Disclaimer
Cerita ini 100% merupakan karya fiksi. Seluruh tempat, latar, maupun desa yang terdapat di dalam cerita tidak berpatok pada lokasi nyata mana pun. Semua murni merupakan hasil imajinasiku.
Cerita ini mengandung unsur boy love (BL) serta konsep Mpreg (Male Pregnancy). Bagi yang tidak menyukai genre ini diharapkan untuk tidak melanjutkan membaca.
Alur, serta peraturan yang ada dalam cerita tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi dunia nyata, karena telah disesuaikan dengan kebutuhan cerita.
Selamat membaca❤️
Langit perlahan meredup, menyisakan warna jingganya. Udara mulai turun, dinginnya merayap menyentuh kulit siapapun yang masih bertahan di luar.
Di depan sebuah rumah besar, seorang pemuda cantik berdiri diam. Tatapannya lurus kedepan, mengabaikan udara dingin yang menusuk itu. Jemarinya menggenggam gerbang yang dulu selalu terbuka untuknya.
Tapi kini, semuanya tak lagi sama. Gerbang itu tertutup rapat, terkunci oleh gembok. Sekarang rumah di hadapannya bukan lagi miliknya.
Halaman luas yang dulu akrab dengan setiap langkahnya kini terasa begitu jauh. Ia hanya mampu membalasnya dengan senyum hampa. Mencoba menerima sesuatu yang begitu saja lepas dari genggamannya.
Namun, kenangan datang tanpa permisi, berdesakan memenuhi benaknya. Potongan-potongan hari sebelum semuanya berubah menyeruak - saat tawa masih berada di setiap sudut rumah, dan ia masih hidup utuh bersama kedua orang tuanya.
Beberapa hari sebelumnya, hidupnya sudah lebih dulu runtuh, tepat saat kabar itu sampai padanya. Kabar dimana orang tuanya pergi untuk selamanya karena sebuah kecelakaan.
Seolah belum cukup, takdir masih menyeretnya lebih jauh ke bawah. Satu per satu aset yang ditinggalkan orang tuanya diambil. Perusahaan, bahkan rumah yang selama ini ia anggap tidak akan pernah lepas dari genggamannya juga direnggut tanpa sisa.
Disita, dibekukan. Lenyap begitu saja dari genggamannya.
Bukan tanpa sebab. Kini ia mengetahuinya. Di balik kemewahan yang selama ini ia jalani, orang tuanya menyembunyikan retak yang begitu rapi, perusahaan yang perlahan goyah, keadaan yang tak lagi sekuat di permukaan.
Namun ... walaupun sejak awal ia mengetahui hal itu. Mungkin dirinya tetap tidak akan mampu berbuat banyak.
Sebab, segala sesuatu sudah disiapkan dengan begitu sempurna bahkan sebelum ia lahir. Dan saat ia hadir ke dunia, yang dikenalkan padanya hanyalah kemewahan, tanpa pernah diberi ruang untuk memahami bagaimana semuanya bertahan.
Pantas saja, beberapa waktu lalu para pekerja dan bodyguard di rumahnya diberhentikan. Tidak semua, tapi cukup banyak. Saat itu ia hanya sempat merasa heran, namun tidak cukup kuat untuk membuatnya bertanya. Ia memilih diam, mengabaikannya begitu saja.
Napasnya tersendat, tersangkut di tenggorokan karena terlalu larut dalam semua yang menyesak. Tangannya mengepal, lalu perlahan melemah. Air mata jatuh tanpa suara, mengalir begitu saja.
Ia tidak pernah terbiasa dengan kehilangan. Tidak pernah diajarkan bagaimana rasanya terjatuh. Dan kini, dirinya harus merasakan jatuh begitu dalam, seperti tak lagi menemukan dasar untuk berpijak.
"Daddy ... Mommy ... setelah ini Ixia harus bagaimana?" Suaranya lirih, nyaris hilang tertelan angin.
Tanpa ia sadari, di kejauhan seseorang memperhatikannya. Berdiri dengan jarak yang cukup - cukup untuk tidak mengganggu.
YOU ARE READING
Navjeevan || Niskala Kiran
General FictionIxia Kiran Adipratama Dulu, ia adalah satu-satunya putra kesayangan, hidup dalam kehangatan yang utuh dan dikelilingi kasih melimpah. Namun segalanya berubah dalam sekejap. Satu peristiwa merenggut semuanya, Orang tuanya pergi dalam kecelakaan yang...
