Suara dentingan gelas terdengar samar di antara musik jazz yang mengalun pelan.
Lampu-lampu redup berwarna keemasan membuat seluruh ruangan bar itu terasa hangat, meski udara malam di luar begitu dingin.
Orang-orang tertawa, berbicara, saling menatap dengan cara yang terlalu akrab untuk disebut kebetulan.
Alya duduk sendiri di sudut ruangan.
Jari-jarinya melingkari gelas kristal berisi amber cair yang belum benar-benar ia minum sejak lima belas menit lalu. Ia menatap pantulan dirinya di permukaan liquor itu, lalu tersenyum kecil.
Pahit.
Sama seperti malam-malam yang beberapa bulan terakhir harus ia lalui.
“Masih tidak suka rasanya?”
Sebuah suara pria terdengar di sampingnya.
Alya menoleh.
Seorang pria berdiri di sana dengan kemeja hitam yang lengan bajunya tergulung rapi sampai siku. Wajahnya tegas. Tatapannya tenang. Terlalu tenang hingga membuat jantung Alya berdetak aneh tanpa alasan.
Pria itu menunjuk gelas di tangan Alya.
“Kalau memang tidak suka, kenapa memesannya?”
Alya mengangkat satu alis. “Kalau saya bilang saya hanya ingin terlihat baik-baik saja?”
Pria itu tersenyum tipis. “Berarti kita punya alasan yang sama.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Alya benar-benar menatap seseorang.
Pria itu tinggi, berwajah tampan dengan sorot mata gelap yang sulit dibaca. Ada sesuatu tentang dirinya—sesuatu yang membuat Alya merasa pria itu bukan tipe orang yang datang ke bar hanya untuk menikmati malam.
Ada luka di matanya.
Luka yang terlalu familiar.
“Boleh saya duduk?” tanyanya.
Alya seharusnya berkata tidak.
Ia tidak pernah menyukai orang asing. Tidak pernah nyaman dengan percakapan tak perlu. Dan jelas tidak pernah tertarik pada pria yang terlihat seperti masalah sejak pandangan pertama.
Namun entah kenapa, malam itu berbeda.
Alya mengangguk pelan.
Pria itu duduk di sebelahnya, lalu memesan segelas bourbon tanpa melihat daftar menu, seolah bartender sudah hafal siapa dirinya.
“Nama saya Reynard,” katanya sambil mengulurkan tangan.
Alya menatap tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menyambutnya.
“Allya.”
Sentuhan singkat itu seharusnya biasa saja.
Namun anehnya, sentuhan itu terasa seperti awal dari sesuatu yang bahkan belum sempat mereka pahami.
Dan Alya belum tahu, bahwa malam dengan segelas liquor itu akan mengubah hidupnya selamanya.
Alya melepaskan tangannya perlahan, tetapi anehnya sensasi dari sentuhan singkat itu masih tertinggal di ujung jarinya.
Seolah tubuhnya mengingat sesuatu yang bahkan belum sempat terjadi.
Reynard menyesap bourbon-nya tanpa tergesa. Gerakannya tenang, nyaris terlalu tenang untuk seseorang yang duduk berdampingan dengan wanita asing di tengah malam.
Alya melirik sekilas.
“Jadi,” katanya sambil memutar gelas kecil di tangannya, “apakah kamu memang selalu duduk di samping wanita yang sedang sendirian?”
YOU ARE READING
Pahitnya Liquor, Manisnya Luka.
Romance"Aku tidak jatuh cinta padanya. Aku hanya terlalu lama menatap matanya... dan terlambat menyadari kalau aku sudah tenggelam." Alya datang ke bar malam itu hanya untuk melupakan. Bukan untuk bertemu seseorang. Bukan untuk bertemu Reynard- pria dengan...
