Bab 1 - Rutinitas Tanpa Makna

2 0 0
                                        

Alarm berbunyi pukul 05.30 pagi.

Arga tidak langsung bangun.

Bukan karena dia masih mengantuk. 
Tapi karena dia tidak merasa ada alasan untuk bangun lebih cepat.

Langit-langit kamarnya terlihat sama seperti kemarin. 
Retakan kecil di pojok atas. 
Cat yang mulai menguning. 
Kipas angin yang berputar pelan, seolah ikut lelah.

Dia menatapnya cukup lama... sampai suara dari luar kamar terdengar.

"Bangun! Jangan kebiasaan telat!"

Suara ibunya.

Arga menarik napas pendek, lalu menghembuskannya pelan. 
Bukan kesal. 
Bukan juga malas.

Lebih ke... kosong.

Dia akhirnya duduk di tepi kasur, menatap lantai. 
Dingin. Diam. Tidak ada yang berubah.

Seperti hidupnya.

---

Di meja makan, semuanya sudah berjalan seperti biasa.

Ayahnya membaca berita dari ponsel. 
Kakaknya bercerita tentang pekerjaan barunya—diselingi tawa kecil ibu mereka. 
Adiknya sibuk dengan sesuatu di layar, sesekali dimanjakan dengan pertanyaan ringan.

Arga duduk.

Tidak ada yang menyadari dia datang.

Atau mungkin... mereka sadar. 
Tapi tidak ada yang benar-benar peduli.

"Arga, nanti kamu jangan lupa bayar ini ya," kata ibunya sambil menyodorkan kertas.

Bukan pertanyaan. 
Bukan juga permintaan.

Lebih seperti... tugas yang memang sudah seharusnya dia lakukan.

Arga mengangguk.

"Ya."

Hanya itu.

Tidak ada lanjutan.

---

Di perjalanan ke kampus, Arga duduk di angkot, menatap keluar jendela.

Orang-orang berjalan. 
Motor lewat tanpa henti. 
Pedagang membuka lapak. 
Semua terlihat... hidup.

Dan anehnya, itu justru membuatnya merasa semakin jauh.

Seperti dia ada di dunia yang sama— 
tapi tidak benar-benar menjadi bagian dari itu.

---

"Ga, tugas yang kemarin udah?"

Suara temannya menariknya kembali.

Arga menoleh sedikit. 
"Udah."

"Gila sih, lu cepet banget."

Arga hanya mengangkat bahu.

Bukan karena dia rajin.

Tapi karena... 
dia tidak tahu harus melakukan apa lagi.

---

Di kelas, dosen menjelaskan sesuatu di depan.

Angka. Diagram. Sistem.

Arga mengerti.

Bahkan mungkin lebih cepat dari yang lain.

Tapi di tengah semua itu, ada satu pikiran yang terus muncul, pelan tapi konsisten:

"Untuk apa?"

---

Siang hari, setelah kelas selesai, Arga tidak langsung pulang.

Kakinya berjalan tanpa arah jelas.

Sampai akhirnya dia berhenti.

Di depan sebuah jalan kecil.

Jarang dilewati orang. 
Dipenuhi pohon. 
Sedikit lebih gelap dari sekitarnya.

Aneh.

Tempat ini terasa... familiar.

Arga mengernyit.

Dia yakin... 
dia pernah ke sini.

Tapi kapan?

Dan kenapa dia tidak pernah ingat sebelumnya?

---

Dia melangkah masuk.

Daun-daun kering berbunyi di bawah kakinya. 
Udara terasa lebih dingin. 
Dan entah kenapa... lebih sunyi.

Beberapa langkah ke dalam, dia berhenti lagi.

Di sana.

Sedikit tertutup semak dan bayangan pohon.

Sebuah bangku.

Kayu tua. 
Usang. 
Seolah sudah lama sekali tidak disentuh.

Jantung Arga berdetak sedikit lebih cepat.

Bukan karena takut.

Tapi karena... sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.

Perasaan yang aneh.

Seperti menemukan sesuatu yang hilang. 
Tapi tidak ingat kapan kehilangannya.

---

Dia mendekat perlahan.

Tangannya hampir menyentuh permukaan bangku itu... 
lalu berhenti.

Satu pikiran muncul, tiba-tiba:

"Kalau gue duduk... sesuatu bakal berubah."

Arga langsung menarik tangannya.

"Apaan sih..."

Dia menggeleng pelan, hampir menertawakan dirinya sendiri.

"Cuma bangku doang."

---

Tapi dia tidak pergi.

Dia tetap berdiri di sana.

Menatap bangku itu lebih lama dari yang seharusnya.

Seolah... menunggu sesuatu.

Atau mungkin... 
menunggu dirinya sendiri untuk mengingat.

---

Angin berhembus pelan.

Daun bergerak.

Dan untuk sesaat—

Arga merasa... 
tempat itu sedang "melihatnya kembali."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 29 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Bangku Kayu TuaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang