"gila, ini sekolah apa komplek, luas banget buset." Kala sedang berdiri di depan denah sekolah, matanya menelusuri gedung-gedung yang berjejer saling berhadapan itu. Ia memegang kepalanya dan menghela nafas frustasi.
"Ada denah segala, kebun binatang kali ya pake denah?" Kala terkekeh, matanya melirik penjelasan di samping kanan, menyipitkan matanya karena tulisan itu terlalu kecil baginya. "Ruang guru dimana ya?"
"Topi bawa ga?" Kala mengerjap, ia menoleh ke belakang begitu ada beberapa murid berjalan di belakangnya sambil bercakap-cakap. Sejenak, gadis itu teralihkan menatap murid-murid yang lengkap dengan atribut.
"Topi.. ya?" Kala sedikit membanting tas ke depan, mengeluarkan topi yang tersimpan di dalam tas lalu memakainya di kepala. "Atribut aku lengkap kan?" Gumamnya langsung spontan memeriksa dasi, gesper, dan juga almamater.
Kemudian lima detik kemudian tersadar, "aku tadi mau ngapain sih?" Lalu kembali menatap denah dan seolah ada lampu di atas kepala, Kala cengengesan sendiri. "Ruang guru ya!"
Matanya kembali menelusuri denah sekolah dengan cermat.
Cendekiawan Bangsa.
Sekolah yang cukup terkenal di sekitaran Bandung, karena reputasinya yang tinggi dan juga akreditasinya yang memuaskan. Sekolah kejuruan terbaik di Bandung dengan menghadirkan lima jurusan. Rpl, Akuntansi, Dkv, Animasi, dan Pemasaran. Tentu, sangat digandrungi semua orang karena sekolah ini sering kejuaraan di beberapa olimpiade, perlombaan bahkan diberikan name tag 'sekolah masa depan yang cerah' oleh menteri pendidikan.
Kala menghela nafas, ia mulai merasa beban di pundaknya bertambah dengan ekspetasi lulusan yang terbaik. Kala juga bisa membayangkan bagaimana nanti persaingan ketat antar siswa yang mengutamakan sistem rangking. Pasti jauh lebih berat daripada sekolah sebelumnya.
Atau mungkin.. sekolah lama jauh lebih berat daripada di sini.
Kala memantapkan hati, berjalan menuju riuhnya sekolah, pusat dimana siswa-siswi saling berkomunikasi antar kelas. Sebuah lapangan besar yang terletak di tengah-tengah gedung. Terlihat begitu terurus dan terawat.
Hendaknya pergi ke ruang guru, Kala melipir ke kiri, bukan ke ruang guru-kepala kecilnya terlalu sulit mengingat denah sekolah- melainkan ke ruang administrasi. Kaki mungilnya, melangkah dengan presisi karena gugup.
Brakk!!
Belum sampai lorong kelas, bahunya tertabrak seseorang sampai terjatuh. Tersungkur ke depan, dengan posisi telapak tangan dan lutut menyentuh tanah kasar. Dokumen yang dipeluk berhamburan kemana-mana, berterbangan kemana angin membawa.
Kala meringis, kemudian menoleh ke belakang. "What the hell?!" Umpatan itu lolos begitu saja dari bibir mungilnya.
Sontak, pemandangan itu membuat siswa siswi di sekitar memandang Kala dengan keheranan.
"Mata tuh dipake! Jalan pake mata bukan dengkul!" Semprot Kala sambil berdiri dengan terpogoh. Menatap lelaki yang wajahnya terlihat datar.
"Jalan pake kaki."
Spontan membuat Kala melotot. Dia ingin sekali mengumpat di depan wajahnya kalau saja dengkulnya tidak terasa nyeri.
YOU ARE READING
Misjudged
FanfictionDi panggung ini, tidak ada yang benar-benar menjadi dirinya sendiri.
