Kereta uap itu meluncur ke dalam Stasiun Agatha tepat saat sore meredup. Asap putih membubung dari cerobong lokomotif, mengembang pelan sebelum angin memporak-porandakannya menjadi serpihan kabut tipis yang membaur dengan langit kelabu. Alaric Garath berdiri di antara para penumpang yang bergegas turun-para pedagang dengan koper-koper besar, keluarga yang sibuk memanggil satu sama lain, dan seorang perwira berseragam biru yang berjalan dengan langkah kaku penuh wibawa. Di tengah kesibukan itu, Alaric tidak tergesa-gesa.
Ia turun dari gerbong pertama dengan langkah mantap, meletakkan koper kulit cokelat tuanya di atas peron dengan hati-hati. Matanya-sepasang mata berwarna abu tembaga yang tampak lebih tua dari usianya-bergerak tenang menyisir peron. Stasiun Agatha bukan stasiun besar. Atapnya dari besi dan kaca buram, beberapa panel kacanya retak dan ditambal dengan kayu. Tiang-tiang bercat putih yang mulai mengelupas berdiri di sepanjang peron, dan di ujung stasiun, sebuah jam besi besar bertuliskan nama kota dalam huruf cetak yang agak memudar.
Agatha. Sebuah kota yang hidup karena akademinya, bukan sebaliknya.
Alaric mengambil kopernya dan berjalan keluar dari stasiun tanpa banyak melirik ke kiri atau ke kanan. Di luar, deretan kereta kuda menunggu di sepanjang jalan berbatu. Para kusir menawarkan jasa mereka dengan suara keras, bersaing satu sama lain. Alaric memilih yang paling diam-seorang pria tua berjanggut kelabu yang duduk sambil mengisap pipa, seolah tidak peduli apakah ia mendapat penumpang atau tidak.
"Akademi," kata Alaric singkat.
Pria tua itu mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan Alaric naik ke dalam kereta dengan apresiasi diam-diam atas itu.
Akademi Agatha tampak dari kejauhan seperti bangunan tua yang menolak untuk tua. Arsitekturnya adalah campuran era-fondasi batu kelabu yang sudah ada jauh sebelum Kerajaan Envuella berdiri, dengan sayap-sayap bangunan baru yang ditambahkan dalam beberapa dekade terakhir menggunakan batu bata merah. Hasilnya adalah sesuatu yang seharusnya terasa janggal namun entah bagaimana justru tampak kokoh, seperti seseorang yang menua dengan anggun.
Kereta berhenti di depan gerbang besi besar yang terbuka lebar. Alaric turun, membayar kusir, lalu berjalan masuk.
Halaman depan akademi cukup luas untuk menampung puluhan orang-dan memang sedang ditempati oleh puluhan orang. Beberapa siswa baru seperti dirinya berdiri berkelompok, beberapa terlihat gugup, beberapa lagi berusaha terlihat tidak gugup. Para staf berseragam abu-abu bergerak di antara kerumunan, mengarahkan orang ke sana ke sini. Alaric tidak bergabung dengan kerumunan mana pun. Ia berjalan lurus, matanya bergerak lambat menyisir lingkungan-gedung utama, sayap timur yang tampak lebih baru, deretan pohon tinggi yang membatasi lapangan di sebelah kiri, sebuah menara jam di sudut barat yang jarumnya tampak berjalan lebih lambat dari seharusnya.
Detail terakhir itu membuatnya mengernyit sebentar, lalu ia berjalan terus.
Lobi utama memiliki langit-langit tinggi dan lantai marmer gelap yang dipoles hingga memantulkan bayangan siapa pun yang melangkah di atasnya. Di salah satu sisi ruangan, sebuah meja resepsionis panjang dijaga oleh dua staf-seorang pria muda yang sibuk menyortir berkas, dan seorang wanita paruh baya dengan kacamata bulat yang tampak jauh lebih efisien dari rekannya.
Alaric menghampiri meja itu dan, tanpa basa-basi, meletakkan selembaran di atas permukaan meja. Surat penerimaan resminya, lengkap dengan cap Akademi Agatha dan meterai Viscount Garath di pojok kiri bawah.
Wanita itu menatap dokumen itu sebentar, lalu menatap Alaric sebentar, lalu kembali ke dokumen itu.
"Nama?" tanyanya, meskipun ia sepertinya sudah tahu jawabannya dari dokumen tersebut.
CZYTASZ
Agatha Academy
FantasyAkademi Agatha menjadi awal babak baru bagi Alaric Garath, putra bangsawan yang tenang dan penuh perhitungan, saat ia memulai tahun pertamanya di sekolah sihir bergengsi Kerajaan Envuella tersebut. Di tengah para siswa yang saling memamerkan kemampu...
