berpikir bahwa pria itu memiliki kehidupan yang sempurna.

Dan mereka tidak sepenuhnya salah.

Namanya Arka Mahendra.

Di usia tiga puluh tahun, Arka telah menjadi seseorang yang dulu bahkan tidak pernah ia bayangkan.

Ia memiliki perusahaan sendiri.

Ia memiliki rumah besar.

Ia bisa membeli apa pun yang dulu hanya bisa ia lihat melalui kaca toko.

Tetapi ada satu hal yang tidak pernah bisa ia beli kembali.

Waktu.

Arka berhenti di depan sebuah makam sederhana.

Berbeda dengan makam-makam lain yang dihiasi batu mahal, makam itu hanya memiliki batu nisan biasa.

Namun bagi Arka...

Tempat itu adalah tempat paling berharga di dunia.

Tangannya perlahan meletakkan bunga putih di atas makam.

Di sana tertulis:

NARA MAHENDRA
Seorang ibu yang memberikan seluruh hidupnya untuk satu anak yang ia cintai.

Arka tersenyum kecil.

Namun senyum itu terasa penuh luka.

"Bu..."

Suaranya bergetar.

"Aku datang lagi."

Tidak ada jawaban.

Hanya angin yang bergerak pelan melewati pepohonan.

Arka duduk di depan makam itu.

Seperti seorang anak kecil yang sedang menunggu ibunya pulang.

"Aku akhirnya berhasil, Bu."

Ia melihat tangannya sendiri.

"Ternyata aku benar-benar bisa menjadi seperti yang ibu harapkan."

Air matanya mulai menggenang.

"Dulu ibu selalu bilang..."

"Suatu hari nanti Arka pasti jadi orang hebat."

Arka tertawa kecil.

"Dan sekarang aku jadi orang hebat."

Tetapi tawanya berubah menjadi tangisan.

"Tapi ibu nggak ada di sini buat lihat."

Tangannya menggenggam rumput di samping makam.

"Aku benci kenyataan kalau semua yang aku punya sekarang datang terlambat."

Karena dulu...

Saat ibunya masih hidup...

Arka bahkan tidak bisa memberikan makan malam yang layak.

Ia tidak bisa memperbaiki atap rumah mereka.

Ia tidak bisa membuat ibunya berhenti bekerja.

Dan rasa bersalah itu selalu tinggal.

Sampai akhirnya...

Arka mengingat satu malam yang tidak pernah ia lupakan.

Malam ketika ia menemukan sebuah pintu.

Pintu yang menawarkan segalanya.

Pintu yang hampir membuatnya menghapus keberadaannya sendiri.

Pintu yang Menghapus NamakuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang