BAB 1

5 1 0
                                        


Sekarang hampir semua orang memanggilku dengan nama depan.

Rasanya biasa saja sekarang. Aku selalu menoleh ketika nama itu dipanggil dari kejauhan, menulisnya di kertas tugas, mendengarnya disebut saat absensi, atau melihatnya muncul di layar ponsel.

Nama itu sudah terlalu lama menempel dalam hidupku sampai aku lupa kalau dulu aku pernah merasa tidak nyaman dengan namaku sendiri.

Waktu SD, teman-teman lebih sering memanggilku dengan nama belakang.

Awalnya biasa saja, sampai beberapa anak mulai menemukan cara untuk menjadikannya ejekan kecil yang diulang terus-menerus. Mereka menyebutnya keras-keras lalu tertawa setelahnya, seperti baru mengatakan sesuatu yang lucu.

Anak-anak memang sering tidak sadar kalau sesuatu yang terdengar lucu bagi mereka bisa menetap lama di kepala orang lain.

Aku mulai tidak nyaman mendengar namaku sendiri.

Kadang aku pura-pura tidak dengar saat seseorang memanggil. Kadang aku berharap guru langsung melanjutkan pelajaran tanpa perlu menyebut namaku saat absensi.

Rasanya anch untuk dijelaskan sekarang, tapi bagi anak SD, hal kecil seperti itu bisa terasa besar sekali.

Lalu ada seorang anak laki-laki yang entah sejak kapan mulai memanggilku dengan nama depan. Tidak pernah ada alasan khusus. Tidak ada percakapan penting yang membuat

semuanya berubah. Ia hanya memanggilku begitu saja, seperti itu memang namaku dari awal. Dan anehnya, teman-teman lain ikut berubah.

Aneh sekali mengingat bagaimana hal kecil bisa tinggal sangat lama dalam hidup seseorang.

Karena setelah itu, nama belakangku perlahan hilang dari kelas kami. Tidak ada lagi yang menjadikannya bahan ejekan.

Orang-orang mulai mengenalku dengan nama depan, dan panggilan itu bertahan sampai sekarang.

Orang yang pertama kali melakukannya adalah seseorang yang sekarang bahkan sudah lama tidak kutahu kabarnya. Rumahnya dulu tepat di belakang sekolah dasar kami.

Kalau berdiri di pagar belakang sekolah, rumahnya hanya beberapa langkah dari sana. Sedangkan tepat di depan sekolah kami ada kompi tentara.

Hampir setiap pagi suara apel terdengar sampai ke kelas-kelas. Kadang suara peluit, kadang teriakan yel-yel yang diucapkan serempak, kadang langkah sepatu yang terdengar berat di jalan depan sekolah saat tentara itu berjalan santai di pagi hari.

Ia sangat menyukai semua hal tentang tentara waktu itu. Ia hafal yel-yel mereka. Hafal gerakan-gerakan apel pagi.

Kadang saat jam istirahat ia menirukan gaya baris-berbaris dengan serius, lalu tiba-tiba tertawa sendiri sebelum benar-benar terlihat keren.

Aku masih ingat bagaimana wajahnya saat kecil.

Badannya agak berisi, tapi bukan gendut. Hanya terlihat padat seperti anak laki-laki yang aktif berlari ke sana kemari. la juga gampang sekali berkeringat.

Bahkan baru beberapa menit bermain di lapangan, bagian punggung bajunya sudah basah.

Rambut depannya sering menempel di dahi karena keringat, tapi anehnya ia selalu tetap tertawa seolah tidak merasa gerah sama sekali.

Ia memang gampang tertawa dulu.

Hal-hal kecil saja sudah cukup membuatnya tertawa sampai matanya menyipit.

Dan ia juga hampir selalu terlambat.

Bahkan sekarang, kalau mengingat masa SD, hal pertama yang muncul di kepalaku selain tawanya adalah gerbang sekolah yang hampir tertutup.

RUMAH BELAKANG SEKOLAHStories to obsess over. Discover now