Bab 1 : Saat Retak Menjadi Cermin

6 0 0
                                        

Ada masa dalam hidupku ketika aku percaya bahwa cinta adalah rumah paling aman.

Tempat pulang.

Tempat di mana lelah berhenti, dan luka perlahan sembuh tanpa harus dijelaskan.

Aku benar-benar percaya itu—bahwa ketika seseorang datang dengan tatapan lembut dan kata-kata yang tenang, maka semua yang retak di dalam dada bisa menyatu kembali, seolah tak pernah pecah.

Aku salah.

Namanya Aruna.

Ia datang tidak dengan cara yang mencolok. Tidak dengan usaha berlebihan untuk menarik perhatian. Ia hadir seperti pagi yang bening—diam, ringan, tapi perlahan menghangatkan.

Pertama kali aku menyadari keberadaannya, ia hanya duduk di seberangku, memegang cangkir teh yang uapnya naik perlahan.

"Apa kamu selalu diam seperti ini?" tanyaku waktu itu, setengah bercanda.

Ia mengangkat sedikit pandangannya, lalu tersenyum tipis.

"Tidak juga," jawabnya pelan.
"Hanya... tidak semua perlu diucapkan."

Aku tertawa kecil. "Kamu aneh."

"Bisa jadi," katanya, tanpa tersinggung.

Sejak hari itu, entah kenapa, aku mulai terbiasa dengan kehadirannya.

Bersama Aruna, waktu terasa melambat.

Hal-hal kecil yang dulu tak pernah kuperhatikan tiba-tiba jadi berarti.

Seperti cara ia meniup teh sebelum meminumnya—perlahan, seolah takut panasnya menyakiti. Atau bagaimana ia lebih sering menatap langit dibanding menatap orang di depannya.

Kami sering duduk di taman kecil di belakang rumahku.

Tidak selalu berbicara.

Kadang hanya diam.

Tapi diam itu... tidak kosong.

Suatu sore, langit berubah jingga perlahan.

Aku menatapnya, lalu berkata,
"Kamu nggak bosan ya? Kita cuma duduk, nggak ngapa-ngapain."

Aruna menggeleng pelan.

"Kalau sama orang yang tepat, diam juga punya suara."

Aku mengernyit. "Suara apa?"

Ia menoleh sebentar. Tatapannya singkat, tapi dalam.

"Suara yang nggak semua orang bisa dengar."

Aku tidak sepenuhnya mengerti.

Tapi entah kenapa... aku merasa dimengerti.

Awalnya, aku tidak sadar kapan tepatnya aku mulai merasa nyaman.

Tidak ada momen besar. Tidak ada pengakuan.

Hanya kebiasaan.

Dan kebiasaan itu perlahan berubah jadi kebutuhan.

Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang tak bisa kujelaskan.

Sebuah jarak.

Bukan jarak yang terlihat.

Bukan juga karena ia dingin.

Tapi justru karena... terlalu banyak hal yang tidak pernah ia katakan.

Ia seperti menyimpan sesuatu.

Dan tanpa sadar, aku ikut belajar menyimpan juga.

Aku mulai berhati-hati dalam berbicara.

Memilih kata.

ARUNAStories to obsess over. Discover now