BAB 1: Gue Mau Pulang!

5 4 7
                                        

Kata orang, masa-masa MPLS adalah masa-masa terindah selama SMA.

Siapa orangnya? mau gue ajak duel.

Kenapa sih kakak-kakak panitia tuh suka banget ngerasa diri mereka penguasa bumi?

Gue baru masuk SMA, lho. BARU. Belum bikin masalah, belum telat, belum nyontek, belum ngapa-ngapain. Tapi udah langsung dijemur di tengah lapangan.

Dan yang bikin gue kesel, kenapa harus di tengah lapangan sih? Lapangan sekolah ini gede banget. Kenapa gak milih pinggir dikit kek? Deket pohon kek? Deket kantin kek? Lah ini enggak. Harus di titik paling panas sedunia.

Mana mataharinya kayak lagi balas dendam sama umat manusia. Panasnya gak ngotak banget, sumpah.

Terus pas gue nengok ke depan, kakak-kakak panitianya malah santai duduk di bawah pohon. Ngobrol. Ketawa-ketawa. Minum.

ENAK BANGET HIDUP LO YA.

Sedangkan gue di sini udah kayak ikan asin yang tinggal nunggu dilempar ke penggorengan.

"Huh..." Aku mengembuskan napas panjang sambil menatap kakak-kakak OSIS yang duduk santai di depan sana.

Sudah bisa kebayang sih, gimana songongnya mereka pas sekolah udah mulai normal nanti.

"Ini pada gak punya hati atau gimana sih? Kasih gue duduk, please!" gerutuku sambil menghentak-hentakkan kaki di atas aspal lapangan.

Yang bikin kesel, meskipun kakiku udah dibungkus sepatu setinggi lima senti, aku masih bisa ngerasain panasnya aspal tembus sampai telapak kaki. Belum lagi wajahku yang cuma bermodalkan sunscreen sama bedak My Baby. Kalau gosong gimana?

"Pelanin suara lo, anjir," bisik Hanira Kirana yang berdiri tepat di sampingku.

"Ya gimana, anjir? Panas banget, gilak!"

"Kinan!" kali ini nada suaranya lebih tinggi.

Aku menoleh dan langsung mendapati salah satu kakak panitia sedang melirik ke arah kami.

Waduh.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan sambil berdeham kecil, seolah dari tadi bukan aku yang paling berisik satu barisan.

"Huh."

Andai aja gue bisa reinkarnasi jadi panitia OSIS. Sumpah. Bakal gue jemur mereka dari pagi sampai sore. Biar tau rasanya jadi rakyat jelata.

Mungkin semesta akhirnya kasihan sama penderitaanku, atau mungkin kakak panitia tadi beneran denger omelanku. Karena gak lama kemudian, terdengar pengumuman yang paling indah yang pernah kudengar sepanjang hidup.

"Waktu istirahat dimulai sekarang. Silakan berteduh di area yang sudah ditentukan."

Mataku langsung berbinar. Akhirnya.

AKHIRNYA.

Aku dan Hani akhirnya duduk di bawah pohon yang nggak jauh dari tempat kami dijemur tadi.

Buset, adem banget anjir. Pantes aja kakak-kakak panitia betah nongkrong di sini. Anginnya sepoi-sepoi, teduh, dan yang paling penting, nggak ada matahari sialan yang berusaha memanggang kami hidup-hidup.

"Eh, Han. Lo bawa minum nggak?" tanyaku tanpa menoleh sedikit pun.

"Bawa."

"Mana?"

"Di kelas."

Aku langsung menoleh.

"Lupa dibawa tadi."

"Anjir."

Mana kelas kami jauh banget lagi.

Di saat aku sedang meratapi nasib, sebuah bayangan tiba-tiba berhenti di depan kami.

"Ini."

Suara berat, khas cowok baru puber. Namun, aku belum sempat mendongak saat dua botol air mineral sudah muncul di depan wajah kami.

"E-eh? Makasih..." Hani langsung menerimanya dengan senyum malu-malu.

Cowok itu cuma mengangguk sebelum pergi lagi. Aku masih belum terlalu peduli sampai tiba-tiba-

"YAK! KINAN!"

Tubuhku terguncang hebat. Kayak diguncang earthquake anjir, suer dah. "WOI! APAAN SIH ANJIR?!"

"Itu! Itu! Liat tuh!"

"Liat apaan?!"

"Siswa rambut merah itu!"

Aku mengikuti arah pandang Hani. "Oh."

Cowok tinggi, setinggi tiang tower, dengan rambut merah. Merahnya nggak norak sih. Masih masuk akal lah.

"Cakep gak sih?" bisik Hani.

Aku memperhatikannya beberapa detik. "Lumayan."

"LUMAYAN?"

"Ya lumayan."

"Itu cakep, WOY."

"Yaudah cakep."

Aku kembali melirik cowok itu. "Hmm... cuman rambutnya kayak saus gochujang anjir."

"Dia ngasih gue air woy!" Hani menepuk-nepuk lenganku heboh. "Jangan bilang dia suka sama gue."

Aku menghela napas panjang. Hani memang pemalu. Tapi kalau urusan halu, dia juaranya.

Aku kembali memperhatikan sekitar dan baru sadar kalau si rambut merah ternyata sedang berkeliling membagikan botol minum ke anak-anak MPLS lainnya.

Mataku lalu beralih ke Hani yang masih menatap botol air di tangannya seolah itu surat cinta.

TAK!

Aku menjitak kepalanya.

"Auw!"

"Semua murid dikasih sama dia, bego. Jangan geer."

"Terus kenapa gue dikasih dua?"

Aku melirik dua botol di tangannya. "Wah, gak tau ya kenapa bisa dua. Buat lo aja kali itu dua botol, soalnya gue minumnya air comberan."

"Ya buat gue satunya, dongo!"

Belum sempat dia menyembunyikan botol satunya, aku sudah lebih dulu merebutnya.

"Terima kasih atas donasinya."

Akhirnya satu tegukan air berhasil melewati tenggorokanku yang kering ini, mungkin gurun sahara juga kalah kering. Untuk pertama kalinya, air putih lima ribuan terasa begitu berharga untuk saat ini.

Perlahan aku mulai berbaring di atas rerumputan hijau ini, semoga saja gak ada tai kucing nyempil di sana. Aku benar-benar harus memanfaatkan waktu yang berharga ini sebaik-baiknya, karena mungkin saja tidak butuh waktu lama, kami akan dijemur kembali oleh kakak-kakak panitia itu.

Dan... Benar saja! Baru sepersekian detik tubuhku bersentuhan dengan rumput, suara panitia bak toa itu berkumandang.

"Seluruh murid MPLS, diharapkan kembali berbaris di lapangan."

Oke. Waktunya mengabsen kebun binatang.

Mak Comblang, Kok Jadian?Stories to obsess over. Discover now