Hujan deras mengguyur Seoul malam itu, seolah langit pun ikut menangis atas kekacauan yang terjadi di bawahnya. Lampu-lampu neon di distrik Myeongdong berkedip samar, terhalang tirai air yang tak henti-hentinya turun. Jungkook menutup pintu toko bunganya lebih awal dari biasanya.
Toko kecil bernama "Blossom Haven" itu terletak di pinggir gang sempit yang menghubungkan antara kawasan perbelanjaan ramai dengan area hunian yang lebih tenang. Ia menyukai tempat ini-tenang, penuh warna, dan jauh dari hiruk-pikuk kota yang kadang membuatnya lelah.
Sebagai pemilik toko bunga berusia 28 tahun, Jungkook adalah sosok yang tegas dan disiplin. Setiap pagi ia bangun pukul lima, membersihkan toko, menyusun buket-buket bunga segar dengan teliti, dan melayani pelanggan dengan senyum ramah yang tulus. Ia bukan orang yang mudah terlibat masalah.
Hidupnya sederhana, merawat tanaman, membuat rangkaian bunga untuk pernikahan, ulang tahun, atau sekadar hiburan bagi hati yang sedang pilu. Tapi di balik sikap baik hatinya, Jungkook punya prinsip kuat. Ia percaya kebaikan selalu bisa menjadi jalan keluar, meski dunia sering kali membuktikan sebaliknya.
Malam itu, setelah memastikan semua vas bunga sudah disiram dan pintu belakang terkunci rapat, Jungkook memutuskan berjalan kaki pulang ke apartemennya yang hanya beberapa blok dari toko. Payung hitamnya terbuka, tapi angin kencang membuatnya hampir tak berguna. Ia bergegas melewati gang kecil yang biasanya sepi, langkahnya mantap di atas paving batu yang licin.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat dan napas tersengal terdengar dari ujung gang. Jungkook membeku. Di bawah cahaya redup lampu jalan, ia melihat seorang pria tinggi dengan mantel hitam basah kuyup berlari tertatih. Tangan kirinya menekan bahu kanannya yang mengeluarkan darah segar, menetes bercampur air hujan. Wajahnya pucat, rahang tegas mengeras menahan sakit, tapi matanya-mata tajam seperti elang-masih penuh kewaspadaan.
"Shit..." gumam pria itu pelan, suaranya dalam dan serak.
Jungkook mundur selangkah, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini bukan urusannya. Pria itu jelas sedang dalam masalah besar. Mungkin perampokan, atau lebih buruk lagi-perkelahian geng.
Jungkook bukan pengecut, tapi ia juga bukan pahlawan. Tangan kanannya merogoh saku jaket, siap menelepon polisi. Tapi sebelum ia sempat melakukan apa pun, pria itu menoleh dan tatapan mereka bertemu.
"Tolong..." kata pria itu dengan suara rendah, hampir hilang ditelan hujan. "Mereka... sedang mengejar. Hanya sebentar."
Jungkook merasa kakinya membeku.
Takut, ya. Sangat takut. Darah di bahu pria itu terlihat jelas sekarang, mantel hitamnya robek di bagian itu, dan aroma anyir darah bercampur bau tanah basah menusuk hidungnya. Tapi ada sesuatu di mata pria itu-bukan ancaman, melainkan keputusasaan yang tertahan.
Bukan tatapan penjahat biasa. Ada kecerdasan di sana, dan sesuatu yang membuat Jungkook ragu.
"Aku... aku tidak bisa," jawab Jungkook tegas, suaranya sedikit gemetar meski ia berusaha disiplin. "Ini bukan urusanku. Kau harus pergi ke rumah sakit."
Pria itu tersenyum tipis, lebih mirip seringai sakit. "Mereka akan membunuhku sebelum aku sampai sana. Kau... toko bunga itu milikmu?" Ia menunjuk ke arah Blossom Haven yang pintunya masih terlihat dari gang.
Jungkook melirik ke belakang. Tokonya gelap, tapi pintu belakang masih bisa dibuka. Hati kecilnya berontak. Ia baik hati, terlalu baik mungkin. Ayahnya dulu selalu bilang, "Kebaikan bukanlah kelemahan, Jungkook-ah. Tapi gunakan dengan bijak."
Suara langkah kaki lain terdengar semakin dekat dari ujung gang. Beberapa orang berteriak dalam bahasa Korea yang kasar, "Dia ke sana! Tangkap dia hidup-hidup!"
Pria itu menggeram pelan, tubuhnya goyah.
YOU ARE READING
✅BLOSSOM HAVEN 🔞 (VKOOK)-END PDF
RomanceMalam hujan di Seoul... Seorang pria berdarah mengetuk pintu toko bunga. Jungkook seharusnya menolak. Tapi ia menyembunyikan Taehyung - monster dunia bawah... Di antara aroma bunga dan ancaman darah, cinta tumbuh di tempat paling tak terduga....
