"Nala!" teriak sang bunda
Tak ada jawaban.
"Nala!" sahut sang bunda kembali
Masih tak ada jawaban.
Di dalam kamar, seorang gadis remaja yg masih meringkuk nyaman di balik selimutnya. Sinar matahari pagi sudah masuk melalui celah gorden, tetapi itu sama sekali tidak membuat nala berniat bangun.
"Nala!, Bunda hitung sampai tiga." ucap sang bunda
Nala menguap pelan.
Ancaman paling berbahaya bagi Nala bukanlah ayahnya tapi sang bunda.
"Satu..." sahut sang bunda yg mulai berhitung
Nala menutup telinganya dengan boneka anomali tung tung sahurnya.
"Dua..." sahutnya lagi
Nala masih diam.
"Tiga." sahut sang bunda lagi
Brak!. Pintu kamar terbuka.
"Bunda..." keluh Nala tanpa membuka matanya.
"Bangun Nala!" ucap sang bunda
"Nanti aja bundaa~" ucapnya dengan rengekan kecil
"Nggak ada nanti nanti, sekarang." sahut sang bunda
"Bentar lagi bun" ujar nala kembali
"Nggak ada bentar lagi." ucap bunda Nala
Nala akhirnya membuka matanya.
Nala melihat Bundanya berdiri di dekat pintu sambil membawa setumpuk pakaian yang baru dilipat.
Rambutnya diikat sederhana.
Masih mengenakan celemek dapur.
Nala berpikir Pasti bundanya sejak tadi pagi sudah sibuk mengurus rumah.
"Lima menit lagi ya bun" ucap Nala dengan nada memohon
Bunda menatapnya beberapa detik. Lalu berkata "Lima menit itu buat orang yang memang mau bangun. Kamu mah lima menit berubah jadi tiga puluh menit."
Nala terkekeh, karena yg dikatakan sang bunda memang benar.
"Kamu sekolah jam berapa?" tanya sang bunda
"Jam tujuh bun" jawab Nala.
"Sekarang jam berapa?" tanya sang bunda kembali.
Nala melirik jam dinding "Enam lewat sepuluh bun, lima menit lagi ya bun" ucap Nala
"Lima menit lagi Bunda ke sini. Kalau masih tidur, air satu gayung melayang!."
Bunda meletakkan pakaian di atas meja belajar.
"Bunda ih!" ucap Nala dengan rengekan
"kalau udah lima menit masih gak bangun bangun, bunda beneran siram pake air satu gayung loh, kalau masih gak bangun, bunda ambilin satu ember sekalian."
Setelah mengatakan itu, bunda Nala keluar dari kamar Nala.
Nala menghela napas panjang.
Tidak ada pilihan...
Kalau bundanya sudah bicara seperti itu, berarti ancamannya serius.
Lima belas menit kemudian, Nala turun ke lantai bawah dengan rambut yang masih sedikit basah.
Aroma masakan langsung menyambutnya.
Ayah yang sedang duduk di ruang makan melirik sekilas.
"Wah. Keajaiban besar terjadi." ucap sang ayah
