Mulai dari Meja Makan

13 3 0
                                        

Hai semua! Selamat datang di cerita baru aku. Masih #chicklit yahhhhh soalnya aku mupeng sudah dengan fiksi remaja yang isinya cuman bucin, tiba-tiba salah paham, ujung-ujungnya kalo nggak salah satu mati, ya gede nanti nikah.

Cerita apa nih, Na? Nah ini cerita tentang seorang perempuan gen z yang pengen nikah, tapi nggak mau punya anak. Namanya apa? Yap! Childfree. Ada yang berpikir sama?

Wajar, seorang perempuan takut punya anak, takut waktu lahiran. Apasih yang ditakutkan? Menurut ku sih..

Pertama, economy. Ekonomi tuh jahat. Pembunuh paling kejam. Wajar kita takut anak kita kebutuhannya tidak terpenuhi atau serba kekurangan.

Kedua, takut belum siap mental. Yang soal nikah belum tentu siap rawat anak. Takut baby blush, takut waktu anak rewel malah kita yang nangis. So, kalo udah nikah, mulai belajar kontrol emosional untuk perkembangan mental ibu dan anak yang baik :)

Banyak faktor deh. Gue bukan dokter anak, bukan bidan, dan yang paling penting buat kalian tau, GUE BELUM BERSUAMI DAN PUNYA ANAK.

loh, kok berani-berani buat cerita ini? Yah, cerita ini berdasarkan pandangan ku sebagai seorang perempuan yang setuju sama mereka yang memilih childfree atau menunda punya anak dulu.

• Happy Reading, Buby •

Suara ketukan heels Vani bergema sepi di lorong apartemen. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat. Bahunya merosot, lelah setelah seharian penuh dihantam urusan audit kantor yang tidak ada habisnya.

Menjadi seorang wanita karier yang mandiri memang impiannya, tapi ada hari-hari di mana Vani mau cepet-cepet pulang, merebahkan diri, dan meneguk segelas air es seperti keinginannya saat ini.

Begitu tiba di depan pintu unit apartemennya, Vani menempelkan kartu akses. Bunyi bip pendek terdengar, namun saat ia mendorong gagang pintu, benda logam itu sama sekali tidak bergerak.

Vani mengernyitkan dahi. Alisnya bertaut. Di kunci dari dalam?

Jarang sekali Rafa mengunci pintu jika ia belum pulang dari kantor. Vani mendengus pelan, lalu memasukkan kode pin manual pada panel digital di samping pintu. Dan akhirnya pintu otomatis terbuka.

Vani mendorong pintu perlahan. Di sambut dengan ruang tamu yang gelap gulita. Tidak ada satu pun lampu yang menyala, seolah menandakan bahwa tidak ada kehidupan di dalam sana. Vani menghela napas, mengira Rafa mungkin sudah tidur duluan.

"Tumben Mas Rafa pulang duluan dari gue?" batin Vani bertanya.

Dengan langkah gontai yang terasa berat, Vani menyeret langkah kakinya menuju area dapur. Tenggorokannya benar-benar terasa kering dan dia butuh air dingin.

Namun, semakin Vani melangkah memasuki dapur, indra pendengarannya menangkap sesuatu yang ganjil. Suara helaan napas yang berat, dan suara lenguhan tertahan.

Langkah Vani mendadak melambat. Jantungnya berdetak tak keruan, takut jika ternyata yang menyambutnya adalah perampok.

"Mas? bisik Vani takut-takut.

Di atas meja makan marmer berkilau, siluet dua manusia sedang menyatu dalam keintiman yang menjijikkan. Penerangan yang minim justru memperjelas setiap pergerakan mereka.

Vani terpaku di tempat, matanya tak berkedip menatap punggung tegap seorang pria yang masih mengenakan kemeja kerja abu-abu miliknya-kemeja yang ia setrika tadi pagi yang kini tampak kusut, dan celana kain kantornya sudah setengah terbuka ke bawah.

Pasokan udara ke paru-parunya mendadak tersendat. Bukan hanya karena suaminya berselingkuh. Melainkan sosok wanita yang sedang rebahan pasrah di atas meja makan di bawah kungkungan Rafa.

Wanita itu meremas kemeja Rafa di bagian bahu, kepalanya mendongak dengan napas memburu, mengekspos wajahnya yang sangat Vani kenali.

Renata. Sahabatnya sendiri.

Orang yang selama ini Vani izinkan masuk ke dalam hidupnya, bercerita tentang rumah tangganya, bahkan sering Vani masakkan makanan di meja yang sama.

