Semakin hari, Jakarta semakin gila. Apalagi kalau bicara perihal transportasi umum—beuh, ngeri pokoknya—rame! Apalagi di jam-jam sibuk kisaran pagi atau sore hari. Entah karena pemerintah yang tidak sukses membuat transportasi terintegrasi atau memang karena jumlah manusia di kota ini yang semakin banyak? Entah, pokoknya rame!
KRL di jam-jam orang berangkat kerja? Beuh, jangan ditanya. Tampak seperti bukan transportasi publik lagi, tapi lebih mirip kaleng sarden raksasa yang isinya orang-orang yang sedang berjuang mencari cuan.
Si Sarah—nah, ini tokoh kita—udah kayak ikan kejepit di tengah kerumunan. Dia berpegangan erat banget sama tiang logam KRL, berusaha biar tidak ambruk atau malah kegencet sampai jadi geprek. Buat Sarah, suasana pagi di dalam KRL itu udah kayak "Neraka Dunia Cabang Jabodetabek". Panas, pengap, beraroma campuran antara parfum dan keringat. Tapi ya mau gimana lagi? Dompet Sarah lagi sekarat, dan KRL adalah salah satu pilihan paling murah buat dia yang lagi berjuang di perantauan.
Pas kereta berhenti di salah satu stasiun, Sarah udah mau nangis liat pemandangannya. Orang-orang kayak zombie yang kelaparan, menyerbu masuk lewat pintu depan dengan semangat tempur yang luar biasa. Saling sikut, saling dorong, pokoknya masuk dulu, urusan napas belakangan.
"Sini, lo di belakang gue aja, Sar," bisik Bayu, teman satu kos Sarah yang badannya lumayan tegap.
Sarah tidak mikir dua kali, langsung mengangguk cepat. Dia mundur selangkah, memposisikan dirinya tepat di belakang punggung Bayu. Untungnya, tempat kerja mereka itu satu jalur. Jadi, walaupun mereka tidak janjian berangkat kerja bareng, ujung-ujungnya pasti mereka ketemu di stasiun dekat kosan dan masuk gerbong yang sama. Kalau lagi hoki, mereka bisa dapet kursi dan duduk manis. Tapi kalau lagi apes—kayak pagi ini—Sarah terpaksa berdiri. Tapi ya lumayanlah, Bayu bisa jadi tameng hidup biar dia tidak kejepit.
"Anjrit, kok rame banget ya Bay? Ada konser gratisan apa gimana?" Sarah protes, suaranya agak teredam karena wajahnya hampir nempel di punggung Bayu.
Bayu menoleh sedikit, ngasih liat ekspresi wajah yang pura-pura terima keadaan—padahal dia juga kurang nyaman dengan situasi. "Satu gerbong kereta rute kita ada yang gangguan teknis tadi subuh, Sar. Jadi ya gitu, semua penumpang numpuk di dua gerbong sisanya. Ya wasalam deh kita."
Sarah cuma bisa meringis. Dia memang sempet dengar obrolan bapak-bapak di peron soal gerbong yang Bayu katakan, tapi dia tidak nyangka efeknya bakal se-menyiksa ini.
"Tas lo jagain, Sar. Copet di sini udah kayak atlet, lincah banget," saran Bayu.
Sarah langsung sigap. Tangan kirinya mendekap tas selempang hitam kecil di bawah dadanya.
Keadaan di dalam gerbong makin kacau. Penumpang yang udah di dalam berusaha geser-geser kasih ruang buat yang baru masuk, yang efeknya bikin posisi Sarah makin mepet—bener-bener mepet—sama tubuh Bayu. Pas pintu otomatis tertutup dengan bunyi cesss ... Sarah resmi terjebak.
Di sinilah masalahnya dimulai ...
Bayu berdiri agak menyamping, menghadap jendela. Tangan kanannya pegangan tiang, sementara tangan kirinya yang bebas jatuh santai di pinggang. Sebenarnya, kalau dilihat sekilas, posisi Bayu itu normal-normal aja. Tidak ada yang aneh. Tapi yang jadi masalah adalah posisi tubuh Sarah. Karena saking penuhnya KRL, punggung tangan kiri Bayu justru menekan tepat di payudara sebelah kanan Sarah. Dan yang lebih gila lagi, tempurung telapak tangan Bayu nempel di pangkal paha perempuan itu, cuma berjarak beberapa milimeter dari selangkangan.
Sarah bisa merasakan panas tubuh Bayu yang menembus pakaiannya. Dia tahu banget kalau Bayu tidak sengaja. Cowok itu bahkan kayaknya tidak sadar kalau tangannya lagi "parkir" di area terlarang. Soalnya, dari tadi mata Bayu cuma fokus natap pemandangan kota Jakarta di balik jendela.
