Aku sedang memikirkan, idealnya tamat sampai berapa bab yaa? wkwk
besok udah Senin lagi, males banget 😭
buat yg minta update tiap hari, sorry banget ya aku gak bisa. paling aku bisa update kalau weekend dan tanggal merah aja.😔
~vote komen juseyoo ~
*****
Lampu rumah utama masih menyala terang saat mobil Aksara memasuki halaman, namun suasananya terasa jauh lebih tenang. Setelah seharian penuh menghadapi meeting dan revisi proyek yang tidak ada habisnya, jujur saja kepalanya terasa berat.
Ia bahkan sempat berpikir rumah akan kosong ketika masuk. Begitu pintu utama terbuka, tatapannya langsung tertahan.
Luna tertidur di sofa ruang tengah. Televisi masih menyala pelan di depannya, sementara tubuh perempuan itu meringkuk nyaman sambil memeluk bantal kecil di dada. Rambut panjangnya sedikit berantakan menutupi sebagian wajah.
Aksara berhenti melangkah beberapa detik, entah kenapa pemandangan itu membuat rasa lelahnya sedikit hilang.
"Tidur di sini? tumben?" gumamnya pelan.
Pria itu berjalan mendekat perlahan lalu berdiri tepat di depan sofa. Tatapannya turun memperhatikan Luna yang terlihat begitu pulas. Bahkan bibir perempuan itu sedikit mengerucut saat tidur, sangat lucu.
Aksara menghela napas kecil sebelum akhirnya mencoba membangunkan Luna pelan.
"Luna."
Tidak ada respons.
"Luna, bangun."
Kali ini Luna bergerak sedikit.
Namun bukannya bangun, perempuan itu justru melenguh pelan sambil memeluk bantal lebih erat dan memiringkan wajahnya ke sisi lain sofa, seolah mencari posisi ternyaman.
Dan sialnya, itu malah membuat Aksara menahan senyum. Pria itu kembali menatap Luna beberapa detik dengan tatapan sulit dijelaskan. Ia sebenarnya bisa saja membangunkan perempuan itu lebih keras.
Tapi... Aksara jadi sungkan sendiri, karena Luna terlihat terlalu nyaman tidur begitu. Akhirnya setelah beberapa detik berpikir, Aksara menghela napas pendek sebelum membungkuk perlahan.
Satu tangannya menyelip di bawah lutut Luna. Tangan satunya menopang punggung perempuan itu, dan dengan mudah Aksara menggendong Luna dari sofa.
Tubuh Luna refleks bergerak sedikit mencari posisi nyaman begitu dipindahkan. Kepalanya malah bersandar otomatis di dada Aksara sambil menghela napas kecil dalam tidur.
Tatapan Aksara langsung melembut sepersekian detik. Namun, buru-buru kembali datar saat mendengar suara langkah kecil dari arah dapur.
Mbak Wulan dan Mbak Rini yang baru keluar langsung membeku di tempat.
Mata mereka membulat bersamaan, setelahnya melemparkan senyum mencurigakan. Karena pemandangan tuan rumah mereka menggendong istrinya malam-malam seperti ini terlalu manis untuk dilewatkan. Apalagi Luna terlihat tidur nyenyak di pelukan Aksara.
Sesampainya di kamar, Aksara berjalan pelan menuju ranjang sambil tetap menggendong Luna di pelukannya.
Lampu kamar yang remang membuat suasana terasa jauh lebih tenang. Hanya suara pendingin ruangan dan napas pelan Luna yang terdengar samar di dekat dadanya.
YOU ARE READING
Unexpected Husband || Chiopalmie
FanfictionHari pernikahan Aluna Sharma Wiguna seharusnya menjadi awal dari kehidupan barunya bersama Mahen Arsenio Altair, pria yang diam-diam ia sukai sejak masa kuliah. Namun semuanya berubah ketika mempelai pria itu tidak pernah datang. Di tengah kebingung...
