Kedatangan

72 8 0
                                        

Di rabu sore itu, langit tertutup kabut. Gunung yang menjulang tinggi seakan bersembunyi di balik kabut, memberikan suasana indah tapi penuh misteri.

Sebuah mobil jeeb hitam berhenti di depan gapura sebuah desa yang ada di kaki gunung. Nama desa itu adalah Desa Wanasetra, sebuah desa kecil di kaki Gunung Arundaya. Desa yang paling dekat dengan gunung cantik tapi konon katanya penuh misteri.

Jalan di Desa Wanasetra belum dilapisi oleh aspal, masih tanah berbatu dan bergelombang. Mobil itu melaju pelan memasuki Desa Wanasetra. Belum ada rumah yang terlihat, hanya pepohonan rindang di sepanjang mata memandang.

"Ini betul desanya, Kak Bayu?" tanya salah satu pemuda yang duduk di bagian belakang bersama seorang wanita, dia bernama Lintang Saputra.

Orang yang dipanggil Kak Bayu mengangguk. "Betul, desanya masih ada di depan sana." jawab Bayu Narendra. Dia adalah yang paling tua diantara lainnya.

"Nggak mungkin juga Kak Bayu salah, dia yang paling hafal jalan sini." Nadine Prameswari menatap Lintang sinis.

"Dih, akukan cuma tanya. Lihat... Belum ada rumah kan?" Lintang menunjuk ke arah luar yang masih hutan.

"Sudah, belum saatnya bedebat." Lerai pemuda yang daritadi diam saja. Namanya Arga Pradipta. Dia adalah peneliti utama sekaligus pemimpin dalam penelitian ini.

Mendengar itu Lintang cemberut. "Nadine duluan yang mulai, Kak."

"Siapa juga yang mulai? Panggil aku Kak Nadine." Nadine sedikit meninggikan suaranya.

"Tidak mau, nenek lampir kok dipanggil kak." Jawaban Lintang semakin membuat Nadine geram.

Sebelum Nadine berbicara Bayu menengahi terlebih dahulu. "Sudah, jangan bertengkar lagi. Itu desanya di depan. Kita ke rumah Kepala Desa dulu."

Mereka berdua yang mendengarnya hanya saling menatap sinis. Arga hanya menggeleng pelan dengan tingkah kedua rekannya itu yang memang seperti kucing dan tikus. Untungnya mereka sangat profesional ketika bekerja, kalau tidak, entah bagaimana tim ini.

Mereka adalah peneliti dari Pusat Riset Vulkanologi Nusantara (PRVN) dari Ibu Kota, yang akan meneliti aktivitas Gunung Arundaya, gunung yang akhir-akhir ini menunjukkan aktivitasnya. Seperti gunung yang mulai bernafas kembali.

Mobil jeeb itu mulai melewati rumah rumah yang ada di desa. Rumah di sana hampir serupa, rumah bata yang nampak sederhana, dengan halaman yang luas, ada juga rumah-rumah kayu dengan pohon mangga di depannya. Semuanya nampak berbeda dari rumah-rumah bertingkat di kota. Memberikan nuansa yang tenang dan alami, belum terkontaminasi oleh polusi seperti Ibu Kota.

Mobil itu memasuki sebuah pekarangan rumah yang nampak lebih besar dari rumah yang mereka lewati. Rumah bata yang hanya satu lantai tapi memiliki halaman yang sangat luas. Mereka bisa melihat banyak pohon buah di halaman itu, yang kini sedang berbuah rimbun. Bahkan ketika Lintang turun dari mobil, dia sangat ingin mengambil buah jambu air yang sudah berwarna merah cerah. Dia fikir itu pasti sangat segar dan manis.

Nadine menyenggol lengan temannya itu, dia tau apa yang difikirkan bocah laki-laki yang satu tahun lebih muda darinya itu. Sedangkan Kak Bayu hanya terkekeh pelan.

"Ini rumah Pak Kepala Desa, jadi tolong jaga sikap kalian." ucap Arga dengan melirik Lintang dan Nadine. Nadine hanya membuang muka, sedangkan Lintang hanya terseyum lebar, menampilkan deretan giginya yang putih.

Mereka mengetuk pintu ganda rumah Pak Kades yang terbuka satu. Dari dalam terdengar sahutan suara perempuan, yang terdengar lembut. Tak lama muncul seorang wanita paruh baya, tapi masih tampak muda.

