We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

LANGKAH AWAL

6 1 0
                                        

(CHAPTER 1)

Hari itu, langit cerah seperti biasanya. Hamparan biru yang membentang di atas akademi tampak begitu tenang.

Di depan gerbang Akademi Elysia, para siswa dengan seragam yang sama berjalan melewati gerbang, membawa ekspresi yang berbeda-beda.

Ada yang gugup.

Ada yang bersemangat.

Ada pula yang memasang wajah datar, seolah tiga tahun di akademi ini hanyalah waktu yang akan berlalu begitu saja.

Di antara keramaian itu...

Ada seorang anak laki-laki yang terus tersenyum.

Bukan karena ia paling bahagia.

Melainkan karena senyumnya tak pernah benar-benar hilang.

"Pagi!. Semoga kita bisa berteman baik!"

Seorang siswa menyapaku dengan penuh semangat.

Aku mengangguk pelan.

"Ya... aku juga berharap begitu."

Ia tersenyum puas, lalu berjalan lebih dulu.

Aku tetap berdiri beberapa detik, menatap punggungnya yang perlahan menjauh.

...

"Terlalu melelahkan..... terus berpura-pura", lirihku.

----------------------------------------

Setelah upacara penyambutan murid baru di Akademi Elysia selesai, kami pun menuju kelas yang telah ditentukan beberapa menit sebelumnya.

"Ah... kelas 1-C."

Aku melangkah masuk ke dalam kelas.

Suasananya terlihat seperti kelas pada umumnya.

Beberapa siswa sudah duduk di bangkunya masing-masing sambil memainkan ponsel. Di sisi lain, tiga siswi tampak mengobrol dengan akrab. Sepertinya mereka berasal dari sekolah yang sama sebelum masuk akademi ini.

Mataku kemudian beralih ke depan kelas.

Seorang siswa laki-laki yang baru saja masuk berjalan menuju papan tulis. Tatapan dan langkahnya menunjukkan seolah ia sudah menyiapkan sesuatu untuk dikatakan.

Namun aku tak terlalu memikirkannya.

Aku berjalan menuju bangkuku yang berada di dekat jendela. Tidak terlalu depan, tapi juga bukan paling belakang.

"Wah... bangkunya nggak seperti MC anime."

Aku menghela napas pelan.

"Padahal pengen duduk di pojok."

Aku melirik ke arah belakang.

Bangku paling sudut ternyata sudah ditempati seorang siswa berwajah datar. Ia menopang dagunya dengan satu tangan sambil memainkan ponselnya, sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitar.

"..."

"Hanya gara-gara satu bangku aku kecewa begini."

Aku tersenyum kecil pada diriku sendiri.

"Benar-benar cara berpikir yang aneh."

Yah... setidaknya tempat ini masih dekat jendela. Semoga kepalaku tidak terlalu panas sebelum pelajaran pertama di akademi ini dimulai.

Aku pun duduk.

Pandanganku mengarah keluar jendela. Langit biru dan angin yang berembus pelan membuat suasana terasa begitu tenang.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 25 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

ORDINARY DAYSStories to obsess over. Discover now