Prologue

6 1 0
                                        

Ezhar Careem

Malam selalu datang terlalu cepat di rumah kami.

Atau mungkin rumah itu sendiri yang perlahan berubah menjadi malam.

Aku tidak begitu ingat kapan pertama kali aku menyadarinya. Ingatanku tentang masa kecil hanyalah potongan-potongan suara yang berjatuhan seperti piring pecah di dapur-suara ibuku menangis, suara ayahku membanting pintu, suara hujan yang memukul jendela dengan cara yang sama setiap malam, seolah langit pun sedang mencoba melarikan diri dari rumah itu.

Saat itu usiaku empat tahun.

Aku belum memahami arti perceraian.

Bahkan hingga sekarang, kata itu terdengar seperti nama penyakit yang diam-diam tumbuh di dalam dinding rumah dan memakan penghuninya sedikit demi sedikit. Yang kuingat hanyalah ibuku berjalan keluar sambil membawa koper abu-abu kecil, sementara aku berdiri di dekat meja makan dengan tangan memegang sendok plastik.

Ia tidak menoleh padaku.

Mungkin ia menangis. Mungkin tidak.
Aku tidak dapat memastikan, sebab bahkan pada usia itu aku sudah mulai kesulitan membedakan wajah manusia dengan cuaca.

Setelah kepergiannya, rumah menjadi sangat tenang. Tenang yang buruk. Tenang yang menyerupai lorong rumah sakit pada tengah malam. Ayahku masih tinggal bersamaku, tetapi sebagian besar dirinya seperti tertinggal di kantor-kantor luar negeri, di hotel-hotel asing, di bandara-bandara yang bahkan namanya tidak pernah mampu kuucapkan dengan benar.

Ia sering pergi sebelum matahari terbit dan pulang beberapa minggu kemudian dengan koper besar serta wajah lelah yang tampak seperti belum selesai dipakai seseorang.

Kadang ia membawakanku mainan.
Kadang ia lupa bahwa aku masih tinggal di rumah itu.

Namun aku tidak pernah membencinya. Aku tidak cukup mengerti bagaimana cara membenci seseorang. Emosi terasa terlalu rumit bagiku, seperti bahasa asing yang diajarkan pada anak yang bahkan belum belajar berbicara.

Aku hanya mulai memperhatikan sesuatu.
Bahwa menangis tidak mengubah keadaan. Bahwa ketakutan tidak menghentikan pertengkaran. Bahwa kesepian tetap tinggal bahkan setelah lampu dinyalakan.

Lalu perlahan, tanpa kusadari, aku mulai menutup sesuatu di dalam diriku.

Awalnya hanya sedikit.

Aku berhenti menangis ketika terjatuh. Berhenti merasa takut saat rumah gelap. Berhenti menunggu ayahku pulang tepat waktu. Berhenti berharap ibuku kembali.
Kemudian semuanya menjadi lebih mudah.
Atau setidaknya tampak lebih mudah.
Manusia sering mengatakan bahwa waktu menyembuhkan luka. Menurutku tidak. Waktu hanya mengajari tubuh bagaimana cara hidup bersama rasa sakit tanpa lagi mempertanyakannya. Seperti seseorang yang tinggal terlalu lama di dekat rel kereta hingga akhirnya tidak lagi mendengar suara bisingnya.

Aku tumbuh seperti itu.

Datar...

Di sekolah, aku belajar kapan harus tersenyum agar terlihat normal. Aku mempelajari bentuk wajah sedih dari orang lain dan menirunya ketika diperlukan. Saat teman sekelasku menangis karena ayahnya meninggal, aku menepuk pundaknya sebab semua orang lain melakukan hal yang sama. Namun di dalam diriku tidak terjadi apa-apa.
Kosong.

Seolah seseorang lupa meletakkan sesuatu di dalam dadaku sejak aku lahir.

Kini aku berusia dua puluh lima tahun dan bekerja di sebuah perusahaan perfilman sebagai staf lapangan. Pekerjaanku melelahkan. Aku mengangkat kabel, memindahkan properti, berdiri berjam-jam di bawah lampu yang panas, mendengar sutradara berteriak, mendengar aktor berpura-pura menangis di depan kamera.

Aneh sekali melihat orang-orang dibayar untuk menampilkan emosi yang bahkan tidak dapat kurasakan.

Kadang aku memandangi mereka terlalu lama.

Bagaimana seseorang bisa menangis hanya karena aba-aba?

Bagaimana dada mereka bisa sesak hanya karena kalimat dalam naskah?
Bagiku semua itu tampak seperti ritual asing yang dilakukan umat manusia untuk saling meyakinkan bahwa mereka masih hidup.

Setelah pekerjaan selesai, aku selalu pulang ke rumah yang sama. Rumah sunyi dengan lampu redup dan udara pengap yang tidak pernah benar-benar berubah sejak masa kecilku. Aku membuka pintu, melepas sepatu, lalu duduk di kursi kayu dekat jendela.

Dan menulis.

Aku tidak tahu mengapa aku menulis.
Mungkin karena hanya di atas kertas aku dapat menciptakan emosi yang tidak kumiliki. Tokoh-tokoh dalam novelku dapat jatuh cinta, merasa kehilangan, marah, hancur, memaafkan. Mereka hidup dengan cara yang tidak mampu kulakukan.

Namun tak satu pun novel itu selesai.

Setiap kali hampir mencapai akhir, aku merasa tokoh-tokohnya mulai terlalu hidup, terlalu manusiawi, dan itu membuatku takut. Maka aku berhenti menulis beberapa hari, lalu memulai cerita baru lagi dari awal.

Sudah bertahun-tahun seperti itu.
Tumpukan naskah memenuhi meja dan lantai kamarku seperti mayat-mayat kecil yang gagal dilahirkan.

Dan di antara semuanya, aku mulai menyadari satu hal yang perlahan menggangguku setiap malam:

Mungkin aku bukan seseorang yang kehilangan emosi.

Mungkin sejak awal aku hanya tidak pernah benar-benar menjadi manusia.

The Feelings WheelStories to obsess over. Discover now