Dunia pararel itu ada, nyata, namun sebagian orang belum juga mengerti dengan baik seperti apa pararel itu sebenarnya. Bahkan beberapa profesor, ahli dan peneliti belum 100 persen yakin bahkan dunia itu benar-benar ada atau bagaimana caranya agar bisa meyakinkan keberadaan itu semua.
Sebuah pengembangan teknologi kini mulai bergerak, menciptakan temuan serta teknologi baru yang akan mengubah susunan dan tata kerja dalam dunia mereka yang tidak akan mereka sadari.
Profesor Zhan begitu terobsesi akan ambisinya mewujudkan proyek tersebut. Setelah 6 penuh, profesor Zhan dan timnya berhasil membuat alat itu, tim mereka bahkan berhasil melakukannya. Hanya saja tenaga yang dibutuhkan terlalu besar, banyak efek samping dari keberhasilan itu dan membuat mereka semua mulai terjebak oleh perubahan-perubahan yang mulai terjadi secara kilat itu.
Profesor Zhan sendiri tidak dapat lagi membedakan di dunia mana dirinya berada, perubahan itu terjadi secara acak dan secepat perkiraannya.
Perubahan tersebut belum sepenuhnya menyebar kesegala penjuru dunia, namun profesor Zhan yakin jika cepat atau lambat dunia ini dan juga dunia itu (pararel) akan saling berkaitan, dimana para penghuninya juga akan hidup saling berdampingan secara sadar maupun tidak.
Profesor Zhan tidak dapat melakukan apapun lagi, timnya sudah berusaha semaksimal mungkin bahkan dirinya sendiri ia jadikan bahan untuk menstabilkan pengaruh buatannya hingga kesadarannya perlahan mulai terhisap dan tersedot ke dalam tangki daya berkecepatan tinggi itu.
.
.
.
.
.
Peien baru saja keluar dari minimarket, ditangannya sudah tergantung beberapa plastik belanjaan. Senyuman Peien merekah saat melihat sebuah mobil berhenti diseberang jalan tepat di depannya.
Pandangan Peien perlahan menjadi kacau, untuk sesaat ia melihat hal-hal aneh seperti kaset yang rusak lalu ia menyadarkan dirinya, berlari menghampiri saudaranya yang sudah menunggu.
"Kak Jiang kok tau kalau Peien ada disini?." Tanya Peien setelah duduk di dalam mobil namun perasaannya kembali mulai terasa aneh saat melihat penampilan saudaranya di kursi kemudi sangat berbeda dengan yang tadi.
Peien sudah seperti orang gila, ia menggeleng cepat, menampar pelan pipinya tapi tindakannya itu dicegah oleh genggaman seorang pria lain yang Peien tidak sadari keberadaannya.
"Apa kamu baik-baik saja? Kakak perhatiin sejak masuk tadi kamu sangat pendiam bahkan bersikap aneh. Kamu sakit?,"
"Kak qiuqiu, kak El, kalian juga menjemput Peien? Kenapa Peien tidak melihat kalian tadi?." Suara tawa terdengar dari mulut kedua pria itu, mereka mengacak-acak rambut Peien sebelum menjawab pertanyaan sang adik.
"Kalau kamu tidak melihat kami berdua, lalu siapa yang berteriak keras hingga memeluk kami tadi? Kamu bahkan bergelayut manja di lengan qiuqiu dan mengabaikan kami berdua (Eliot dan Jiang)," ujar Eliot yang berada di di depan.
"Kita ke rumah sakit, oke? Kakak khawatir, semenjak keluar dari minimarket itu tingkat kamu jadi aneh." Peien hanya diam saja mendengar ucapan Jiang.
"Ada apa dengan diriku? Apa yang terjadi?.
Peien melamun, pandangannya ia fokuskan pada pemandangan diluar mobil dan sedetik kemudian ia kembali kebingungan karena arah ini bukan menuju rumah sakit. Tanpa menoleh, Peien kembali mengajukan pertanyaan.
"Kak Jiang, kita mau kemana? Ini bukan jalan menuju -
"Berhenti berbuat ulah Peien, malam ini Eliot dan qiuqiu kembali. Kalau mereka tau kamu ke tempat kotor itu, aku tidak bisa menjamin keselamatan mu,"
Peien menoleh dan ia menatap sekitarnya ketakutan. Bukannya tadi di dalam mobil ini ada 4 orang? Mengapa sekarang hanya 2? Dan apa ini? Mengapa kak jiangnya berpenampilan sangat rapih (jas) padahal tadi hanya memakan jaket kulit kebanggaannya.
"Apa-apaan rambut mu itu? Sejak kapan kamu berani berdandan seperti orang liar? Apa kamu tidak menyadari statusmu siapa?." Nada ketus dari pria di kursi kemudi membuat Peien menatap dirinya sendiri di kaca, kebingungan kembali menyerangnya.
"Apa ini? Mengapa kak Jiang seperti orang berbeda? Bukannya rambutku memang sudah seperti ini sejak lahir? Mengapa kak Jiang bertingkah seperti ini adalah pertama kalinya ia melihat rambutku?"
"Peien? Kita sudah sampai, mau kakak gendong?,"
"Sejak kapan aku tertidur? Dan dimana ini? ,"
Pikirannya Peien benar-benar sangat kacau, ia bersikap dramatis dan memukul kepalanya cukup keras dan membuat ketiga saudaranya panik.
Guncangan tersebut tidak dapat Peien terima hingga kesadaran mulai menghilang. Ketiga saudaranya dengan cepat bergerak dan membawa adik bungsunya masuk ke dalam bangunan tersebut hingga mendapatkan perawatan.
"Kau membawa kemana? Apa kau sengaja karena malam ini adalah giliran ku bersamanya?." Ketus pria berwajah dingin itu (Eliot)
"Apa aku tidak berhak menemani istriku sendiri berbelanja, huh?." Jawab Jiang dengan nada menyebalkan ya, lalu melangkah memasuki kediamannya dengan Peien berada dalam gendongannya.
.
.
.
.
.
.
T. B. C
Selamat menikmati dan membaca yaaa para tuan dan nona😊
