Wusss..... Kegelapan pekat itu mendadak tersapu bersih.
Arka membuka matanya lebar-lebar. Langit-langit putih pudar. Pendar lampu neon. Dan..... krieeet... krieeet... suara kipas angin tua yang berdecit monoton.
Untuk sesaat, dia hanya bisa menatap kosong ke atas. Tubuhnya terasa ringan. Terlalu ringan. Tidak ada rasa sakit yang merobek saraf. Tidak ada rantai hitam yang mengekang. Tidak ada [Lingkaran Sihir]. Dan yang terpenting..... tidak ada darah yang terus ditarik keluar secara paksa dari nadinya.
Bruk! Arka langsung bangkit duduk. Jantungnya berdetak brutal menghantam tulang rusuk. Napasnya memburu rakus seolah baru saja tenggelam. Matanya bergerak liar menyapu segala arah.
Kamar berukuran sedang. Meja belajar berbahan serbuk kayu. Lemari pakaian tua. Tumpukan buku pelajaran sekolah. Dinding berwarna krem yang catnya mulai mengelupas.
Dia membeku. .....Tidak mungkin.
Tangannya bergerak secepat kilat, meraba dadanya sendiri. Tidak ada luka lebam. Tidak ada sayatan bekas operasi bedah. Tidak ada retakan energi akibat [Ekstraksi Paksa]. Tubuhnya utuh. Sempurna.
Ini adalah tubuh seorang remaja. Tubuh miliknya sendiri, yang sudah sangat lama hilang.
Arka menelan ludah dengan susah payah. Dia langsung melompat dan berlari menuju cermin seukuran badan yang tergantung di samping lemari. Pantulan seorang pemuda menatap balik ke arahnya.
Rambut hitam yang dibiarkan berantakan. Wajah yang jauh lebih muda, bersih, dan..... sepasang mata yang belum mengenal terlalu banyak keputusasaan.
Bibir Arka bergetar hebat. "Nggak..... mungkin....."
Bahkan suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. Sudah terlalu lama dia tidak mendengar pita suaranya menghasilkan nada selirih ini.
Lututnya mendadak kehilangan tenaga. Tubuhnya merosot jatuh, terduduk di lantai dingin dengan punggung bersandar ke lemari.
Pikirannya yang selama bertahun-tahun selalu tajam dan penuh kalkulasi, mendadak korslet. Ingatannya masih merekam semuanya dengan sangat jelas. Laboratorium keparat itu. Rantai. Darah. Tatapan kosong Darma. Keheningan Ratih. Wajah pucat Bima.
Lalu..... rentetan notifikasi itu.
[ The First Apostle's Descendant Confirmed. ]
[ Legacy Access Granted. ]
[ Opening: Chronicle of Niskala. ]
Arka memejamkan matanya kuat-kuat. Mimpi. Ya, ini pasti cuma mimpi. Ilusi terakhir otakku sebelum aku benar-benar mati.
Namun, saat jari-jarinya mencubit lengannya sendiri keras-keras— Akh! Rasa sakit itu mengalir ke sarafnya. Nyata. Sangat nyata.
Tok! Tok! Tok! Ketukan pintu tiba-tiba menggelegar, nyaris membuat Arka melompat. Jantungnya seakan berhenti berdetak selama satu detik penuh.
Lalu, sebuah suara yang teramat dihafalnya menembus daun pintu. "Arka?"
Itu Ratih.
Arka kembali membeku. Aliran darahnya terasa berubah menjadi es. Suara itu..... suara wanita yang telah menghantuinya di dalam ruang penyiksaan selama sepuluh tahun.
"Bangun. Nanti kamu terlambat sekolah." Ratih kembali mengetuk pintu, nadanya terdengar seperti seorang ibu yang normal.
".....Lima menit lagi, Bu." Jawaban itu meluncur keluar secara otomatis dari mulutnya. Persis seperti apa yang selalu dia katakan di masa lalu, seolah tubuhnya mengingat script dari sebuah cutscene lama.
Keheningan singkat menyelimuti balik pintu. "Kalau begitu cepat mandi." Langkah kaki Ratih terdengar perlahan menjauh.
Arka tidak langsung bergerak. Lama. Sangat lama. Dia hanya terdiam mengumpulkan pecahan kesadarannya. Sampai akhirnya, dia memaksa kedua kakinya yang masih gemetar untuk berdiri.
Dia melangkah gontai menuju jendela, lalu menarik tirainya. Srek!
Cahaya matahari pagi yang hangat langsung menerobos masuk, menyilaukan matanya. Pemandangan jalan perumahan yang tenang. Daun pepohonan yang bergoyang ditiup angin. Sepeda motor yang melintas santai. Siluet seorang tukang roti keliling di kejauhan.
Pemandangan yang sangat biasa, damai, dan membosankan. Pemandangan yang sudah tidak pernah dia lihat selama sepuluh tahun.
Arka menatap kosong keluar jendela. Ujung bibirnya perlahan berkedut..... lalu dia tertawa kecil. "Haha....."
Tawa itu semakin lama semakin membesar, memenuhi isi kamar. Sampai akhirnya berubah menjadi suara serak yang putus asa—tersangkut di antara histeria, tawa, dan tangisan.
Dia hidup. Dia benar-benar hidup. Ini bukan ilusi sihir. Ini bukan virtual reality.
Dia kembali. Kembali ke titik awal, jauh sebelum semua neraka itu dimulai.
Dengan gerakan tergesa, Arka menyambar ponsel pintar yang tergeletak di atas meja belajarnya. Tangannya sedikit gemetar saat menekan tombol power.
Layar menyala. Tanggal di lock-screen terpampang jelas di depan matanya. Dan dunia di sekitarnya, sekali lagi, berhenti berputar.
[ 15 Juli 2045 ]
Arka menatap deretan angka itu lekat-lekat. Sepuluh tahun. Dia benar-benar dilempar kembali sepuluh tahun ke masa lalu.
Tepat sebelum [Kebangkitan] massal terjadi. Sebelum [Kontrak Pertama]. Sebelum Turnamen berdarah itu. Sebelum Ekspedisi [Dungeon]. Sebelum pengkhianatan keluarganya. Dan yang pasti..... sebelum kematiannya.
Senyum tipis perlahan terukir di wajahnya. Bukan senyum bahagia. Bukan pula senyum lega. Melainkan seringai dingin dari seseorang yang akhirnya mendapatkan tombol Reset. Sebuah kesempatan kedua yang tidak pernah dia minta, namun..... dia bersumpah tidak akan pernah menyia-nyiakannya.
Klik. Arka mematikan layar ponselnya.
Tatapannya kini berubah tajam dan sedingin es. Kali ini aturannya berbeda. Dia membawa spoiler dari masa depan. Dia tahu siapa bajingan yang akan mengkhianatinya. Dia tahu siapa yang akan mati sia-sia. Dia tahu siapa yang akan menang.
Dan untuk pertama kalinya..... kartu As itu sepenuhnya berada di tangannya.
Namun, sebelum dia merencanakan balas dendam atau bersiap menghadapi apocalypse..... ada satu hal yang harus dia pastikan. Satu hal yang jauh lebih penting dari [Talent], sistem, ataupun nyawanya sendiri.
Arka kembali membuka ponselnya, langsung masuk ke galeri foto. Jemarinya bergerak cepat menggulir layar, mencari satu foto lama. Satu foto yang entah kenapa membuat napasnya tiba-tiba terasa sesak.
Ketemu. Di layar itu, seorang wanita tampak tersenyum cerah. Rambut hitamnya panjang terurai, dengan tatapan yang begitu hangat.
Ibunya. Sekar.
Arka menatap foto itu tanpa berkedip sedikit pun, lalu perlahan menutup kedua matanya. Tangannya mencengkeram ponsel itu erat-erat.
Karena di kehidupan sebelumnya, tepat pada tanggal ini..... wanita itu masih hidup.
Dan untuk pertama kalinya setelah kematiannya yang menyedihkan di masa depan, Arka merasakan sesuatu bergejolak di dalam dadanya. Sesuatu yang bahkan jauh lebih kuat daripada amarah dan dendam.
Harapan.
BINABASA MO ANG
WARISAN SANG NISKALA
FantasyArka Aditya mati di tangan keluarganya sendiri. Setelah sepuluh tahun membangun nama sebagai salah satu Beast Contractor terkuat Indonesia, semua yang ia miliki direnggut dalam satu malam. Talent S-Dragon miliknya diekstraksi. Beast kontraknya direb...
