"... Brissia Niverte, empat puluh."
Rasa kantukku sirna begitu namaku disebut lantang di depan kelas diikuti angka yang kedengarannya bukan hal bagus. Kulihat beberapa teman-teman sekelasku menatapku prihatin. Begitu kesadaranku terkumpul seutuhnya, barulah aku paham maksud ucapan laki-laki berkemeja hitam yang berdiri di depan papan tulis itu.
"HAAH!?" pekikku, yang langsung disusul dengan jengitan bahu teman-teman sekelasku. Namun, tak kutemukan keterkejutan sedikit pun di sosok laki-laki di depan papan tulis itu—asisten dosen mata kuliah Akuntansi Keuangan. Ia hanya menatapku datar sesaat sebelum berjalan keluar kelas.
Jarum jam yang menunjukkan pukul satu siang membuatku sadar bahwa aku sudah tertidur selama lima puluh menit. Saat ini sudah memasuki pergantian kelas dan tentunya, para mahasiswa dan mahasiswi di sekitarku mulai bangkit dari tempat duduk.
Sambil mengguncang bahu dua teman sebangkuku, aku berdesis, "Ji! Niko! Kok kalian gak bangunin gue, sih, dari tadi?"
Gierra dan Nicholas, yang kerap kusapa Ji dan Niko, menatapku jengah. Keduanya adalah sahabatku sejak semester satu. Ji adalah perempuan keturunan campuran Indonesia dan Tiongkok yang berani dan selalu berpenampilan manis, sementara Niko adalah laki-laki keturunan Indonesia asli yang cenderung protektif dan sering mengenakan jaket kulit.
Kulihat Niko memutar bola matanya sebelum bercelatuk, "Kita udah gantian bangunin elo! Tapi tangan kita malah lo pukul."
Alisku naik. Masa, sih, aku sekasar itu?
Lalu, Ji terkikik. "Lo mimpi apa juga sampai pulas banget gitu tidurnya?"
Aku menatap keduanya bergantian tanpa langsung menjawab. Sebenarnya, aku bermimpi aneh tadi; aku berada di sebuah kota tua, di mana para penduduknya terlihat seperti para pemain film sejarah negara-negara Barat yang sering kutonton di akhir pekan. Seolah-olah aku baru saja terlempar ke masa lalu lewat mimpi.
Eh, tunggu ... ada yang lebih penting dari itu!
Kupercepat langkahku hingga mendahului Niko dan Ji.
"Bris! Mau ke mana?!"
Suara Niko menggema di belakangku. Ampun, deh, malu sekali rasanya diteriaki seperti itu! Namun, aku tidak berniat berhenti berlari hanya karena ia memanggilku sekeras itu.
"Menyelamatkan diri!" seruku sampai-sampai kulihat beberapa mahasiswa menoleh ke arahku. Harus kuakui, aku 'sedikit' heboh, tapi aku tidak peduli. Aku juga tidak tahu kapan aku akan menjadi gadis yang tenang. Terlebih, dunia bergerak begitu cepatnya di hadapanku.
Aku menemukan sosok lelaki berkemeja hitam dan bercelana panjang cokelat yang sedang berjalan memunggungiku sepuluh meter dariku. Lihat betapa suramnya asisten dosen itu—seperti malaikat maut! Memang, sih, nyawaku bergantung pada nilaiku dan upayaku membujuk rayu asisten dosen itu agar mau menerima pengajuan perbaikan nilai Akuntansi Keuangan-ku.
"Kak!" panggilku agak keras begitu aku berhasil meraih ujung baju asisten dosen itu.
Asisten dosen itu menoleh cepat sebelum akhirnya menatapku kesal.
Aku mengatur napasku sejenak sebelum memintanya untuk berbicara empat mata denganku. Bukan apa-apa, tapi nilai empat puluh sungguh sebuah hal yang memalukan untuk didengar banyak orang di kampus ini, yang terkenal akan para mahasiswanya yang hampir tidak pernah remedial.
Sejujurnya, aku tidak pernah memiliki secuil pun keinginan untuk masuk jurusan Akuntansi. Yah, tapi apa yang bisa kuperbuat jika kedua orangtuaku yang memilihkannya untukku? Beragam cara sudah kulakukan untuk menunjukkan ketidaksudian diriku terhadap pilihan mereka, tapi tetap saja pada akhirnya begini.
YOU ARE READING
Seberang
RomanceBrissia terlempar ke sebuah kota tua di dunia paralel bernama Archtier saat berniat meminta bantuan sosok asisten dosen memperbaiki nilai tugas kuliahnya. Ketika sampai di dunia yang berbeda, Brissia berjumpa dengan sosok polisi yang menyerupai asis...
