Di tanah benua Magenia, Kerajaan Heisgar dikelilingi oleh pegunungan dengan banyak air terjun. Keadaan geografinya ini juga membuatnya dijuluki Negeri Air Terjun.
Di dalamnya dihuni oleh penduduk yang menggunakan sihir dalam aktivitas sehari-hari, di jalanan terdapat banyak delman dan orang berlalu-lalang, lalu di langit terdapat beberapa kapal yang terbang dengan balon udara lonjong. Sesekali beberapa penyihir dengan sapu terbang juga ikut melintas.
Ada puluhan sekolah di ibukota. Sekolah dasar, akademi sihir, akademi keuangan, akademi hukum, dan seterusnya.
Salah satu sekolah dasar berada di area yang cukup dekat dengan gerbang ibukota.
Sebenarnya sekolah dasar hanya memberikan pengetahuan umum yang wajib dipelajari. Matematika, sejarah, ilmu pengetahuan alam, ekonomi, dan seterusnya.
Akan tetapi bagi mereka yang sudah menginjak usia 12 tahun, mata pelajaran sihir dibuka.
"Baiklah anak-anak, karena kita sudah mempelajari teori sihir minggu kemarin, sekarang waktunya bagi kita untuk praktik sihir!"
Walikelas bernama Elly Arford memeriahkan suasana pembelajaran.
Sekitar tiga puluh murid bersorak. Selayaknya anak-anak, antusias tinggi terhadap hal-hal menyenangkan. Apalagi saat ini mereka mempelajari sihir yang dimana akan praktik membuat fenomena ajaib.
"Wah! Aku sudah tidak sabar!"
"Ayo cepatlah, aku ingin mulai segera."
"Hehehe, aku sudah pasti akan jadi yang terhebat!"
Semua anak menunjukkan kepercayaan diri mereka, terutama yang laki-laki.
Hanya seorang saja yang terlihat tidak memiliki gairah. Yaitu seorang lelaki berkaos abu-abu dan memakai celana pendek hitam. Rambut biru tua jabrik dan memiliki iris mata hijau.
Regil Amarta.
Tubuhnya gemetaran saat Elly menerangkan sihir Levitation, salah satu dari kategori Simple Magic. Sihir ini membuat penggunanya mengapung beberapa cm dari tanah dan juga mampu melakukan hal yang sama pada benda-benda padat.
Alasan sihir ini diajarkan pada anak-anak sekolah dasar adalah untuk pencegahan terluka parah bila jatuh dari tempat tinggi. Sebelum mendarat mereka bisa mengapung sesaat untuk meminimalisir dampak terjatuh.
"Jade, lulus!"
"Zetnar, lulus!"
Satu persatu anak dipanggil. Saat di depan kelas mereka mengimajinasikan formasi sihir di dalam kepala lalu mengerahkan energi sihir bernama enera untuk mengapung. Jika mengapung lebih dari 3cm di atas lantai maka dianggap berhasil.
Setiap yang dipanggil sejauh ini selalu berhasil. Meskipun beberapa kesusahan, ujung-ujungnya mereka berhasil juga.
"Regil Amarta, maju ke depan."
Tubuh Regil tersentak. Usai menelan ludah ia beranjak dari tempat duduknya yang ada di pojokan lalu berjalan perlahan ke depan kelas.
"Hahaha, orang suram itu. Memangnya bisa?"
"Dia 'kan magiar-nya rusak. Aku yakin dia tidak akan mampu mengapung."
"Magiar itu 'kan jaringan di otak untuk membantu kita membayangkan formasi sihir secara cepat ... apa dia bisa mengapung tanpa itu?"
"Bisa, tapi cuma 1cm. Pfftt."
"Uhuk! Uhuk! Bau alkohol. Hahahaha."
"Uhh ... aku tidak ingin melihatnya."
Sebagian murid membicarakan Regil. Menjelek-jelekkannya. Baik serius karena benci maupun sekedar bercanda. Ada yang kasihan, tapi lebih banyak yang mengejek.
YOU ARE READING
Heroism
FantasyGenre: High Fantasy, Action, Magic Demografi: Shounen Dianggap berbeda, ditertawakan, dan dipandang dengan tatapan yang tidak mengenakan. Regil Amarta mengalami banyak kesulitan karena magiar-nya yang rusak dan pengaruh dari keluarga abusive. Di dun...
