1-keluar dari rumah

934 59 2
                                        

Malam itu, keheningan kompleks perumahan elit terusik oleh suara deru mesin mobil yang perlahan menjauh, Namtan melangkah turun dengan tubuh yang limbung.

Kesadarannya hampir menguap, menyisakan pandangan yang kabur dan langkah kaki yang sangat tidak stabil sambil berpegangan pada pilar teras, ia bersusah payah melangkah masuk ke dalam rumah mewah yang tampak sunyi itu.

Begitu pintu jati besar itu tertutup rapat, Namtan menghela napas lega, menyandarkan punggungnya di sana, namun ketenangan itu hanya bertahan sedetik.

"Mabuk lagi kamu Namtan?"
Sebuah suara berat dan dingin memecah kesunyian dari arah belakang.

Suara itu seketika membuat bulu kuduk Namtan berdiri, sedikit mengikis rasa kantuk yang menggelayuti matanya.

Namtan menoleh perlahan, mendapati sosok sang ayah sudah berdiri tegak di bawah temaram lampu aula, rahangnya mengeras, dan tatapan matanya menyiratkan amarah yang sudah berada di ubun-ubun.

"Eh Papa hehehe," gumam Namtan terbata-bata, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba memberikan cengiran polos andalannya demi mencairkan suasana, meski tubuhnya masih kentara sekali sempoyongan.

"Kapan sih kamu berhenti bersikap seperti ini Namtan?" Suara sang ayah meninggi, sarat akan kekecewaan yang mendalam, kebungkaman malam itu kini sepenuhnya pecah oleh tuntutan yang menuntut jawaban.

"Ling sudah..." Sebuah suara lembut menyela dari kegelapan koridor, sang istri muncul dari balik bayang-bayang, melangkah mendekat dengan gurat kecemasan yang jelas terlukis di wajahnya.

Lingling menoleh cepat, emosinya yang semula tertuju pada Namtan kini beralih pada istrinya.

"Bela saja terus anak kamu itu Orm, Kamu terlalu memanjakannya sampai dia tidak tahu cara menjadi mandiri!" Napas Lingling memburu, tatapannya menajam. "Dia sama sekali tidak seperti Pansa."

Nama itu disebut, dan atmosfer di ruangan seketika berubah, kalimat singkat dari mulut ayahnya seolah menjadi hantaman keras yang langsung menembus kabut alkohol di kepala Namtan.

Rasa peningnya mendadak menguap, tergantikan oleh rasa sesak yang membakar dada.

"Papa memang lebih sayang pada Pansa" sergah Namtan, suaranya bergetar antara amarah dan luka yang selama ini dipendamnya dalam-dalam.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang merah. "Apa-apa Pansa, ini Pansa, itu Pansa, lalu aku? Aku hanya selalu dibanding-bandingkan dengan anak kesayangan Papa itu!"
Tanpa menunggu balasan dari sang ayah, Namtan membalikkan badan dengan kasar.

Dengan sisa-sisa kesadaran dan langkah yang masih sempoyongan, ia memaksakan kakinya menaiki anak tangga satu demi satu, mengabaikan panggilan ibunya yang tertinggal di bawah, dan hanya ingin segera bersembunyi di balik pintu kamarnya.

"Kamu bisa tidak sih, berhenti membeda-bedakan Namtan dan Pansa? Mereka itu anak kembar kita" Suara Orm bergetar, menahan tangis sekaligus amarah yang buncah.

Tatapannya menuntut penjelasan, terluka melihat bagaimana ego sang suami terus-menerus mengiris hati putri mereka.

"Aku berbuat seperti itu agar Namtan sadar dengan sikapnya yang tidak mau mandiri" balas Lingling membela diri, suaranya masih meninggi, meski ada kilat frustrasi di matanya yang lelah, bagi Lingling, ketegasannya adalah bentuk didikan, bukan kebencian.

"Kamu selalu begitu, selalu punya alasan untuk membenarkan caramu yang salah," ucapan Orm meluncur pelan, namun terasa begitu dingin menembus keheningan malam.

Enggan melanjutkan perdebatan yang hanya akan berujung sia-sia, Orm membalikkan tubuhnya, tanpa menoleh lagi ia melangkah cepat menaiki anak tangga, menyusul ke lantai atas menuju kamar tidur mereka

Our Love | NamtanfilmStories to obsess over. Discover now