01. Diktator

467 41 40
                                        

Sorak-sorai yang memekakkan telinga bergaung liar, membelah langit cerah di atas gerbang utama Kekaisaran Bulan. Hari itu, jalanan berbatu kota dipadati oleh lautan manusia yang berdesakan, mengelu-elukan kedatangan rombongan kereta kuda agung dari Kerajaan Namikaze. Kelopak bunga melati dan sakura yang sengaja ditaburkan oleh para penduduk kota beterbangan di udara, menciptakan hujan kelopak yang indah dari gerbang utama hingga menembus pelataran istana.

Bagi rakyat Kekaisaran Bulan, pria muda yang duduk di dalam kereta kencana itu adalah dewa penyelamat mereka. Suara riuh yang mengelu-elukan namanya seolah melempar ingatan Naruto kembali pada masa-masa kelam beberapa tahun lalu, saat ia harus memeras otak demi menarik kerajaan ini keluar dari jurang kepunahan akibat wabah mematikan. Karena jasa besar itu pula, kini mereka menyambut rombongan lamarannya bak pahlawan perang internasional yang membawa janji kebahagiaan.

Namun, di balik jendela kaca kereta yang mewah itu... keheningan yang merayap justru terasa begitu pekat hingga mendesak dada.

Naruto duduk tegak lurus di atas kursi beludru yang empuk, mengenakan setelan jas hitam formal dan jubah sutra bersulam benang emas bergaya aristokrat Barat yang begitu megah. Tangannya mendekap samar Belati Obsidian di balik pakaian mewahnya-merasakan satu-satunya denyut kehidupan yang tersisa dari belahan jiwanya di tanah beku Utara. Dari balik kaca, sepasang netra biru safirnya menatap kosong dan hampa ke arah lautan manusia yang melambai-lambaikan tangan penuh harap padanya. Gemuruh kegembiraan dunia di luar sana sama sekali tidak mampu menembus dinding batinnya yang telah membeku. Baginya, sorak-sorai meriah itu terdengar tak ubahnya jeritan angin malam yang sunyi di atas makam.

Saat kereta melambat di pelataran istana dan pintu dibuka, Naruto menarik napas pendek. Dengan kendali otot wajah yang luar biasa rapi, ia memaksakan belahan bibirnya untuk mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat menawan-sebuah topeng kepalsuan politik untuk membalas sambutan hangat rakyat Bulan. Wajah manisnya tampak begitu bersinar di bawah terik matahari fajar, membuat siapa pun yang melihatnya akan langsung terpesona didera kekaguman murni.

Mereka semua mengelu-elukannya, mengaguminya, tanpa pernah tahu bahwa pangeran yang mereka puja saat ini hanyalah sesosok raga hampa yang jiwanya telah runtuh berkeping-keping tiga hari yang lalu.

Dengan langkah kaki tegap dan sepatu bot kulit yang berketuk pelan melintasi karpet merah megah, Naruto melangkah mantap menembus koridor menuju bangunan utama.

Hingga akhirnya...

Pintu geser kayu shoji berukir motif bulan sabit itu terbuka perlahan, menyemburkan kehangatan aroma dupa cendana yang menenangkan dari dalam aula utama Kekaisaran Bulan. Namun, kehangatan dupa tersebut sama sekali tidak mampu mengikis hawa sedingin es kutub yang dibawa Naruto di dalam dadanya.

Ia melangkah masuk. Kehadiran Naruto di dalam ruangan itu terasa begitu mencolok dan asing. Di tengah arsitektur bangunan kayu megah bercorak klasik Jepang kuno, Naruto berdiri tegap mengenakan setelan jas hitam formal dan jubah sutra bersulam benang emasnya yang bergaya aristokrat Barat. Sepatu bot kulitnya berketuk pelan di atas lantai kayu yang mengkilap, melintasi jajaran tikar tatami tenun yang membentang rapi menuju singgasana agung.

Di ujung ruangan, dua sosok tertinggi dari klan penguasa Kerajaan Bulan telah bersiap menyambut kedatangannya.

Hiashi Hyuga berdiri kokoh di depan singgasananya. Beliau mengenakan Yukata formal berlapis jubah perang tradisional berwujud haori sutra gelap yang dihiasi lambang klan Bulan di punggungnya. Sebuah pilihan busana yang tidak lazim untuk acara lamaran pernikahan, seolah sang penguasa sengaja ingin menunjukkan taring militernya di hadapan sang pangeran asing. Sepasang mata lavender miliknya menatap lurus, mengamati dengan tajam setiap jengkal langkah sang pangeran muda dari negeri seberang.

Book 2: Don't Die Alone, Sasuke 2Stories to obsess over. Discover now