Blood Between Us

44 11 0
                                        

Pantulan wajah cantik Yoona memenuhi cermin besar dihadapannya. Beberapa staf salon langgannya tengah sibuk menyempurnakan penampilannya untuk acara malam ini. Menata rambut, merias wajah, merapikan kuku, bahkan menyiapkan aksesoris yang akan ia kenakan. Khusus untuk acara ini, Yoona mem-booking seluruh salon untuknya sendiri. Sementara itu Yoona hanya duduk dengan tenang di tempatnya. Sesekali senyum tipis terulas di bibirnya seolah tak ada yang salah. Berkebalikan dengan pikirannya yang amat kacau.

"Gaunnya sudah tiba, Nona," ucap salah seorang staf. Di belakang staf itu Yoona melihat sosok Joy dengan senyum lebarnya membawa gaun yang dimaksud.

"Am I late?" tanya Joy dengan ringan. "Aku sampai ngebut tadi supaya kamu nggak nunggu lama."

Yoona mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa gaunnya ada di tangan Joy? Untuk apa lagi perempuan itu datang mengusiknya? Seingat Yoona urusannya dengan Joy sudah selesai. Kabar terakhir yang dia dengar, setelah pertunangannya dengan Jaehyun batal, keluarga Salim membawa putri bungsunya itu ke luar negeri.

"Tinggalkan kami sebentar," pinta Yoona dengan tenang.

Para staf pun menghentikkan pekerjaan mereka sebelum satu per satu meninggalkan ruangan. Hingga akhirnya menyisakan Joy dan Yoona di sana.

"Aku cukup terkejut. Ku kira keluargamu telah membawamu pergi ke luar negeri."

Joy mendekat ke arah meja rias Yoona. "Aku menunda kepergianku," jawabnya santai. "Sebelum pergi aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu dengan Jaehyun."

Yoona memutar bola matanya malas. "I don't have time for you."

"I don't think so. At least not before you see this," bisik Joy sembari menggelengkan kepalanya.

"Little gift for you," ucap Joy pelan.

Perempuan itu meletakkan sebuah amplop di atas meja rias. Mensejajarkan posisinya dengan Yoona dan menurunkah pandangannya ke arah Yoona melalui pantulan cermin.

" Sebelum resmi menjadi bagian dari keluarga Adhyasta," lanjutnya.

"I do care about you. Jadi, aku rasa kamu harus mengetahui kebenarannya sebelum benar-benar memutuskan untuk menikah dengan Rajendra." Perempuan itu beralih pada sebuah kotak beludru yang ada di meja rias. Satu set perhiasan yang sudah disiapkan untuk dipakai Yoona malam ini. Joy mengambil kalung di kotak itu lalu memasangkannya pada Yoona dengan perlahan dan hati-hati.

"It suits you." Joy membenarkan posisi kalung yang sudah menggantung indah di leher Yoona sebelum senyum tipis kembali terulas di bibirnya. "Siapa yang sangka, kedua keluarga yang bermusuhan secara turun temurun itu bisa bersatu melalui pernikahan. I hope you can be the happiest bride."

Yoona tak mengatakan sepatah kata pun. Bahkan sampai Joy menghilang dari hadapannya. Yoona jelas tahu, tak ada ketulusan dalam perkataan dan senyum perempuan itu. Tanpa banyak berpikir, Yoona meraih amplop yang ditinggalkan Joy lalu membukanya.

Di dalam amplop itu terdapat sebuah foto lama dengan tulisan di belakangnya. Untaian kata yang terasa seperti pesan perpisahan.

Mungkin sejak awal hubungan kita memang tidak pernah ditakdirkan untuk bersatu.

Maaf karena aku tidak bisa menyelamatkan siapa pun malam itu.

Yoona kemudian membalik foto itu. Foto lama yang sudah menguning dan warnanya memudar dimakan waktu namun tak menghilangkan wajah jelas yang tercetak di dalamnya.

Bola mata Yoona melebar, melihat sosok yang dikenalinya. Seorang perempuan yang terlihat seperti seusianya melingkarkan tangannya pada lengan lelaki yang berdiri tegap di sebelahnya. Kepala perempuan itu sedikit condong, bersandar pada pundak lelaki yang terasa seperti tempat teraman dan ternyaman baginya. Tak lupa senyum lebar tersungging dari bibir keduanya memperlihatkan bahwa mereka adalah pasangan yang bahagia dan serasi. Adalah ibunya dan lelaki yang dikenalinya sebagai ayah dari calon suaminya sendiri.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 2 days ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

High SocietyStories to obsess over. Discover now