mysterious man?

3 0 0
                                        

tepatnya di jakarta...
Tampak dari gerbang Sekolah, terdengar suara ricuh yang bergemuruh. Suara yang berasal dari salah satu siswa yang mengendarai sepeda motor ninja h2 hitam keluaran terbaru.

Dia tak berhenti mmainkan gass motornya, sampai ada seorang perempuan cantik, yang tiba menghampirinya. Dari wajahnya ia terlihat sangat kesal sekali, dengan tingkah laki-laki yang tengah bermain gas motornya seperti permainan.

Perempuan itu melangkah menuju laki-laki itu, meski di tengah kerumunan yang cukup padat. Dengan penuh tekad, perempuan itu berteriak. Berniat untuk mengentikan aksi laki-laki itu.

Suara perempuan itu cukup kuat. Mendadak semua sorot mata, beralih pada perempuan cantik itu. Perempuan dengan tampang cantik, berkulit putih langsat, Dengan gaya rambut yang menutupi sebagian wajah.

"Denger ya, Ken. Lo pikir? lo yang berkuasa disini?" ucap perempuan itu dengan tatapan sinis, dan memarahi laki-laki yang disebutnya Ken. "Bubar gak lo semua!" teriaknya dengan lantam.

Terdengar dari suaranya, seperti ancaman besar, dan unek-unek yang sudah terkumpul lama, yang baru bisa keluar dengan lega.

"Eh. Cewe aneh. Kenapa si? lo suka banget ganggu gue?" ucap laki itu, dengan tatapan sinis.

Perempuan itu berjalan perlahan, menuju pria itu, dengan menghentak-hentakkan kakinya ke aspal yang rata. "Apa? ganggu kata lo?"

"Iya. Lo ganggu gue." Jawab seorang laki itu, sambil melangkah, dan memojokkan perempuan itu, sampai ke ujung tembok. "Eh. Cewe aneh. Dengerin gue ya, cukup buat ganggu hidup gue."

Perempuan itu menyeringai. "Ganggu kata lo? Gua? atau lo?" ucapnya dengan spontan. Dari perkataan yang keluar, tampak jika perempuan itu tampak amat percaya diri.

"Kenn. Lo pikir, dengan ketampanan dan harta yang lo punya, lo mbisa berkuasa, dan seenaknya? Lo pikir lo itu Tuhan?"

Celetukan yang menyambar bak petir yang menggelegar, membuat wajah laki-laki itu memerah, dan enggan memukul perempuan itu. Namun... Pukulan itu harus di paatahkan begitu saja oleh seorang siswa lain.

"Kalau berani, sama gue. Jangan sama cewe. Lo laki, kan?" ucapnya, sambil mendorong salah siswa yang enggan memukul seorang siswi itu.

Tak lama muncul seorang perempuan paruh baya, jika dari tampilan dan aksesorisnya, dia adalah guru para murid di Sekolah itu. "Kalian kenapa malah pada disini? kenapa gak pada pulang? kalau. gak mau, dalam hitungan detik, Kelas di mulai lagi."

Tampak semuanya sangat kompak, dan langsung pergi meninggalkan tempat begitu saja.

"Eleuh-eleuh, saya kira suara dari bangsa asing, ternyata suara Ibu anu geulis," ucap Satpam penjaga Sekolah.

"Pak Asep bisa aja," ucapnya dengan wajah yang tersipu malu, karena gombalan hangat dari seorang Satpam.

"Bisa atuh, apa yang gak bisa, buat Ibu Sri. Jangankan ini Bu, buat nguras lautan aja saya bisa."

"Bisa apa, Pak?" tanya Bu Sri, merasa penasaran dengan perkataan yang terdengar ambigu di telinga.

"Bu Sri, mau tau aja apa mau tau banget?"

"Bedanya apa, Pak?" tanya Bu Sri, dan semakin penasaran dengan perkataan Pak Asep.

"Beda Bu. Kalau mau tau aja, berarti Ibu cuman mau tau aja. Kalau mau tau banget, berarti Ibu mau tau banget."

Di tengah obrolan hangat, tiba seorang Satpam lain berlari menghampiri Pak Asep. "Sep!" teriaknya. dari jauh.

"Ni orang ganggu aja heran. Orang lagi berduaan sama Bu Sri juga." Gumam Pak Asep dalam batin.

Suara hela nafas yang tak beraturan "huft-hahh-."