Sarah mencoba gerak kiri-kanan, nyari celah biar bisa geser dikit. Tapi ya elah, ruang geraknya udah nol. Di sekelilingnya cuma ada bapak-bapak berbadan besar dan mas-mas kantoran yang juga udah mau mati karena lemes. Sarah pikir, kalau dia maksa geser, kemungkinan besar dia bakal nempel sama orang asing. Jadi, dia memutuskan buat pasrah. Yaudahlah, yang penting aman, batinnya.
Tapi masalahnya, otak manusia itu aneh. Sekali dia sadar ada tangan cowok di area sensitifnya, pikiran itu jadi kayak video yang muter terus. Sarah tidak bisa berhenti mikirin posisi tangan Bayu.
Apa gue kasih tau aja ya? Sarah bimbang. Tapi dia bayangin kalau dia bilang, "Bay, tangan lo nempel di tetek gue," pasti suasananya bakal jadi awkward banget. Malunya bisa sampai ke ubun-ubun.
Akhirnya, Sarah milih diem. Dia mencoba menghibur diri kalau yang menekan payudaranya itu cuma lengan, bukan telapak tangan. Dan tempurung telapak tangan Bayu yang ada di dekat "tombol"-nya itu bukan sesuatu yang berbahaya.
Sialnya, KRL tiba-tiba menghantam sambungan rel yang agak kasar. Guncang!
Bukan guncangan hebat, tapi cukup buat bikin keseimbangan Bayu goyah. Dan di saat itulah, tangan kiri Bayu yang tadinya diam, tiba-tiba berputar dan bergeser.
Sarah tersentak. Dia menunduk dan matanya membelalak. Sekarang, telapak tangan Bayu yang menempel, dan gilanya, nempel pas di selangkangannya, tepat di atas area tubuhnya yang paling sensitif.
Anjir! Sarah panik. Dia mencoba gerak lagi, tapi tetap saja, dia terkunci. Dia benar-benar terjebak dalam dekapan tak sengaja teman kosnya sendiri.
Gimana nih? Masa gue teriak 'Bay, tangan lo di memek gue!' di tengah KRL? Sarah menghela napas berat. Yang bikin dia makin stres, salah satu ujung jari Bayu terasa pas banget berada di celah lubangnya. Dia bertanya-tanya, apa Bayu sadar? Tapi pas dia liat wajah Bayu, cowok itu masih asik natap jendela, seperti benar-benar tak menyadari konflik yang sedang Sarah rasakan.
Lalu, kereta kembali berguncang saat berbelok. Gerakan itu bikin jari-jari Bayu yang nempel di selangkangan Sarah bergerak-gerak kecil. Ada gesekan yang terjadi di sana—gesekan yang tidak disengaja, tapi efeknya luar biasa.
Sarah membuang napas, mencoba meredakan jantungnya yang berdegup kencang. Tapi ada sesuatu yang aneh. Di balik rasa paniknya, Sarah merasakan ada sengatan listrik yang menjalar dari selangkangannya menuju seluruh tubuh. Ada rasa hangat yang mulai mengalir, sesuatu yang menyenangkan yang sulit dia jelaskan. Kalau harus dijelaskan, mungkin rasanya kayak rasa pedas yang bikin ketagihan.
KRL kembali berulah, mengerang saat melintasi tikungan tajam. Getaran kereta itu seolah bersekongkol dengan jari-jemari Bayu untuk memberikan stimulasi tambahan. Kali ini, gesekannya terasa lebih nyata, lebih pas. Sarah refleks menahan napas, matanya terpejam erat, dan dia harus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat supaya desahan kecil tidak lolos dari mulutnya.
Tapi anehnya, walau merasa kurang nyaman, Sarah tidak mau Bayu menjauhkan tangan dari selangkangannya. Ada semacam egoisme nafsu yang tiba-tiba muncul. Makas dia memutuskan untuk tetap pada komitmennya: membiarkan tangan Bayu berada di area sensitif itu. Dia menatap kosong ke luar jendela, membiarkan hiruk pikuk Jakarta menjadi latar belakang pertarungannya melawan gairah yang mulai mendidih.
Setiap tikungan, setiap guncangan, setiap kali kereta berhenti, terasa seperti foreplay buat Sarah. Waktu yang biasanya terasa cepat, sekarang jadi terasa lambat, seolah semesta sengaja mau menyiksa Sarah dengan kenikmatan yang menggantung.
Begitu KRL akhirnya sampai di stasiun tujuannya, Sarah merasa ada campuran antara lega dan kecewa. Dia pamit pada Bayu untuk turun duluan, ikut terdorong oleh gelombang manusia yang berebut keluar. Dia baru benar-benar bisa bernapas legaketika kakinya sudah menginjak trotoar stasiun.
KAMU SEDANG MEMBACA
SENTUHAN TAK SENGAJA PEMBAWA PETAKA
RomanceSatu hari. Tiga kecelakaan. Dan satu gairah yang meledak. Bagi Sarah, hari itu dimulai dengan "siksaan" manis saat jari-jari Bayu tak sengaja menggesek titik sensitifnya di tengah padatnya KRL. Namun, itu baru permulaan. Sebuah handuk yang terlepas...