Rafa yang menyadari perubahan cahaya di ruangan itu mendadak menghentikan gerakannya. Pria itu menoleh dan membelalak syok menangkap sosok istrinya yang berdiri tegak di pintu dapur.

Wajah Rafa mendadak pias, kehilangan seluruh tenaganya. Di bawahnya, Renata buru-buru menarik bajunya untuk menutupi bagian dadanya yang terekspos, matanya memancarkan ketakutan luar biasa.

"V-Vani..." suara Rafa bergetar, serak karena sisa gairah yang mendadak menguap digantikan kepanikan.

Vani melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Dia berjalan melewati mereka berdua yang membeku layaknya patung berdosa, menuju kulkas di sudut dapur. Vani membuka pintu kulkas, dan mengambil satu botol air mineral dingin.

"Duluan, Mas, Ren," ucap Vani, suaranya terdengar sangat stabil tanpa getaran sedikit pun.

"Vani, tunggu! Ini nggak seperti yang kamu lihat, Van-" Rafa mencoba mengejar, mengancingkan celananya dengan tangan gemetar.

Vani tidak mendengarkan. Dia terus berjalan menuju kamar. Begitu masuk, Vani langsung menutup pintu kayu itu dan menguncinya dari dalam dengan dua kali putaran.

Klik

Dan bersamaan dengan bunyi kunci itu, seluruh pertahanannya hancur lebur.

Tubuh Vani merosot di balik pintu. Botol minum di tangannya terlepas, menggelinding di atas lantai karpet. Vani menekuk kedua lututnya, menyembunyikan wajah di sana.

Tubuhnya bergetar hebat, sesak di dadanya ia keluarkan lewat air mata.

"Kenapa harus Renata...?" isak Vani tersedu-sedu. "Dari semua perempuan di dunia ini... kenapa harus sahabat gue sendiri?"

Fakta bahwa Renata-orang yang tahu semua rahasia rumah tangganya, orang yang dia sebut saudari-malah menjadi perusak.

"Kenapa Mas selingkuhnya sama dia?"

Mereka sudah menikah selama dua tahun. Dua tahun Vani kira mereka cukup bahagia. Vani mengingat kembali bagaimana manisnya Rafa memperlakukannya selama ini, bagaimana pria itu selalu mengalah, dan bagaimana mereka saling dukung.

"Nggak..." monolog Vwni pada dirinya sendiri, suaranya serak. "Gue nggak boleh cuma nyalahin mereka. Gue harus sadar diri."

Sejatinya, di dunia ini, laki-laki memang diciptakan dengan ego dan naluri dasar untuk memiliki keturunan. Mereka ingin melihat darah daging mereka sendiri lahir ke dunia, menjadi penerus dan harga diri mereka.

Dan Vani tahu persis, sejak sebelum pernikahan ini dimulai, dialah yang dengan keras kepala memilih untuk childfree. Vani tidak ingin punya anak. Alasannya belum siap mental, takut pada ekonomi yang jahat, dan takut tidak bisa menjadi ibu yang sempurna.

"Ini salah gue juga..," bisik Vani pada keheningan kamar. "Gue pengen childfree, dan gue harusnya udah tahu konsekuensi ini bakal datang suatu hari nanti. Sangat sedikit cowok yang bisa bertahan tanpa anak seumur hidupnya. Kebanyakan yang menyuarakan childfree itu cuma perempuan, karena kita yang tahu rasanya bertaruh nyawa."

Dia tidak boleh egois. Dia tidak bisa menuntut Rafa untuk terus mengubur keinginannya memiliki anak demi menemani prinsip hidup Vani yang mandiri dan gila kerja.

"Kalau Renata emang siap buat mengandung anaknya Mas Rafa..." Vani menelan ludah, tenggorokannya terasa tercekat. "Ya udah. Gue ikhlas. Gue lepasin."

'Ikhlas'

Kata itu seperti belati yang mengiris jantungnya sendiri, tapi Vani tahu itu adalah jalan paling benar untuk dia ambil. Vani tidak akan menjadi istri yang mengamuk, menangis, memohon, atau menjadi wanita drama yang merendahkan harga dirinya hanya untuk mempertahankan laki-laki yang hatinya sudah berpaling.

Akhirnya ia bangun. Mulai membersihkan diri, dan setelahnya memilih untuk tidur.

Tidak peduli apakah di luar Rafa sedang panik dan apakah Renata sedang menangis ketakutan. Bersiap menyusun seribu alasan? Ataukah mereka berdua sedang menyusun skenario palsu untuk menyelamatkan diri besok pagi?

Vani sama sekali tidak peduli.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 12 hours ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Menolak Duda garis keras!Stories to obsess over. Discover now