"Kenapa si To?" tanya Pak Asep.

"Anu, itu," jawabnya, dengan nafas yang tak beraturan. "Anu Sep," timpalnya, sambil menunjukkan jarinya ke arah belakang.

"Una-anu. Apaan To?" tanya Pak Asep.

"Udah ayo ikut, nanti gua jelasin."

"Saya pergi dulu ya, Bu. Assalamualaikum."

______

Disisi lain... Seorang pria tengah berada di ranjang kasurnya, ia tengah memikirkan kejadian siang tadi. Kata-kata pedas yang di keluarkan oleh perempuan cantik itu bak mimpi buruk, dan menghantui dirinya. "Lo pikir, dengan lu tampan lo menang? enggak, lo salah besar."

Lamunan Laki-laki itu perlahan pudar, usai mendengar suara yang cukup keras, memanggil dirinya. "Kenzi Alvaro Putra!" gemuruh ssuara yang cukup keras dari ruang Kamar, tepatnya berada di lantai 1.

Laki-laki itu dengan sigap, bergegas dari ranjangnya, dan mulai menuruni anak tangga satu per satu. "Iya, mah..." Ucapnya, sembari menuruni anak tangga.

"Kenapa Mamah panggil Zi?"

"Makan dulu Zi, kamu dari siang belum makan. Kebetulan Mamah masak masakan kesukaan kamu," ucap Ibundanya.

Zi melangkah menuju meja makan, untuk membuka penutup makanan,, karena sudah tak sabar, ingin memakan masakan kesukaanya.

Raut wajahnya berubah, menjadi wajah ceria, setelah ia melihat sepiring Ayam balado, dan udang saus tiram kesukaanya. "Mamah masak udang juga?" tanya Zi.

"Iya, Mamah masak udang. Kebetulan tadi pas belanja ada udang. Karena Mamah tau udang ini lumayan susah disini, tadi Mamah borong semua, buat stock sebulan mungkin."

"Apa gak kebanyakan, Mah?"

"Enggak. Udah, sekarang kamu makan aja dulu, Mamah mau bikin makanan lagi buat Papah kamu. Sebentar lagi Papah kamu pulang soalnya."

"Iya Mah. Zi makan, ya," ucapnya.

Zi dengan spontan, mulai mengambil piring putih yang mengkilau, bak berlian yang terkena sinar matahari. Ia lanjut mengambil nasi dengan siduk berwarna merah muda bermotif polosan. Lanjut mengambil lauk pauk lain dengan sendok berwarna emas, dengan detail ayam jago di ujung gagangnya.

Saat Zi ingin mulai menyantap makanan di suapan pertamanya, ia di ingatkan oleh Ibundanya, untuk membaca doa. Karena hampir saja dirinya lupa dan ceroboh. "Zi, baca doa dulu."

"Astaghfirullah. Hampir aja," ucapnya sambil menepak. pelan jidatnya dengan lengan sebelah kanan. Lanjut ia mengangkat kedua tangan, yakni berdoa, meminta untuk sesuatu nikmat yang berada di hadapannya ini, menjadi makanan yang berkah dan halal.

Zi mulai menyuap, setelah ia mengawali dengan bismillahirrahmanirrahim.

______

Disisi lain seorang wanita yang tengah rebahann di ranjangnya yang empuk, sembari telponan bersama sahabatnya. "Kira-kira, tadi kasar gak, ya, ke Ken, la?" tanyanya.

"Kasar banget, kalau menurut gue. Tapi kenapa si, lo kaya gak suka sma dia si Vel?" tanya sahabatnya.

"Lo suka sama dia?" tanya balik Vel kepada sahabatnya.

"Lagian ya, Vel. Dia itu tampan banget, bahkan dia aja populer di Sekolah. Semua cewe udah pasti suka sama dia. Emangnya lo gak suka sama dia Vel?"

"Hah? Suka? ngeliat mukanya aja gue udah jiji banget, apalagi suka, cuih," ucapnya, sembari memasang rautan wajah tak suka.

"Dah lah, kenapa jadi bahas cowo ngeselin itu, si?" tanya Vel.

"Kan lo duluan yang bahas, bukan gue," timpal sahabatnya.

"Yaudah deh, La, gue mau tidur,, besok samper gue, ya, dah, La," ucapnya sambil melambbaikan tangan kepada sahabatnya.

______

Victorious SecretStories to obsess over. Discover now