Ini cerita tentang tujuh orang dalam satu frame.
dari foto pertama sampai foto ke-20, semuanya masih sama
hingga Taufan merasa aneh, setelah foto ke-20
- cerita murni buatan saya, Don't Copy!
- saya hanya meminjam karakter monsta
- #NoShip
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
.
Kata orang, rumah ini begitu hangat. Bukan karena pemanas ruangan yang senantiasa menyala saat musim dingin, melainkan kebahagiaan, keramaian, dan tawa yang terisi di dalamnya. Tentang gelak tawa di depan televisi yang suaranya selalu kalah oleh celoteh kami. Tentang ramainya rumah oleh langkah kaki yang berlarian dari ujung lorong ke ujung lain. Tentang kebahagiaan hadir pada sebuah senyuman sederhana.
Ini tentang rumah yang sederhana, Rumah dua lantai dengan cat yang sudah pudar di beberapa sudut, pagar yang sering dibiarkan setengah terbuka, dan jendela dapur yang selalu berembun.
Ini bukan tentang pondasinya yang kuat saat sedang dibangun. Tapi, tentang bagaimana cara tujuh jiwa membuatnya tetap layak dinamai rumah. Tak perlu dengan dekorasi yang mewah, cukup dengan hal-hal kecil yang membuatnya pantas. Seperti wangi sup buatan Gempa di pagi hari yang selalu berhasil membangunkan kami semua. tingkah konyol Taufan, Blaze, dan Duri yang membuat satu rumah tertawa sampai sakit perut. Kebiasaan Ice yang selalu ketiduran di sofa paling ujung dengan selimut yang ditarik sampai hidung. Pertengkaran kecil Halilintar dan Solar sebagai sulung dan bungsu. dan segala hal-hal kecil lainnya yang membuatnya terasa hangat
Rumah ini tak pernah benar-benar sepi. Bahkan saat semua orang sudah tidur, masih ada suara kulkas, dengung lampu lorong, dan nafas tujuh orang yang tidur di bawah atap yang sama.
.
"Hari ini, hari ulang tahun kita, selamat atas 15 tahunnya"
Kami sudah merencanakan hari ini sejak beberapa hari yang lalu. Bukan pesta besar. Tidak ada dekorasi balon atau kembang api. Hanya kami bertujuh, kue buatan sendiri, dan rumah yang penuh tawa
Seperti biasa, rumah ini masih hangat. Taufan dan Gempa sedang menghabiskan waktu di dapur sejak pagi untuk membuat kue ulang tahun yang sempurna. Ice yang menemani mereka sambil tertidur di meja makan, kepalanya bertumpu pada buku cerita yang belum sempat ia tutup. Blaze dan Duri yang mengganggu fokus Solar di laboratorium lantai atas. Dan Halilintar yang akan jadi penengahnya, mondar-mandir antara dapur dan laboratorium untuk memastikan tidak ada yang bertengkar sebelum kue jadi
Rumah itu masih hangat, entah dari oven yang dinyalakan sejak dapur riuh atau mungkin percikan amarah milik Solar karena telah diganggu oleh dua kakak onarnya. Lagian, mereka mengerjai dirinya dengan cara yang beragam, "Ih! Kalau kuenya gosong, kakak yang makan keraknya," gerutu solar sambil menahan pintu laboratorium - mencegah Duri dan Blaze untuk masuk