Hujan turun deras membasahi kawasan elite paling mahal di Jakarta malam itu. Kilatan petir menyambar langit gelap, memantulkan cahaya putih ke sebuah mansion yang berdiri jauh lebih megah dibanding rumah-rumah lain di sekitarnya. Mansion itu bukan sekadar rumah.
Bangunannya terlalu besar, terlalu mewah, terlalu sempurna untuk disebut tempat tinggal biasa.
Gerbang hitam setinggi tiga meter terbuka perlahan, memperlihatkan puluhan bodyguard berbaju serba hitam berdiri berjajar rapi di sepanjang jalan masuk. Tatapan mereka tajam, dingin, dan di tubuh masing-masing terdapat tattoo simbol yang sama—simbol aneh berwarna hitam pekat yang terukir di leher, tangan, bahkan dada mereka. Simbol milik satu orang. Simbol milik Fathin Mahesva Pradhana.
Nama itu bukan nama sembarangan. Semua orang mengenalnya. Media mengenalnya sebagai pengusaha muda paling berpengaruh di Asia, diplomat dengan koneksi luar negeri yang nyaris tidak masuk akal, investor besar dengan perusahaan yang tersebar di berbagai negara, pemilik rumah sakit, tambang, pelabuhan, perusahaan properti, hingga perusahaan keamanan bersenjata.
Namun di balik semua gelar mahal dan wajah elegan yang sering muncul di layar televisi, ada satu identitas yang tidak pernah tercatat secara resmi. Mafia. Dan bukan mafia biasa. Fathin adalah monster yang membangun kerajaannya sendiri dari nol.
Suara langkah sepatu terdengar menggema di lantai marmer mansion itu. Para pelayan langsung menunduk saat pria tinggi bertubuh kekar berjalan melewati lorong utama rumahnya. Kemeja hitam yang ia kenakan terbuka sedikit di bagian atas, memperlihatkan tattoo simbol yang sama di dadanya. Tatapan matanya tajam dan dingin, aura yang keluar dari dirinya cukup membuat orang-orang segan bahkan tanpa perlu bicara. Usianya hampir lima puluh tahun, namun tubuhnya masih terlihat seperti pria di usia tiga puluhan. Kekar, penuh urat, dan menyeramkan. Di tangan kirinya terdapat bercak darah yang bahkan belum sempat dibersihkan.
“Tuan, orangnya sudah diamankan,” ucap salah satu bodyguard dengan kepala tertunduk.
Fathin hanya melirik sekilas sambil membuka jam tangannya perlahan. “Kubur.”
“Baik, Tuan.”
Sesederhana itu. Satu kata dari Fathin bisa menentukan hidup seseorang. Karena di dunia ini, uang bisa membeli segalanya. Dan Fathin memiliki terlalu banyak uang untuk melakukan apa pun yang ia inginkan.
Namun semua aura mengerikan itu berubah sedikit saat suara seorang wanita terdengar dari lantai dua mansion. “Ayah habis bunuh orang lagi?”
Fathin mendongak. Seorang gadis cantik berdiri di tangga sambil menyilangkan tangan. Rambut hitam panjangnya jatuh rapi di bahu, wajahnya dingin dan elegan dengan tatapan tajam yang sangat mirip dirinya. Khanaya Hafizah Pradhana. Putri satu-satunya. Anak kesayangan keluarga. Dan satu-satunya wanita selain Farisha yang bisa bicara santai pada Fathin tanpa takut sedikit pun.
Fathin terkekeh kecil. “Enggak.”
“Bohong.”
“Ayah cuma bersih-bersih sampah.”
Khanaya memutar bola mata malas lalu berjalan turun dari tangga.
Di ruang tengah mansion, dua pria lain sedang ribut seperti anak kecil.
“BALIKIN KUNCI MOTOR GUE WOI!”
teriak seorang pemuda berambut sedikit acak-acakan sambil mengejar kakaknya.
