Part 1: The Orphan's Choice

298 29 1
                                        


---

Gao Tu duduk di sudut kafe murah dekat kampus, menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Tagihan kuliah semester depan terpampang jelas di layar. Angka itu terlalu besar untuk ukuran seorang mahasiswa yatim piatu yang tidak memiliki siapa-siapa. Uang di rekeningnya saat ini hanya cukup untuk makan selama dua minggu ke depan—itu pun jika dia hanya makan sekali sehari.

Dia menghela napas panjang dan menutup aplikasi perbankan. Di depannya, secangkir kopi hitam sudah dingin sejak setengah jam lalu. Dia tidak punya uang untuk memesan yang baru.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Li Wei masuk.

"Tu, kamu udah lihat lowongan yang aku kirim? Coba aja, siapa tau cocok. Banyak anak kaya butuh pendamping acara. Gajinya gede banget!"

Gao Tu tersenyum miris. Jari-jarinya mengetik balasan.

"Lu serius? Gue jadi pendamping orang kaya?"

"Lu pinter, sopan, dan ganteng. Kenapa enggak? Orang kaya tuh suka sama orang yang bisa diajak ngobrol. Cobain aja, Tu. Nggak ada ruginya."

Gao Tu menggigit bibir bawahnya. Li Wei memang selalu berusaha membantu, tapi menjadi pendamping acara untuk orang kaya terdengar tidak sesuai dengan prinsipnya. Dia bukan tipe orang yang suka menjilat atau bergantung pada belas kasihan orang lain.

Tapi tagihan tidak bisa dibayar dengan prinsip.

Dia menggulir layar ke bawah, membaca ulang iklan yang dikirim Li Wei.

"Dibutuhkan pendamping untuk acara-acara sosial dan keluarga. Gaji tinggi. Kerahasiaan terjamin. Tidak ada pengalaman diperlukan. Hubungi nomor berikut untuk wawancara."

Gao Tu mengetuk-ngetuk meja kayu tipis di depannya. Keputusannya harus diambil malam ini. Besok adalah batas akhir pembayaran, dan jika dia melewatkannya, dia harus mengundurkan diri satu semester. Dan itu berarti mimpi lulus tepat waktu akan hancur. Semua perjuangannya selama ini sia-sia.

Dia menatap kopi dinginnya, lalu menatap langit di luar jendela kafe. Langit Shanghai sedang kelabu, seolah-olah ikut merasakan kegalauannya.

Dengan tangan gemetar, dia menekan nomor yang tertera di iklan. Telepon berdering tiga kali sebelum seseorang menjawab.

"Selamat sore, ini Elysian Companion. Ada yang bisa saya bantu?" Suara wanita di ujung telepon terdengar ramah dan profesional.

Gao Tu menarik napas dalam-dalam. "Selamat sore, saya Gao Tu. Saya tertarik dengan lowongan pendamping yang Anda tawarkan."

"Selamat sore, Tuan Gao. Saya Nyonya Chen, pemilik agensi Elysian Companion. Bisa Tuan datang ke kantor kami besok pagi untuk wawancara?"

Gao Tu mengangguk meski dia tahu tidak ada yang melihatnya. "Baik, Nyonya. Saya akan datang. Jam berapa yang tepat?"

"Jam sembilan pagi, Tuan. Saya akan mengirimkan alamatnya melalui pesan."

"Terima kasih, Nyonya Chen."

Telepon ditutup. Gao Tu menatap layar ponselnya yang menunjukkan nomor itu tersimpan. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk berisi alamat di distrik pusat Shanghai.

Dia hampir tersedak membaca alamat itu. Gedung di kawasan bisnis paling elit di Shanghai, di mana sewa per meternya bisa menghabiskan seluruh uang makannya selama setahun penuh.

"Gila..." gumamnya pelan.

Dia tidak punya banyak pilihan. Besok pagi, dia akan pergi ke sana dengan kemeja putih satu-satunya yang masih layak dipakai dan berharap semuanya berjalan baik.

Three Months, Three HeartsStories to obsess over. Discover now