♥PRELUDE♥

4 1 0
                                        

"Ada orang-orang yang tidak pernah benar-benar meninggalkan kita.

Mereka hanya berhenti hidup di dunia yang sama."

&&&

Hujan turun sejak dini hari. Butiran air memukul jendela-jendela gedung kepolisian Ardenthal dengan irama yang lambat dan berulang, seolah waktu sendiri enggan bergerak lebih cepat. Langit masih kelabu ketika dua petugas melangkah melewati lorong panjang yang dipenuhi bau kertas lembap dan cat dinding yang mulai mengelupas. Di ujung lorong itu terdapat sebuah ruangan kecil. Pintu besinya tertutup. Lampu di dalamnya masih menyala. Seseorang telah menunggu di sana sejak beberapa jam yang lalu.

Saka duduk di balik meja interogasi dengan kedua tangan terlipat di atas permukaan besi yang dingin. Jas hitam yang dikenakannya masih rapi, seolah ia baru saja pulang dari persidangan, bukan menyerahkan diri kepada polisi. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Salah seorang petugas membuka berkas di hadapannya.

Jemarinya sedikit gemetar ketika membaca kembali isi laporan yang telah diterimanya beberapa jam sebelumnya. Enam korban. Enam kematian. Satu pelaku. Dan pengakuan yang datang tanpa paksaan. "Saudara Saka Ardian," ucapnya hati-hati, "apakah semua pernyataan yang Anda berikan dibuat atas kemauan sendiri?"

Saka mengangkat pandangannya perlahan. Cahaya pagi yang redup jatuh melalui jendela kecil di belakangnya, membentuk garis-garis pucat di lantai. "Ya." Jawaban itu terdengar tenang. Tidak ada keraguan. Petugas itu kembali menatap lembaran di tangannya.

"Apakah Anda menyesali apa yang telah terjadi?"

Keheningan memenuhi ruangan. Di luar, hujan masih turun. Saka memandang jendela di belakang petugas itu. Untuk sesaat, matanya tampak begitu jauh, seolah ia sedang melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh siapa pun selain dirinya. Akhirnya ia berkata pelan, "Saya terlambat memahami banyak hal."

Petugas itu mengernyit. "Maksud Anda?"

Namun Saka tidak menjawab. Di dalam kepalanya, sebuah nama kembali muncul. Nama yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar pergi. Nama yang tetap tinggal meskipun dunia telah memaksanya untuk melepaskan.

Nira.

Bersamaan dengan nama itu, sebuah kenangan perlahan kembali. Cahaya matahari di tepi sungai. Tawa yang lembut. Bunga matahari yang mulai mengering. Saka menutup matanya. Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan itu, ia terlihat lelah. Bukan lelah karena penyelidikan. Bukan pula karena hukuman yang menunggunya. Melainkan karena kenangan. Karena ada masa ketika ia percaya bahwa hukum mampu menyelamatkan siapa pun. Dan ada seseorang yang pernah mengajarinya bahwa dunia masih layak diperjuangkan. Seseorang yang kini hanya tersisa di dalam ingatan.

Hujan perlahan mereda. Sementara di luar jendela, matahari mulai muncul di balik awan. Dan waktu pun bergerak mundur. Kembali kepada sebuah musim gugur. Kembali kepada sebuah kota yang belum kehilangan cahayanya. Kembali kepada saat ketika Nira masih hidup.

ASHES BENEATH THE SUNCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang