Bab 1 - Wanamerta

4.3K 166 0
                                        

Happy Reading
.
.
.



Pagi di Desa Wanamerta selalu datang lebih dulu daripada suara manusia.


Sebelum ayam jantan sempat berkokok dengan sempurna, kabut sudah lebih dulu merayap di antara pematang sawah. Menutupi tanah basah, menyelimuti batang-batang padi yang masih muda, seolah desa itu belum sepenuhnya ingin terbangun dari tidurnya.

Di kejauhan, suara air mengalir dari saluran irigasi terdengar pelan, berpadu dengan langkah kaki seorang pemuda manis yang berjalan menyusuri pematang.

Bima membawa seikat rumput liar di tangan kirinya. Pakaian sederhananya sedikit basah oleh embun pagi, tetapi ia tampak sudah terbiasa dengan itu semua. Desa ini adalah rumahnya, sawah ini adalah hidupnya. Tidak ada yang istimewa dari dirinya-setidaknya itu yang selalu ia pikirkan.

"Bima!"
Suara dari kejauhan membuatnya menoleh. Seorang perempuan paruh baya melambaikan tangan dari pinggir jalan tanah.

"Cepat sedikit, nanti airnya keburu penuh di petak sebelah!" teriaknya.

Bima hanya mengangguk kecil, lalu mempercepat langkahnya.

Hari di Wanamerta selalu seperti ini.


Sederhana, sibuk, dan berulang. Namun entah kenapa, pagi ini terasa sedikit berbeda. Angin yang biasanya hangat, kini terasa lebih dingin. Dan langit yang biasanya cerah, seperti menyimpan warna abu tipis yang sulit dijelaskan.

Bima berhenti sejenak. Ia menatap ke arah hutan di ujung desa, hutan itu selalu ada di sana. Diam, tidak pernah berubah, tidak pernah memanggil siapa pun. Tapi hari ini... ia merasa seperti hutan itu sedang memperhatikannya balik.

Bima menggeleng pelan.


"Cuma perasaan," gumamnya.

Ia melanjutkan langkahnya, mencoba mengabaikan debar kecil di dadanya yang tidak jelas asalnya.

Di sisi lain desa, di bangunan kayu besar yang berdiri sedikit lebih tinggi dari rumah-rumah lain, seorang lelaki tengah berdiri di depan pintu terbuka. Arkana menatap hamparan desa dari kejauhan. Sawah, jalan tanah, rumah-rumah panggung. Dan di ujungnya-hutan yang tidak pernah benar-benar bersahabat dengan siapa pun.

Ia tidak tersenyum. Tidak pula mengernyit. Wajahnya terlalu tenang untuk seseorang yang memikul banyak tanggung jawab.

Seorang tetua desa mendekat dari belakang.


"Pemangku... upacara panen akan segera dimulai minggu depan," ucapnya pelan.

Arkana hanya mengangguk.


"Pastikan semua persiapan sesuai aturan adat," jawabnya singkat.

Tetua itu ragu sejenak, lalu berkata lebih pelan.


"Dan tentang tanda-tanda dari hutan itu...?"

Arkana terdiam. Matanya sedikit menyempit. Untuk pertama kalinya pagi itu, ada perubahan kecil di wajahnya.

"Belum waktunya kita menyimpulkan apa pun," katanya akhirnya.

Tetua itu menunduk, lalu pergi tanpa banyak bicara.

Arkana kembali menatap hutan. Angin bergerak pelan melewati rambutnya. Dan untuk sesaat, ia merasa sesuatu yang lama tertidur...


mulai menunjukkan tanda-tanda bangun.

Di desa Wanamerta, tidak ada yang tahu bahwa pagi itu bukan pagi yang biasa. Tidak ada yang tahu bahwa sesuatu yang telah lama disegel oleh adat dan legenda...

perlahan mulai mencari jalan kembali, dan tidak ada yang tahu bahwa nama yang akan paling sering disebut setelah ini adalah:

Bima.




















TBC


Jangan lupa vote dan komen 🤍





Wadah Leluhur  {END}Stories to obsess over. Discover now