Shift 1 : Abby On Duty

8 0 0
                                        

Makan siang adalah waktu di mana kita harus berhenti sejenak dari kesibukan dunia untuk menghargai apa yang memberi kita energi. Entah di mana Abby pernah mendengarnya atau mungkin membacanya. Tapi Abby sangat membutuhkan itu. Kesibukan sebagai budak korporat sudah menghabiskan energi sarapan Abby. Ia tidak sanggup melewatkan makan siang. Seperti beberapa orang yang bisa melewatkan makan siang karena loyal pada perusahaan dan berujung asam lambung dan IGD.

Hal yang sulit selain makan siang adalah menentukan menu makan siang itu sendiri. Jam menunjukkan pukul 12.05. Dari koridor kantornya yang ada di lantai 19, Abby masuk lift tanpa tujuan. Perut yang lapar, energi yang habis membuatnya sulit berpikir akan makan siang apa dan di mana.

"Mas kita coba kantin yang ada di basemen ujung itu aja. Lagi bokek soalnya. Di sana murah banget."

"Tapi di sana sepi gak sih. Kalau sepi susah kalau menggibah. Kedengeran tetangga."

Percakapan dua orang dari sekian banyak manusia di lift mencuri perhatian Abby. Kantin di basemen ujung, sepi dan ramah dikantong. Mungkin bisa jadi tempat yang cocok untuk Abby melakukan isi ulang energi. Selama 4 jam terakhir Abby berkutat dengan dua meeting berturut-turut.

Gedung Merah Putih, nama Gedung perkantoran elite tempat kantornya berada.Abby bahkan tidak hafal semua perusahaan yang ada di gedung 48 lantai itu. Ada perusahaan yang cukup banyak karyawan sehingga membutuhkan dua hingga tiga lantai dari Gedung tersebut. Kalau Abby tidak salah ingat, sampai hari ini, mungkin ada 30 lebih perusahaan yang bernaung atau berkantor di Gedung elite itu

Di setiap lantai biasanya ada cafe atau kantin yang didirikan sendiri oleh perusahaan yang bernaung di lantai tersebut untuk kenyamanan karyawan masing-masing. Bukan hanya café atau tempat makan, ada yang membuat taman untuk brain storming, ruangan game, perpustakaan atau apapun tergantung dengan konsep dan keinginan masing-masing perusahaan.

"Tingg"

Suara dari lift terdengar, menandakan lift sampai di lantai tertentu. Pintu lift terbuka, udara basemen yang lembap langsung menyambut

Abby tiba di basemen. Setiap hari Abby turun ke basemen untuk parkir mobil. Tetapi belum pernah Abby berjalan sampai ujung basemen. Karena tidak tau arah, Abby tetap berjalan mengikuti dua orang yang ngobrol di lift tadi.

Di belakang truk-truk besar yang terparkir berjejer terdapat satu pintu kaca dengan tulisan "Kantin Ramah" terlihat kertas tulisan itu sudah lusuh dan ada bagian-bagian yang sobek. Mungkin saja bau knalpot dan asap serta ratusan kendaraan-kendaraan yang terparkir di basemen membuat kantin ini terisolasi.

Abby masuk tepat dibelakang dua orang tersebut. Abby mengedarkan seluruh pandangan dengan penasaran. Meja dan kursi kayu berjejer paralel. Sekilas mata terlihat ruangan ini mungkin mampu menampung 100 orang. Tapi yang dilihat Abby, hanyalah belasan orang.

"Bu, aku ini aja. Telur dadar sambal. Sambelnya banyak bu!"

"Ehh, jangan atuh. Kemarin baru sembuh aja. Jangan pedes-pedes makannya."

"Ahh ibu. Saya tuh ga bisa kalau ga makan pedas. Apalagi masakan ibu."

Seorang wanita, yang pastinya salah satu penghuni Gedung ini, tapi tidak tau dari perusahaan apa yang sedang asik ngobrol dengan Ibu penjual atau pemilik kantin ini mungkin.

"Nih, kamu sendokin sendiri mau menu apa." Si Ibu menyerahkan sepiring nasi putih yang belum diisi lauk kepada orang tersebut kemudian menatap Abby dengan maksud ingin bertanya memesan apa.

Abby melihat lauk-lauk yang ada disajikan. Mulai dari Rendang ayam, rendang sapi, sayur lodeh, jeroan, ampela, telur dadar, telur bulat, sambal kentang, sambal udang, sambal terong, jengkol, mie sop, dan tentu saja Abby bingung melihat ada sekitar 20 menu lauk tersajikan di meja.

The Shift : Meja Nomor 8Stories to obsess over. Discover now