Di dunia yang beresonansi dengan sesuatu yang tak sepenuhnya manusia, setiap individu membawa "gema" yang menentukan batas antara kewarasan dan kehancuran. Namun tidak semua gema seharusnya ada.
Park Junseo hanyalah seorang pemuda yang mencoba berta...
Oops! Questa immagine non segue le nostre linee guida sui contenuti. Per continuare la pubblicazione, provare a rimuoverlo o caricare un altro.
"Lagi?"
Junseo berbisik pada bayangannya sendiri di cermin wastafel yang sedikit buram. Suaranya serak, tenggelam di antara gemericik air keran yang mengalir deras, membasuh noda merah pekat yang mengalir dari lubang hidung kanannya.
Ia meraih gulungan tisu dari atas meja kecil di sudut kamar mandi, menarik beberapa lembar dengan kasar, lalu menyumbatkannya ke dalam hidung. Warna putih bersih itu langsung berubah menjadi merah padam dalam hitungan detik.
Kain kaus abu-abu yang dipakainya sudah ternoda beberapa tetes darah kering dari kejadian dua hari lalu, dan kini, noda baru yang masih hangat ikut bergabung.
Ini sudah ketiga kalinya minggu ini.
Jika ini terjadi di tengah musim kemarau yang terik, Junseo mungkin bisa merasionalisasikannya sebagai akibat dari udara yang terlalu kering atau kelelahan karena jadwal kuliah yang padat. Namun, di luar sana, hujan pertengahan November sedang turun dengan lebatnya. Udara kamar kosnya bahkan cenderung lembap dan dingin.
Padahal ia tidak sedang sakit.
Tidak demam.
Tidak flu.
Tidak apa-apa.
Setidaknya, itulah yang dikatakan oleh termometer digital dan logika medisnya. Kemarin sore ia bahkan sempat memeriksa tekanan darahnya di klinik kampus, dan hasilnya sangat normal: 120/80 mmHg. Dokter umum di sana hanya tersenyum ramah, mengatakan bahwa Junseo mungkin hanya kekurangan vitamin C atau terlalu banyak menatap layar laptop saat mengerjakan tugas akhir.
Dia diberi sebotol suplemen dan disuruh pulang untuk tidur lebih awal.
Namun, Junseo tahu ada sesuatu yang keliru. Tubuhnya tidak terasa lelah dengan cara yang biasa. Rasa lelah yang dialaminya akhir-akhir ini terasa... asing.
Seperti ada sebuah mesin yang dipasang di dalam dadanya, bekerja terlalu keras, memompa sesuatu yang bukan darah ke seluruh pembuluh sialan ini hingga dinding-dinding kapiler di hidungnya menyerah dan pecah.
Tapi mimisan itu terus datang. Seolah tubuhnya sedang mencoba memberi tahu sesuatu. Sayangnya, ia tidak tahu apa.
Junseo mendongakkan kepala, menatap langit-langit kamar mandi yang berjamur tipis di sudutnya. Bau anyir darah bercampur dengan aroma pembersih lantai menciptakan kombinasi yang memuakkan. Ia memejamkan mata, merasakan denyut konstan di belakang pelipisnya. Denyutan itu tidak sakit, melainkan berirama.
Deg, deg, deg.
Lambat, namun sangat bertenaga. Rasanya seperti mendengarkan langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat dari kejauhan di dalam kepalanya sendiri.
Setelah hampir sepuluh menit berdiri dalam posisi kaku, aliran darah itu akhirnya melambat. Junseo mencabut sumbatan tisu yang sudah jenuh, membuangnya ke tempat sampah, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin hingga bersih.