"Iya? Mas dan Mbaknya mau nyari siapa, ya?" tanya ibu itu dengan wajah ramah khas orang pedesaan.

"Permisi, Bu, Saya Arga, ini Kak Bayu, Nadine, dan Lintang. Kami dari lembaga penelitian di Ibu Kota yang ingin meneliti Gunung Arundaya. Kami ingin bertemu Pak Kepala Desa." jawab Arga dengan sopan.

Wanita itu tersenyum, "Oh, mau cari Bapak. Kalau jam segini bapak masih di ladang. Saya Lilis istrinya Pak Surya. Mari masuk dulu. Nanti biar Arjun, anak saya yang panggilkan bapak."

Wanita itu memberi izin pada mereka untuk masuk ke dalam, mereka duduk di sofa kayu yang ada di ruang tamu.

"Arjun!" Panggil Bu Lilis. Tak berapa lama seorang anak laki-laki yang mungkin masih berusia 14 tahun muncul.

Arjun menatap sekilas ke arah mereka kemudian kembali menatap ibunya. "Ada apa, Bu?"

"Tolong panggilkan Bapak. Ada orang dari kota yang mencari. Mereka mau meneliti Gunung Arundaya." pesan Ibu Lilis.

Arjun mengangguk, dia keluar rumah setelah berpamitan kepada mereka. Sedangkan Ibu Lilis pergi ke belakang untuk membuatkan para tamunya minuman.

Mereka melihat rumah yang sederhana tapi besar itu, mirip rumah-rumah jaman dulu yang sering mereka liat di internet. Ibu Lilis datang dengan minuman dan makanan, meminta tamunya untuk tidak sungkan.

"Mas dan Mbaknya sudah ada janji dengan Bapak?" tanya Ibu Lilis.

Arga mengangguk. "Sudah, hanya saja kami datang satu hari lebih awal, Bu."

Ibu mengangguk mengerti. Kemudian pintu diketuk yang ternyata itu Pak Surya dan Arjun.

"Maaf sudah menunggu lama, saya Surya Kepala Desa di sini. Saya dapat kabar kalau kalian datang besok." ucap Pak Surya setelah menyalami para tamunya.

Tampilan Pak Surya penuh wibawa, walaupun memakai baju sederhana, dia memiliki kesan seorang yang berbudi luhur.

"Saya Arga dan ini teman-teman saya. Kami yang seharusnya meminta maaf karena datang satu hari lebih cepat. Kami ke sini untuk meminta izin untuk melakukan pengamatan di Gunung Arundaya." Jelas Arga.

"Boleh, Pak Arga. Tempatnya juga sudah kami sediakan. Tapi sebelum melakukan pengamatan ada baiknya meminta izin pada penjaga gunung dulu." ucap Pak Surya yang membuat keempatnya saling pandang.

"Panggil saya Arga saja, Pak. Maksudnya Penjaga gunung itu apa, Pak?" tanya Arga yang tidak tau jika Gunung Arundaya ada penjaganya.

Pak Surya tersenyum lembut. "Penjaga gunung adalah orang yang paling dekat dengan gunung, seperti nafas dan nadi. Namanya Mas Damar, dia penjaga Gunung Arundaya dan juga Hutan Kalayatra, hutan larangan di Desa ini." tutur Pak Surya.

Setelah mendengar itu keempatnya mengangguk faham. Walaupun raut wajah Nadine sedikit berubah. Dia sangat tidak percaya dengan hal-hal mistis seperti ini. Tapi dia akan menghormati Pak Kades.

Lintang yang penasaran akhirnya berbicara. "Pak Surya, kenapa penjaga gunung disebut Mas? Bukankah biasanya disebut Mbah atau Ki?"

Ibu Lilis tertawa pelan, dia menjawab, "Mas Damar masih muda, usianya baru 30 tahun. Dia tidak ingin dipanggil Ki atau Mbah, yang katanya terlalu berat. Karena kami masih menghormatinya, jadi kami panggil Mas Damar saja." Ibu Lilis menjelaskan.

"Mari Mas dan Mbak, saya antarkan ke rumah Mas Damar." ajak Pak Surya. Mereka mengikuti Pak Surya dengan fikiran mereka sendiri. Mereka penasaran seperti apa sosok Mas Damar yang begitu dihormati, bahkan Pak Kades saja sangat hati-hati menyebut namanya.


Bersambung.......


Terima kasih sudah membaca💜

Orang yang Dipanggil Gunung [BXB]Stories to obsess over. Discover now