PURWAKA

6 4 0
                                        

Malam itu Ayu Sukma tidur dengan perut kosong dan isi kepala penuh sumpah serapah. Sedari sore bibinya terus mengomel perkara Ayu kedapatan bikin ribut di pasar, sampai satu kampung membicarakannya, seakan ia adalah kutukan berjalan yang sengaja dikirim untuk membuat orang lain susah. Ayu sebenarnya sudah biasa dimaki, sejak kecil hidupnya tidak pernah jauh dari kata "merepotkan", tapi entah kenapa malam itu semua omelan terasa lebih menyakitkan dari biasanya, seperti ada sesuatu yang mengimpit dadanya perlahan dari dalam.

Saat akhirnya ia bisa beristirahat di dipan bambu reyotnya, ditemani derik jangkrik dan bau got yang menguar dari gang belakang rumah, Ayu hanya memejamkan mata sembari berharap esok dunia akan lupa kalau dirinya pernah ada.

Awalnya mimpi itu terasa biasa saja, samar dan mengambang seperti mimpi-mimpi lain yang kehilangan maknanya begitu seseorang bangun tidur. Ayu merasa dirinya sedang berjalan di tengah kabut tipis yang dingin, sementara tanah di bawah kakinya becek seperti habis diguyur hujan semalaman. Udara di sekitarnya terlalu sunyi untuk tempat terbuka. Tidak ada ciapan burung malam, tidak ada hembusan angin, bahkan suara langkahnya seakan lenyap ditelan sesuatu di bawah tanah. Semakin jauh ia berjalan, semakin jelas terdengar gemericik air di kejauhan. Pelan dan teratur, seperti ada yang menuang cairan dari kendi tanpa henti.

Rasa penasaran membawa Ayu terus melangkah, sampai akhirnya kabut di depannya mulai memudar dan memperlihatkan sungai besar yang membelah kegelapan. Sungai itu bukan sungai biasa, airnya hitam pekat seperti tumpahan minyak, mengilap samar terkena cahaya entah dari mana. Permukaannya dipenuhi bunga kenanga yang hanyut perlahan mengikuti arus. Harum bunga yang seharusnya menenangkan, justru membuat Ayu mual luar biasa, aroma manisnya terlalu tajam, menusuk tenggorokan dan memenuhi paru-parunya.

Ayu berhenti di tepi sungai dengan jantung berdetak semakin cepat ketika alunan gamelan terdengar dari kejauhan. Pelan, nyaris samar, tapi setiap dentingannya terasa berat, seperti nada yang terkubur ratusan tahun dan dipaksa bangkit lagi malam itu.

Tung... tung... tung... tung...

Alunannya menggema lambat mengikuti aliran sungai hitam, membuat tengkuk Ayu merinding. Saat itu ia sadar kalau sungai di depannya tidak benar-benar kosong. Ada sesuatu yang bergerak samar di bawah permukaan air.

Napas Ayu tercekat saat matanya mulai beradaptasi dengan gelap dan menyadari apa yang tampak di depannya. Di bawah aliran sungai hitam berdiri puluhan tubuh manusia yang diam mematung, menghadap ke arahnya. Separuh badan mereka sudah berubah seperti batang pohon lapuk dengan akar menjalar keluar dari mulut dan rongga mata. Sebagian wajah mereka masih tampak seperti manusia, tetapi sisanya menjelma seperti kayu basah yang sudah retak, seolah tubuh mereka dipaksa menyatu dengan tanah tanpa sempat melebur sepenuhnya. Mereka hanya berdiri diam sambil menatap Ayu dengan sorot mata kosong, dalam keheningan yang lebih mengerikan dibanding jeritan.

