Hujan deras sedang mengguyur kota London sore itu, membasahi setiap sudut jalan raya yang sibuk, membuat aspal hitam itu tampak berkilauan seperti permata basah. Di balik jendela kaca besar yang menjulang tinggi di lantai dua kediaman keluarga Hawthorne. sebuah bangunan megah bergaya klasik yang menjadi simbol kekuasaan dan kehormatan selama puluhan tahun.
Selena Isolde Hawthorne duduk diam di sana. Matanya menatap kosong ke arah jalan setapak taman yang kini berubah menjadi kubangan air, namun pikirannya melayang jauh, terperangkap dalam kebingungan yang sudah lama menghantuinya.
Udara di dalam rumah itu sebenarnya hangat, dipanaskan oleh perapian besar di ruang tengah yang selalu dijaga apinya. Aroma wangi bunga mawar segar yang setiap hari diganti oleh pelayan, aroma kopi mahal, dan kelembutan karpet wol impor seharusnya membuat siapa saja merasa nyaman dan aman.
Tapi bagi Selena, akhir-akhir ini rumah besar itu rasanya seperti penjara emas yang dingin dan sunyi. Ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang tidak kasat mata namun sangat terasa, menyusup perlahan ke setiap celah dinding, meracuni suasana kehangatan yang dulu selalu ada di antara mereka.
Selena menghela napas panjang, lalu membalikkan badannya perlahan. Ia berjalan mendekati meja rias besar berukiran emas di sudut kamar, menatap bayangan dirinya di cermin.
Gadis berusia tujuh belas tahun itu memiliki rambut cokelat gelap yang indah, kulit putih bersih, dan mata abu-abu yang tajam namun kini terlihat lelah. Di matanya itu, tersimpan segala kekhawatiran yang ia pendam sendirian selama berbulan-bulan ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" batinnya bergumam pelan, tangannya menyentuh permukaan meja rias yang berdebu tipis, padahal tadi pagi pelayan sudah membersihkannya.
Selena masih ingat betul, dulu ayahnya
Arthur Hawthorne adalah sosok pria terbaik yang ia kenal. Sosok yang selalu pulang tepat waktu, membawa oleh-oleh kecil berupa cokelat atau bunga untuk ibunya, Isabella. Sosok yang selalu tertawa lebar, yang suaranya menggelegar penuh semangat saat bercerita soal bisnis atau sekadar bercanda dengan Samuel, kakak laki-laki Selena yang sekarang sedang menempuh pendidikan tinggi di Amerika.
Dulu, rumah ini selalu riuh dengan tawa, diskusi seru, dan suara musik klasik yang diputar ibunya.
Namun, semua itu perlahan hilang seiring berjalannya waktu. Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam, melainkan perlahan, seperti jamur yang tumbuh diam-diam di balik batu, sampai akhirnya menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi diabaikan. Arthur Hawthorne berubah drastis. Sangat drastis.
Langkah kaki Selena terhenti saat ia mendengar suara mobil mewah memasuki halaman rumah, disusul bunyi pintu mobil yang dibanting cukup keras. Jantungnya berdebar kencang. Itu suara mobil ayahnya.
Ia melirik jam dinding yang menunjuk angka pukul delapan malam. Biasanya ayahnya pulang jam lima atau enam sore, tapi akhir-akhir ini, pulang lewat tengah malam adalah hal biasa, bahkan sering juga tidak pulang sama sekali dengan alasan perjalanan bisnis ke luar kota.
Dengan langkah pelan dan hati-hati, Selena berjalan menuju pintu kamar, membukanya sedikit, lalu mengintip keluar ke arah tangga utama. Dari posisinya, ia bisa melihat jelas sosok ayahnya yang baru saja masuk ke ruang tamu.
Arthur Hawthorne, pria berusia pertengahan lima puluh itu masih terlihat sangat gagah dan berwibawa, pakaiannya selalu rapi dan mahal. Namun, hari ini tatapan matanya terasa dingin, wajahnya kaku tanpa senyum sedikit pun, dan ada aroma wangi parfum yang sangat asing menguar dari tubuhnya. Bukan aroma parfum kayu-kayuan yang biasa ia pakai, melainkan aroma manis, sangat feminin, dan tajam. Aroma yang membuat perut Selena langsung terasa mulas.
"Arthur? Kau sudah pulang, Sayang?"
Suara lembut ibunya terdengar dari arah ruang makan. Isabella Hawthorne keluar dengan senyum manis yang selalu ia usahakan, meski matanya yang indah itu terlihat lelah dan pucat. Ibunya berjalan mendekati suaminya, berniat menyambut dan mencium pipinya seperti biasa.
Tapi respon Arthur membuat napas Selena tercekat di tenggorokan. Pria itu justru mundur selangkah, menghindar dari sentuhan istrinya, lalu meletakkan tas kulitnya di atas meja dengan kasar.
"Jangan sentuh aku, Isabella. Aku capek," ucap Arthur ketus, suaranya rendah namun penuh penekanan yang menusuk.
Senyum di bibir Isabella perlahan memudar. Ia mengerjap bingung, tangannya yang tadi terulur untuk menyambut suaminya kini jatuh lunglai ke samping tubuhnya.
YOU ARE READING
di balik topeng Sterling
RomanceDunia Selena Isolde Hawthorne runtuh saat ayahnya mengusir ia dan ibunya demi wanita lain. Terpuruk dalam kemiskinan dan kesedihan, ia bertemu Sergio Aguero Sterling, pria berkuasa yang menawarinya uang besar sebagai ganti hubungan singkat. Saat mer...
