Pagi di kota kecil itu berjalan seperti biasa tenang, nyaris membosankan bagi sebagian orang, tapi justru itulah yang dicari Antonius Leander selama sepuluh tahun terakhir.
Langkahnya teratur menyusuri lorong sekolah negeri yang sudah sangat ia hafal. Dinding-dindingnya sederhana, catnya mulai memudar di beberapa bagian, dan suara riuh anak-anak memenuhi udara. Tidak ada kemewahan, tidak ada tekanan sosial seperti di kota besar tempat ia dulu tumbuh hanya rutinitas, dan ketenangan yang ia bangun sendiri.
Toni tidak pernah benar-benar melupakan masa lalunya. Ia hanya... menaruhnya di tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun. Perasaan yang dulu begitu besar kini berubah menjadi sesuatu yang sunyi tidak lagi menyakitkan, tapi juga tidak benar-benar hilang.
Ia berhenti sejenak di depan kelas, hendak membuka pintu, ketika-
Bruk!
Tubuhnya sedikit terdorong ke belakang akibat tabrakan kecil.
Seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun berdiri di depannya dengan wajah kesal, seragamnya sedikit berantakan, dan tatapan yang terlalu "tinggi" untuk anak seusianya.
Damianus Marvolo.
Nama yang sudah cukup terkenal di sekolah ini.
"Pak Toni menghalangi jalan sih! Menyebalkan sekali, dasar!" kesal Damian tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Toni menatapnya datar. Tidak ada perubahan ekspresi, tidak ada amarah yang meledak justru itulah yang membuatnya terasa lebih "menekan".
Tanpa banyak bicara, tangannya langsung terangkat dan menjewer telinga Damian dengan cukup tegas.
"Kau harus dihukum, bocah nakal," ujarnya singkat.
"Tidak! Jangan! Lepaskan aku, dasar pak guru kejam!" Damian meronta, mencoba menarik dirinya menjauh, tapi cengkeraman Toni tidak bergeser sedikit pun.
Beberapa murid lain yang melihat kejadian itu langsung berbisik-bisik pelan. Ini bukan pertama kalinya Damian membuat masalah... tapi tetap saja, melihatnya "ditaklukkan" bukan hal yang biasa.
Toni menunduk sedikit, menatap Damian tepat di matanya.
"Kalau kau punya energi untuk berlari di lorong dan menabrak guru," katanya tenang, "seharusnya kau juga punya energi untuk belajar dengan benar di kelas."
Damian mendengus kesal. "Aku tidak butuh belajar! Aku sudah tahu semuanya!"
Alis Toni sedikit terangkat, nyaris tak terlihat.
"Oh ya?" balasnya ringan. "Kalau begitu, sebutkan padaku hasil dari dua puluh tujuh dikali empat belas."
Damian terdiam.
Beberapa detik.
Lalu ia memalingkan wajahnya dengan kesal. "Itu... itu tidak penting!"
Toni menghela napas pendek, lalu sedikit mengendurkan jewerannya bukan karena kasihan, tapi cukup untuk membuat anak itu berhenti meronta.
"Semua yang kau anggap tidak penting," ucap Toni pelan, "biasanya adalah hal yang paling tidak kau kuasai."
Damian menatapnya tajam, jelas tidak suka dengan perkataan itu. "Aku tidak peduli," gumamnya, meski nadanya sedikit lebih rendah dari sebelumnya.
Toni akhirnya melepaskan telinganya.
Damian langsung mundur selangkah, memegangi telinganya dengan wajah kesal.
"Masuk kelas," perintah Toni singkat.
"Aku tidak mau-"
"Sekarang." Nada suara Toni tidak keras, tapi tegas. Tidak memberi ruang untuk dibantah.
Damian menggigit lidahnya, lalu berjalan masuk ke kelas dengan langkah kasar, sengaja menghentakkan kakinya.
Namun sebelum benar-benar masuk, ia berhenti sebentar di ambang pintu, tanpa menoleh. "Pak Toni memang menyebalkan," gumamnya pelan.
YOU ARE READING
Save My Student
General FictionKisah Antonius Leander seorang guru SD di salah satu kota kecil dengan murid nakal yang membuat dia penasaran mengapa dia begitu sangat arogan. Semakin Toni gali ternyata murid nakal itu memiliki sisi yang membuat dia memakai topeng arogannya selama...