Ayu mundur perlahan, langkah demi langkah, tapi tanah di belakangnya mendadak berubah lunak seperti lumpur hidup yang menelan kakinya perlahan. Pada saat bersamaan, kabut di seberang sungai mulai tersingkap dan memperlihatkan pohon beringin raksasa, berdiri di tengah aliran sungai. Akar-akarnya menjulur seperti tangan kurus yang mencari sesuatu untuk dimangsa. Dari sela akar yang menggantung, Ayu melihat sosok perempuan duduk membelakanginya, rambutnya terurai panjang hingga menyentuh permukaan sungai. Tubuh perempuan itu dibalut kebaya hitam kusam dihiasi sulaman emas yang pudar dimakan waktu, sementara serabut akar tipis tumbuh dari bahunya seperti urat hidup yang bergerak perlahan.

Tentu saja Ayu tidak mengenalnya, tapi ia merasa sangat familiar dengan sosoknya. Ada perasaan asing sekaligus akrab, seperti kenangan lama yang meluap dari dasar kepala. Perempuan itu berdiri perlahan, lalu menoleh ke arah Ayu dengan gerakan yang terlalu tenang untuk sesuatu yang muncul dalam sebuah mimpi buruk. Parasnya cantik luar biasa, jenis kecantikan yang bisa membuat bungkam. Matanya hitam legam, tanpa ada bagian putih sedikit pun. Seketika tubuh Ayu kaku seperti diguyur air sumur pada tengah malam.

Perempuan itu melangkah mendekat tanpa suara, akar-akar di sekitar sungai bergerak pelan mengikuti langkahnya. Saat sosoknya semakin mendekat, Ayu bisa mencium bau tanah basah bercampur bunga kenanga busuk yang menusuk hidung dan membuat dadanya sesak. Perlahan perempuan itu mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Ayu dengan lembut, sampai Ayu bisa merasakan ujung jemarinya yang dingin dan kasar seperti kulit kayu.

"Nduk..."

Suara perempuan itu menggema di dalam kepala Ayu. Lirih, serak, seperti datang dari tempat yang sangat jauh.

"Akhire, aku nemu kowe..."

Seketika sungai hitam berguncang keras, tubuh-tubuh di bawah air mulai bergerak bersamaan, membuka mulut mereka yang penuh akar menjalar. Suara lirih memenuhi udara seperti ribuan orang berdoa dalam bahasa asing. Ayu berusaha mundur, tetapi akar hitam mendadak keluar dari tanah dan melilit pergelangan kakinya. Dingin, basah, dan hidup. Ia panik setengah mati, meronta sambil berusaha berteriak. Tetapi suaranya hilang begitu saja seperti ditelan kabut.

Lalu perempuan itu tersenyum samar.

Detik itu Ayu sadar, sesuatu membuat darahnya serasa berhenti mengalir.

Wajah perempuan itu berubah, mirip dirinya.

Bukan sekadar mirip, Ayu seperti melihat bayangan dirinya sendiri dalam sosok yang lebih tua, dengan raut wajah sedih, dan jauh lebih menyeramkan. Bentuk mata, lengkung bibir, bahkan garis rahang yang sama persis. Hanya saja wajah perempuan itu dipenuhi kesunyian yang terlalu dalam untuk makhluk hidup. Sementara Ayu masih terpaku ketakutan, perempuan itu mendekat sampai bibirnya nyaris menyentuh telinga Ayu, kemudian berbisik pelan.

"Tanah sedang mengingat namamu, Ayu Sukma."

Ayu tersentak, terbangun tersedak napas. Tubuhnya basah oleh keringat, napasnya berantakan, dadanya sakit seperti habis ditindih batu besar semalaman. Di luar langit masih gelap, tapi bau tanah basah masih tertinggal jelas di kamarnya yang sempit. Dengan tangan gemetar Ayu menyentuh lehernya, memastikan semua itu hanya mimpi buruk biasa.

Namun begitu ujung jarinya menyentuh kulit dekat tulang selangka, tubuhnya membeku.

Ia merasakan sesuatu tumbuh di bawah kulitnya.

Tipis, kasar, menjalar seperti akar kecil yang hidup.


KERTANEGARI - Pagebluk Akar IrengCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang