PROLOG

35 1 0
                                        

Langit sore di akhir bulan Mei tampak muram di atas gedung SMA Negeri 5 Malang. Awan kelabu menggantung rendah, menutupi cahaya matahari yang sejak tadi berusaha muncul di sela-selanya. Udara terasa dingin setelah hujan singkat yang turun beberapa jam lalu, meninggalkan aroma tanah basah yang samar terbawa angin ke dalam kelas. Hari itu adalah hari terakhir bagi siswa kelas dua belas. Hari yang seharusnya dipenuhi rasa lega, tawa, dan rencana-rencana besar tentang masa depan.

Di dalam kelas, Raksa duduk di bangku paling belakang dekat jendela, memutar bolpoin di antara jemarinya tanpa benar-benar sadar. Kelasnya masih ramai, tetapi anehnya ia merasa terpisah dari semuanya. Teman-temannya tertawa sangat keras di hari itu. Mereka berbicara tentang universitas, jurusan, kota tujuan, dan rencana besar lain yang terdengar begitu yakin. Seseorang berkata ia akan masuk kedokteran seperti ayahnya. Yang lain sibuk membahas bisnis keluarga yang akan diteruskan setelah kuliah nanti. Semua orang terlihat sudah tahu akan dibawa ke mana hidup mereka setelah ini.

Tapi Raksa tidak.

Pandangan matanya jatuh ke halaman sekolah yang mulai lengang. Beberapa daun berguguran tertiup angin sore, berputar pelan di atas jalan basah sisa hujan semalam. Di luar sana, hidup terasa bergerak begitu cepat, sementara ia masih berdiri di tempat yang sama, bingung menentukan langkah pertama.

Guru wali kelas mereka menutup buku absensi, lalu berdiri di depan kelas sambil tersenyum kecil. "Sebelum kalian pulang, bapak cuma mau tanya satu hal", katanya pelan.

Suasana perlahan mereda.

"Kalau nanti kalian sudah benar-benar dewasa, kalian ingin jadi apa?"

Pertanyaan sederhana itu langsung disambut berbagai jawaban. Ada yang menjawab sambil bercanda dan disambut tawa satu kelas, ada yang menjawab penuh keyakinan, seolah masa depan memang tinggal dipilih seperti menu makanan. Raksa mendengarkan semuanya tanpa ikut berbicara. Entah kenapa, semakin banyak ia mendengar jawaban orang lain, semakin asing pertanyaan itu terdengar di kepalanya sendiri.

"Raksa?"

Ia tersadar ketika namanya dipanggil.

Beberapa temannya menoleh ke arahnya. Ada yang masih tersenyum, ada yang menunggu dengan penasaran. Raksa menegakkan badan pelan. Untuk sesaat, ia ingin menjawab apa saja agar semuanya selesai. Dokter, dosen, pengacara, apa pun. Sesuatu yang terdengar pasti. Sesuatu yang membuat orang lain berhenti bertanya.

Namun, kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

"...Saya belum tahu, Pak."

Jawaban itu keluar lebih pelan daripada yang ia kira.

Kelas mendadak terasa sunyi beberapa detik. Tidak ada yang menertawakan jawabannya, tetapi Raksa justru merasa itulah jawaban paling aneh di ruangan itu. Seolah semua orang sedang berlari menuju suatu tempat, sementara dirinya masih sibuk mencari alasan kenapa ia harus ikut berjalan.

Di luar, hujan akhirnya turun.

Titik-titik air memukul kaca jendela perlahan, menciptakan suara kecil yang berulang dan menenangkan. Raksa memandang ke arah langit yang semakin gelap sambil menghela napas tipis. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa yang paling membuatnya takut bukanlah masa depan.

Melainkan kenyataan bahwa selama ini ia hidup terlalu lama mengikuti arah orang lain sampai lupa bagaimana caranya mendengarkan dirinya sendiri.

Manusia SinggahStories to obsess over. Discover now