“Gak.”
“BAGASKARA ANJING.”
“Bahasanya dijaga.”
Sebastian Haydar Pradhana, anak bungsu keluarga itu, berdiri kesal sambil mencoba merebut kunci motor miliknya.
Sementara Bagaskara Gheza Pradhana, anak pertama Fathin, duduk santai di sofa sambil memainkan kunci motor adiknya dengan wajah datar. Bagaskara sangat mirip Fathin—dingin, tenang, sulit ditebak, dan selalu terlihat berbahaya meski sedang diam.
Fathin memperhatikan ketiga anaknya dalam diam. Dan untuk pertama kalinya malam itu, tatapannya melembut sedikit. Tidak ada satu pun orang di mansion itu yang tahu bahwa pria yang sekarang ditakuti seluruh dunia ini dulunya hanyalah anak miskin yang hampir mati kelaparan di pinggir kota.
25 tahun lalu.
Fathin hanyalah seorang remaja berusia tujuh belas tahun yang tinggal di rumah reyot dekat pelabuhan Jakarta Utara. Atap rumahnya bocor, lantainya lembab, dan listrik mereka bahkan sudah diputus berhari-hari karena tidak mampu membayar. Malam itu hujan turun sangat deras. Ibunya terbaring lemah di kasur tipis sambil batuk darah, sementara Fathin duduk di lantai dengan tubuh penuh lebam akibat dipukuli preman pasar karena gagal membayar utang kecilnya.
“Thin…” suara ibunya terdengar lemah.
Fathin langsung mendekat. “Iya, Bu.”
“Ibu gak papa.”
Padahal jelas ibunya sedang sekarat.
Namun Fathin hanya diam. Karena apa yang bisa dilakukan anak miskin seperti dirinya? Mereka bahkan tidak punya uang untuk membeli obat. Malam itu Fathin keluar rumah sambil menahan tangis. Ia berjalan di bawah hujan tanpa tujuan sampai akhirnya berhenti di depan restoran mewah. Dari balik kaca, ia melihat keluarga-keluarga kaya tertawa sambil makan makanan mahal. Hangat. Bahagia. Sementara dirinya? Untuk membeli nasi satu bungkus saja ia tidak mampu.
Dan malam itu, sesuatu dalam diri Fathin berubah.
Tangannya mengepal kuat sambil menatap restoran itu dengan mata penuh kebencian.
“Gue gak akan miskin selamanya.”
Sejak malam itu, Fathin melakukan apa saja demi bertahan hidup. Ia menjadi kuli pelabuhan, debt collector, petarung jalanan, pembalap liar, bahkan kurir barang ilegal. Ia dipukul, ditusuk, dikhianati, dan hampir mati berkali-kali.
Namun satu hal yang tidak pernah hilang adalah keberaniannya. Fathin muda tidak pernah takut mati. Karena menurutnya, orang miskin seperti dirinya memang tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti.
Sampai akhirnya suatu malam di pelabuhan, Fathin berdiri sendirian di tengah hujan dengan tubuh penuh darah. Lima pria terkapar di tanah setelah mencoba membunuhnya. Nafasnya berat, tangannya gemetar, namun matanya tetap tajam. Dan di saat itulah seorang pria asing datang menghampirinya sambil bertepuk tangan pelan.
“Menarik juga lo.”
Fathin meludah darah ke samping. “Siapa lo?”
Pria itu tersenyum tipis. “Orang yang bisa mengubah hidupmu.”
Dan malam itu, Fathin masuk ke dunia yang tidak akan pernah bisa ia tinggalkan lagi. Dunia mafia.
YOU ARE READING
Empire of Pradhana's
Mystery / Thriller"gue gak akan miskin selamanya, ada masanya gue buat bangkit dan nunjukin sama dunia kalau gue bisa lebih kejam darinya" - Fathin Mahesva Pradhana.
