1. HARI PERTAMA

10 1 0
                                        

Happy reading>_<

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

Happy reading>_<










Suasana baru dan hari baru, Anintya berharap dengan berpindah nya tempat tinggal, dirinya mendapatkan suasana baru ataupun hal baru dalam hidupnya.

Gadis tersebut keluar dari kamar, dirinya tergesa-gesa memakai sepatu sekolah nya, matanya melirik pada arloji yang di pakai menunjukkan pukul 08.56am.Gawat, anintya sudah terlambat ke sekolah, padahal ini hari pertama ia masuk ke sekolah barunya.

"Ma! anintya pergi dulu- akh!"

Sang mama lantas berlari dari dapur saat mendengar pekikan anak perempuan nya itu, dengan rasa khawatir wanita itu mendekat.

"Aduh, pelan-pelan dong mangkanya jangan lari"

Anintya mengusap kaki yang tersandung kardus-kardus bawaan barang pindahan yang belum di rapihkan sepenuhnya, kardus dengan berbagai ukuran masih berserakan di dalam ruang tamu tersebut.

"Nggak apa-apa, ma. Anintya udah terlambat banget ini, aku pergi dulu!"

Gadis tersebut berlari keluar rumah, saat kakinya menginjak di halaman rumah untuk pertama kali, matanya melirik pada kardus di depan rumah yang masih banyak dan belum di masukan ke dalam rumah.

Melihat itu anintya memutar bola mata malas dan langsung berlari kencang menuju ke halte bus sekolah. Beberapa menit menempuh perjalanan, dirinya sampai di sekolah, benar saja gerbang sekolah itu sudah tertutup rapat dan di jaga oleh siswa, buka lain adalah anggota osis di sana.

Anintya melirik sedikit, melihat ada beberapa siswa yang terlambat juga dirinya mengembuskan napas lega, bukan hanya dirinya saja yang terlambat, ternyata yang lain pun sama. Kemudian kakinya melangkah ke depan gerbang dan berdehem.

"Permisi, masih ada yang ketinggalan ini di luar"

Salah satu anggota osis menoleh, lalu melirik pada seorang laki-laki dan menyikut lengan nya memberi isyarat. Yang di sikut pun menoleh dan melirik ke arah luar gerbang, dirinya menghela napas panjang, berjalan ke arah gerbang sambil melihat arloji yang di pakai.

Saat gerbang itu di buka anintya tersenyum lebar, kaki nya melangkah dengan enteng meninggalkan siswa laki-laki tersebut, sontak siswa itu langsung membalikkan badan dan mengangkat tas sekolah yang di pakai anintya.

"Mau kemana?"

Satu pertanyaan dan tarikan itu membuat anintya menoleh dan mengerutkan alisnya. "Mau ikut baris lah sama yang lain"

Siswa laki-laki tersebut menghela napas pelan, belum melepaskan tangannya di tas anintya, matanya mengamati penampilan gadis itu dari atas sampai bawah. Ya, dia adalah Keannu Revvanu Gibranta, ketua osis di sekolah tersebut.

TETANGGA SEBELAH Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora