BAB 1 : Bus 47 Berangkat

30 1 0
                                        

Hujan turun sejak sore.
Langit yang semula hanya diselimuti awan gelap kini berubah menjadi lautan hitam tanpa bintang. Kilatan petir sesekali membelah cakrawala, menerangi kompleks penahanan sementara yang berdiri di pinggiran kota.
Udara terasa dingin.
Di halaman belakang kompleks, sebuah bus tahanan berwarna abu-abu tua sedang dipersiapkan untuk perjalanan malam.
Nomor armadanya sederhana.
BUS 47.
Bagi sebagian besar petugas, itu hanyalah kendaraan pengangkut tahanan biasa.
Namun tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa perjalanan malam itu akan menjadi awal dari salah satu kasus kriminal terbesar dalam sejarah negara.
Di bawah guyuran hujan, beberapa petugas bersenjata berjaga di sekitar kendaraan.
Mesin bus masih menyala.
Asap tipis keluar dari knalpot.
Di dalam kabin depan, sopir bus bernama Surya mengecek panel instrumen.
"Rem aman."
Ia melihat layar kecil di dashboard.
"Tekanan ban aman."
Kemudian ia menghela napas panjang.
Perjalanan menuju Penjara Keamanan Maksimum Rajawali memerlukan waktu hampir lima jam.
Malam yang panjang.
Dan muatan yang jauh lebih berbahaya daripada biasanya.
Pintu baja di bagian belakang terbuka.
Para tahanan mulai digiring keluar satu per satu.
Tangan mereka diborgol.
Kaki mereka dirantai.
Masing-masing diawasi ketat oleh petugas bersenjata.
Salah satu tahanan tersenyum tipis.
Namanya Bagus Setiawan.
Perampok bersenjata yang bertanggung jawab atas belasan kasus pembunuhan.
Di sebelahnya berjalan seorang pria bertubuh besar bernama Roni "Gajah".
Mantan petinju jalanan yang menjadi pembunuh bayaran.
Lalu ada Hendra Kusuma.
Pemalsu dokumen internasional.
Arman.
Bandar narkoba.
Fikri.
Peretas kelas atas.
Dan masih banyak lagi.
Dua puluh tiga tahanan.
Dua puluh tiga ancaman.
Dua puluh tiga alasan mengapa perjalanan malam itu dijaga begitu ketat.
Seorang petugas muda menelan ludah saat melihat mereka.
"Aku nggak suka tugas malam begini."
Rekannya tertawa kecil.
"Kenapa?"
"Perasaanku nggak enak."
"Jangan lebay."
"Tidak serius. Aku benar-benar nggak nyaman."
Petugas yang lebih senior menepuk pundaknya.
"Kau terlalu banyak nonton film."
Mereka tertawa.
Namun entah mengapa, petugas muda itu masih terus memandangi langit.
Seolah ada sesuatu yang akan terjadi.
Sementara itu.
Beberapa kilometer dari lokasi penjara.
Sebuah bengkel tua masih menyala meskipun jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam.
Lampu neon yang redup menerangi ruangan.
Di dalam bengkel, seorang pria sedang membersihkan tangannya dengan kain lap.
Namanya Hendra.
Usianya sekitar empat puluh tahun.
Wajahnya biasa saja.
Tidak tampan.
Tidak menyeramkan.
Sangat mudah dilupakan.
Tipe orang yang bisa duduk di sebelahmu selama dua jam tanpa meninggalkan kesan apa pun.
Ia memandang jam dinding.
Kemudian tersenyum kecil.
"Sudah waktunya."
Di sudut ruangan, sebuah telepon murah bergetar.
Hendra mengangkatnya.
"Ya?"
Suara dari seberang terdengar tenang.
"Bus sudah berangkat."
Hendra menutup mata sejenak.
Seolah menikmati kalimat itu.
"Lanjutkan sesuai rencana."
"Baik."
Sambungan terputus.
Hendra meletakkan telepon.
Lalu kembali membersihkan tangannya.
Sederhana.
Tenang.
Seakan tidak terjadi apa-apa.
Di sisi lain kota.
Sebuah taksi tua berhenti di pinggir jalan.
Pengemudinya sedang menikmati kopi panas.
Namanya Joko.
Pria lima puluh tahun.
Rambut mulai memutih.
Wajah ramah.
Sering membantu penumpang membawa barang.
Tetangga mengenalnya sebagai orang baik.
Tidak pernah membuat masalah.
Tidak pernah terlibat kriminal.
Tidak pernah berurusan dengan polisi.
Setidaknya itulah yang semua orang pikirkan.
Teleponnya berbunyi.
Joko mengangkat panggilan.
"Ya?"
"Bus sudah bergerak."
Joko menatap jalanan yang basah.
Lalu tersenyum.
"Bagus."
"Semuanya siap?"
"Sudah sejak lama."
Sambungan berakhir.
Joko meminum sisa kopinya.
Kemudian menyalakan mesin taksi.
Lampu kendaraan menyala.
Mobil perlahan bergerak menembus hujan.
Pukul 21.30.
Bus 47 akhirnya meninggalkan kompleks penahanan.
Konvoi terdiri dari satu bus utama dan dua mobil pengawal.
Lampu biru berkedip-kedip membelah malam.
Di dalam bus.
Para tahanan duduk berjajar.
Sebagian diam.
Sebagian memejamkan mata.
Sebagian lain memandang ke luar jendela yang dipenuhi tetesan hujan.
Bagus duduk di kursi paling belakang.
Tatapannya kosong.
Namun jika diperhatikan lebih teliti, ada sesuatu yang aneh.
Ia tampak tidak gugup.
Tidak kesal.
Tidak marah.
Justru terlalu tenang.
Seolah ia tahu sesuatu.
Di sisi lain ruangan, seorang tahanan muda berbisik.
"Kau dengar kabarnya?"
"Apa?"
"Katanya malam ini kita bebas."
Tahanan lainnya tertawa.
"Omong kosong."
"Aku serius."
"Siapa yang bilang?"
Pria itu menggeleng.
"Nggak tahu."
"Mungkin cuma rumor."
Percakapan berhenti.
Namun beberapa tahanan saling bertukar pandang.
Ada sesuatu.
Sesuatu yang mereka sembunyikan.
Sementara itu.
Mobil pengawal depan.
Komandan pengawalan bernama Wahyu sedang memperhatikan peta digital.
"Kalau cuaca begini kita terlambat sekitar tiga puluh menit."
Rekannya mengangguk.
"Hujan makin deras."
"Pastikan komunikasi tetap terbuka."
"Siap."
Radio masih bekerja normal.
Semua terlihat baik-baik saja.
Terlalu baik.
Pukul 22.15.
Konvoi memasuki kawasan pegunungan.
Jalan mulai menanjak.
Kabut turun perlahan.
Jarak pandang berkurang.
Lampu kendaraan hanya mampu menembus beberapa meter di depan.
Surya mulai memperlambat laju bus.
Tangannya menggenggam kemudi lebih erat.
"Kabut sialan."
Ia mengaktifkan wiper dengan kecepatan maksimum.
Tetapi hujan semakin deras.
Jalan berubah licin.
Di belakang.
Para tahanan mulai gelisah.
Beberapa tampak tersenyum.
Beberapa justru menahan napas.
Seolah sedang menunggu sesuatu.
Surya melihat kaca spion.
"Kenapa mereka kelihatan aneh?"
Salah satu petugas penjaga ikut melihat.
"Aneh bagaimana?"
"Entahlah."
Belum sempat ia melanjutkan kalimatnya.
Terdengar suara kecil.
Klik.
Sangat pelan.
Hampir tidak terdengar.
Surya mengernyit.
"Apa itu?"
Petugas menggeleng.
"Tidak tahu."
Kemudian suara itu muncul lagi.
Klik.
Kali ini lebih jelas.
Dari bawah kendaraan.
Surya mulai merasa tidak nyaman.
Ia mencoba menginjak rem sedikit.
Bus melambat.
Namun sepersekian detik kemudian.
Matanya membelalak.
Rem terasa aneh.
Terlalu ringan.
Jantungnya langsung berdegup keras.
Ia menginjak pedal lebih dalam.
Bus tetap melaju.
"Apa..."
Keringat dingin muncul di dahinya.
Ia menginjak rem sekali lagi.
Tidak ada respons.
Wajahnya pucat.
"Rem bermasalah!"
Petugas di sebelahnya langsung menoleh.
"Apa?!"
"Rem tidak bekerja!"
Suara alarm mulai berbunyi.
Lampu merah menyala di dashboard.
Konvoi mendadak kacau.
Radio berderak.
"Bus 47 melapor! Rem gagal!"
"Ulangi!"
"REM GAGAL!"
Mobil pengawal depan langsung mengurangi kecepatan.
Tetapi semuanya terlambat.
Bus sedang berada di jalur menurun.
Hujan deras.
Jalan licin.
Dan tikungan tajam berada tepat di depan.
Surya berusaha memutar kemudi.
Ban bergesekan keras dengan aspal.
Suara jeritan logam memenuhi udara.
Para tahanan berteriak.
Petugas kehilangan keseimbangan.
Bus tergelincir.
Melayang.
Kemudian—
BRAAAAAKKK!!
Tubrukan keras mengguncang malam.
Kaca pecah.
Besi melengkung.
Tubuh manusia terlempar ke segala arah.
Bus menghantam pembatas jalan.
Berputar.
Lalu terbalik.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Sebelum akhirnya berhenti di lereng berbatu.
Keheningan menyelimuti pegunungan.
Hanya suara hujan yang masih turun tanpa ampun.
Lampu bus berkedip.
Kemudian padam.
Gelap.
Total.
Namun jauh di atas bukit.
Seseorang sedang memperhatikan lokasi kecelakaan menggunakan teropong malam.
Pria itu berdiri di bawah payung hitam.
Tidak bergerak.
Tidak berbicara.
Hanya melihat.
Lalu ia mengambil telepon.
"Fase pertama selesai."
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Permainan dimulai."

BUS 47 : Pelarian Tanpa JejakStories to obsess over. Discover now