1 Syawal 1433 H / Ahad, 19 Agustus 2012 - Masjid Istiqlal, Jakarta.
Fajar menyingsing dengan keindahan yang tidak biasa. Seluruh penjuru dunia bersuka cita menyambut hari kemenangan. Di langit yang tak kasat mata, para Malaikat Idul Fitri-yang hanya ditugaskan turun ke dunia pada hari suci ini-berbaris rapi. Mereka mengumandangkan gema takbir, tahmid, dan tahlil yang agung. Suara gemuruh zikir mereka begitu dahsyat, menggetarkan dimensi gaib, menembus rimbunnya dedaunan, membelah samudera, dan didengar dengan penuh khusyuk oleh setiap hewan, tumbuhan, serta bangsa Jin.
Manusia tidak mendengar suara itu, namun mereka merasakan imbasnya: sebuah ketenangan batin yang luar biasa, kedamaian yang menyelimuti hati setelah sebulan penuh menempa diri di bulan Ramadhan.
Namun, ketenangan itu mendadak runtuh dalam dimensi metafisika.
Langit tiba-tiba terbelah. Bukan terbelah oleh petir, melainkan oleh sebuah robekan ruang dan waktu yang memancarkan aura luar biasa berat. Bumi seketika mendongak, merasakan tekanan gravitasi spiritual yang tidak masuk akal. Para malaikat yang tadinya sedang bertasbih, sontak menyingkir ke sisi-sisi langit. Mereka melipat sayap-sayap mereka, tertunduk karena merasakan kehadiran sesuatu yang bobot eksistensinya seolah mampu meremukkan jagat raya.
Bumi bergetar hebat dalam rintihan gaibnya. "Wahai Para Malaikat Allah, apa yang kalian bawa turun ke atas punggungku?"
Bumi sudah dicekam ketakutan yang teramat sangat.
Dari balik robekan langit, Malaikat Mikail Alaihis Salam tampil dengan wajah yang dipenuhi ketundukan atas keagungan takdir. "Fitnah," jawab sang Malaikat Penurun Hujan dan Rezeki.
Bumi menangis, guncangan tektonik batinnya semakin menjadi. "Aku berlindung kepada Allah yang Maha Melindungi dari kedahsyatan apa yang kalian bawa! Wahai Mikail, bawalah kembali makhluk itu ke tempat asalnya!"
Malaikat Mikail menggeleng, suara beliau bergema berwibawa, "Wahai Bumi yang sabar, ketahuilah bahwa tidak ada satu pun makhluk yang turun, melainkan keluar dari pintu Ketetapan-Nya (Qadha dan Qadar). Dan tidaklah fitnah ini mewujud, kecuali ada Dzat yang menggenggam ubun-ubunnya. Seorang anak cucu Adam telah mengetuk pintu arsy. Ia berdoa di hari yang Fitri ini, bersujud dalam shalatnya dengan untaian doa yang begitu tulus, kukuh, dan dipenuhi tauhid murni, hingga Allah Tabaraka wa Ta'ala mengabulkannya seketika di hadapan para Malaikat-Nya."
Bumi tertegun, berputar dengan sisa tenaganya. "Kapan? Bagaimana bisa? Shalat Idul Fitri bahkan belum dimulai di belahan bumi ini... Ini masih fajar, waktu yang membentang antara Subuh dan Dhuha!"
Malaikat Mikail tidak menjawab lagi. Atas perintah Allah, sekat pengikat itu dilepaskan. Makhluk itu diturunkan ke Langit Bumi.
Eksistensi Sang Al'Aqwaa
Makhluk itu melayang di lapisan atmosfer tertinggi. Ukurannya benar-benar menentang akal sehat manusia; ujung kepalanya berada di langit dunia, sementara ujung hamparan eksistensinya membentang melebihi jarak dari Matahari hingga ke ujung terjauh orbit Pluto. Ia melintasi batas-batas ruang siber dan material. Jumlah matanya yang memancarkan kilatan cahaya, mulutnya yang berzikir, dan sayap-sayapnya yang berlapis-lapis bagaikan tirai galaksi, hanya Allah Azza wa Jalla yang mengetahui hakikat jumlah dan bentuknya.
Yang mampu melihat kengerian teologis ini hanyalah hewan yang mendadak menghentikan suaranya, tumbuhan yang merunduk kaku, bangsa jin yang gemetar hebat, dan para malaikat. Tidak ada satu pun manusia yang sadar secara visual, karena memang begitulah hakikat fitnah: ia nyata, ia raksasa, namun luput dari pandangan mata telanjang manusia yang terdistraksi oleh dunia.
