Hujan turun perlahan di luar jendela apartemen yang tak pernah benar-benar terasa seperti rumah.
Titik-titik air memantulkan cahaya lampu jalan, membentuk garis-garis tipis yang mengaburkan pemandangan gedung-gedung tinggi di kejauhan.
Malam telah larut, tetapi satu ruangan di lantai delapan itu masih diterangi lampu meja berwarna kekuningan.
Di atas meja kayu yang dipenuhi buku-buku sejarah Nusantara, secangkir kopi yang sejak satu jam lalu dibiarkan dingin menemani seorang perempuan yang belum juga beranjak dari kursinya.
Dyah mengembuskan napas panjang sebelum perlahan menutup halaman terakhir novel yang baru saja selesai ia baca.
Jemarinya tetap bertahan di atas sampul buku itu beberapa saat, seolah enggan benar-benar mengakhiri kisah yang sejak beberapa hari terakhir menemaninya sepulang bekerja.
Sampul bergambar siluet seorang putri dengan latar kerajaan kuno tampak mulai kusam di bagian sudut, tanda bahwa buku itu telah berpindah tangan berkali-kali sebelum akhirnya sampai kepadanya melalui perpustakaan kota.
"Akhirnya selesai juga..."
Suara lirih itu terdengar begitu pelan hingga nyaris tenggelam oleh bunyi hujan di luar jendela.
Novel historical fantasy tersebut menutup kisahnya dengan akhir yang membahagiakan.
Sang Maharaja akhirnya hidup damai bersama perempuan yang dicintainya, meninggalkan segala tragedi yang selama ini menghantui pembaca sepanjang cerita. Akhir yang manis.
Akhir yang membuat banyak orang tersenyum.
Namun entah mengapa...
Dyah sama sekali tidak ikut merasa lega.
Ia kembali membuka halaman-halaman terakhir, membaca beberapa paragraf yang sudah ia hafal hampir di luar kepala.
Nama Hayam Wuruk disebut berkali-kali. Sudewi mendapat penutup yang indah.
Bahkan kerajaan besar itu digambarkan memasuki masa kejayaannya.
Tetapi ada satu nama yang hanya muncul sekilas.
Dyah Pitaloka.
Perempuan itu menutup buku di pangkuannya, lalu menatap langit malam yang semakin gelap.
"Kasihan banget..."
Ia tidak sadar sedang berbicara kepada siapa.
Mungkin kepada dirinya sendiri.
Mungkin kepada tokoh yang telah hidup ratusan tahun sebelum ia dilahirkan.
Dyah meraih ponselnya.
Jemarinya dengan cepat membuka kolom ulasan novel yang sejak beberapa hari terakhir ramai diperbincangkan pembaca.
"Versi ini jauh lebih masuk akal daripada sejarah."
"Sudewi memang cinta sejatinya Hayam Wuruk."
"Ending paling memuaskan yang pernah aku baca."
"Untung akhirnya Hayam Wuruk bahagia."
Matanya berhenti pada komentar terakhir.
Untung akhirnya Hayam Wuruk bahagia.
Dyah tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak pernah benar-benar sampai ke matanya.
"Lucu ya..."
Ia mengunci layar ponselnya, lalu menyandarkan tubuh ke kursi.
"Semua orang sibuk ngebahas siapa yang akhirnya bahagia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Benang Dharma
Historical FictionDyah tak pernah menyangka rasa ibanya pada seorang putri dari masa lalu akan mengubah takdir hidupnya. Setelah menyelesaikan sebuah novel historical fantasy tentang Perang Bubat, ia percaya bahwa tragedi itu bermula dari satu hal sederhana. Hayam W...
