Rumah yang Tak Pernah Tenang

6 1 0
                                        

Malam ini hujan turun cukup deras. Membasahi jalanan kota dan membuat udara terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Suara rintiknya memenuhi balkon kamar Nayra Alesha Pradipta, bercampur dengan suara bentakan yang sudah terlalu sering ia dengar hampir setiap malam. Nayra hanya bisa menatap rintik air yang perlahan turun dari jendela kamar, membiarkan pikirannya kosong untuk sesaat.

Namun ketenangan itu tak bertahan lama.

Brak!

Suara sesuatu terjatuh dari lantai bawah membuat Nayra memejamkan mata pelan. Nafasnya tertahan beberapa detik, sebelumnya akhirnya ia mendengar suara pertengkaran yang begitu familiar di telinganya.

"Kamu tuh nggak pernah ngerti saya!"

"Terus kamu ngerti saya?!"

Lagi.

Gadis itu menarik selimutnya lebih tinggi, menutupi sebagian kepalanya meskipun ia tahu hal itu tidak akan membuat suara-suara itu menghilang.

Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.

Capek.

Bukan capek fisik.
Tapi capek harus mendengar semuanya terus-menerus.

Kadang hanya bentakan.

Kadang suara tangisan.

Kadang suara barang pecah.

Dan yang paling menyakitkan adalah ketika pagi datang, semuanya kembali terlihat biasa saja. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Nayra menatap langit-langit kamarnya dengan mata kosong. Rasa lelah itu kembali datang.

Bukan lelah karena sekolah.

Bukan lelah karena tugas.

Tetapi lelah karena harus terus hidup di rumah yang perlahan menghancurkan dirinya sedikit demi sedikit.

Ia justru lebih suka berlama-lama di sekolah daripada harus kembali ke tempat yang katanya "rumah".

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

Marvin Mahendra.

Marvin

Besok jangan ngilang lagi.

Nayra membaca pesan itu tanpa membalas.

Beberapa detik kemudian pesan lain masuk.

Cel juga nyariin lo.

Nafas Nayra keluar pelan.
Setidaknya masih ada dua orang yang sadar kalau dirinya tidak benar-benar baik-baik saja.


-


Keesokan paginya, Nayra turun ke meja makan dengan wajah datar seperti biasa. Rumah itu kembali berubah menjadi sunyi.

Semua terasa begitu normal sampai terkadang Nayra bertanya-tanya apakah semalam benar-benar terjadi atau hanya mimpi buruk.

Mira Valencia Pradipta (ibu Nayra) sedang membereskan piring tanpa bicara apa pun. Sedangkan Arkana Pradipta (ayah Nayra) sibuk memainkan ponselnya.

Sunyi.

Aneh ya?
Malamnya rumah itu penuh teriakan.
Paginya berubah seperti tidak terjadi apa-apa.

Tidak ada yang saling menatap.

Tidak ada percakapan hangat

Nayra berjalan mendekat sambil merapikan lengan seragamnya pelan.

"Aku berangkat."

Tidak ada jawaban.

Ibunya hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Sedangkan ayahnya tidak mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Dan anehnya, Nayra sudah terbiasa dengan semua itu.

"Ini bekal makannya, di habiskan ya sayang." ucap Mira sambil memberikan kotak makan bekal itu untuk Nayra.

Setiap pagi Mira selalu menyiapkan kotak bekal makanan untuk dibawa Nayra ke sekolah.

Nayra hanya tersenyum kecil.


-


"NAAYYYRRAAA!"

Suara teriakan heboh langsung menyambutnya begitu Nayra sampai kelas. Suara teriakan nyaring langsung membuat temen sekelasnya menoleh.

"WOI CELIN! BERISIK." teriak salah satu cowo yang sedang bermain game di ponselnya, yaitu Dika.

"IHH APASIH LO!! SUKA SUKA GUE!" balas Celine teriak.

Dika hanya memutar matanya malas tanpa memperdulikan ucapan Celine si cerewet itu.

Celine Aurora berlari kecil menghampiri Nayra sambil manyun.

"Lo kenapa semalem nggak bales chat gue, hah?"

Nayra terkekeh kecil sambil menggeleng pelan.

"Ketiduran."

Bohong.

Tapi Celine memilih tidak membahasnya.

Tak lama kemudian, Marvin Mahendra datang sambil membawa dua minuman dingin.

"Nih buat manusia paling susah dicari."

Nayra terkekeh kecil. Dan untuk pertama kalinya hari itu, senyumnya terlihat sedikit tulus.


-


Jam istirahat..

Nayra duduk di tribun belakang sekolah bersama Marvin, sementara Celine pergi ke kantin membeli makanan. Angin siang itu berhembus pelan, membuat suasana terasa cukup tenang.

Marvin membuka minumannya lalu melirik Nayra sekilas.

"Rumah lo ribut lagi?"

Pertanyaan itu membuat Nayra diam beberapa saat. Hanya Marvin yang tahu tentang keluarga Nayra, sedangkan Celine sama sekali tidak mengetahuinya. Marvin ini teman kecil Nayra, tak heran jika dirinya tahu soal ini.

Cowok itu memang selalu bisa menebak hanya dari ekspresinya.

"Biasa."

Jawaban singkat itu membuat Marvin menghela nafas pelan.

"Lo nggak capek?"

Nayra tersenyum tipis, tetapi senyum itu terlihat begitu dipaksakan.

"Capek."

Suasana mendadak hening.

"Tapi gue juga nggak tahu harus gimana lagi."

Marvin menatap Nayra beberapa detik sebelum akhirnya bersandar pelan ke kursi tribun.

"Lo nggak harus pura-pura kuat terus, Ra."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi entah kenapa, Nayra merasa dadanya sedikit sesak mendengarnya.

Karena selama ini, ia memang terlalu terbiasa menyimpan semuanya sendiri.

NAYSENStories to obsess over. Discover now